Di
negeri Portibi, jalan berlubang lebih setia daripada janji pemimpinnya. Pada
musim hujan ia menjadi kubangan, pada kemarau berubah menjadi debu yang masuk
ke paru-paru rakyat. Semua tahu jalan itu rusak, semua mengeluh, tapi tak ada
yang benar-benar berharap diperbaiki.
Di alun-alun berdiri
patung Tiran, penguasa negeri, dengan slogan kemakmuran yang terasa seperti
lelucon. Harga kebutuhan naik perlahan, air bersih dijual mahal oleh pemerintah
sendiri. Yang disebut pembangunan ternyata hanyalah pembangunan jarak antara
perut kenyang dan perut lapar.
Di
kampung kecil Aek Sipangolu hidup dua anak bersaudara: Pospos dan Barani.
Pospos
dikenal sebagai Si Jujur, bukan karena ia sempurna, tetapi karena ia tak bisa
menyembunyikan kesalahan. Barani adalah Si Berani, anak yang tak pernah takut
pada orang yang seharusnya ditakuti. Mereka bersahabat—jujur dan berani, dua
sifat yang berbeda tapi saling melengkapi.
Ayah
Pospos adalah polisi hutan yang menjaga sumber air dan hutan. Belakangan ia
gelisah karena menemukan sesuatu: sumber air Aek Sipangolu semakin mengecil.
Banyak pipa-pipa air yang menyedotnya ke Perusahaan air minum dan vila-vila di
bukit-bukit. Hutan disekitar juga semakin menyusut, kabarnya tanah-tanah hutan
itu sudah dialihfungsi untuk rencana pembangunan tambang. Dulu sangat banyak
mata air mengalir dari Pegunungan sekeliling Aek Sipangolu, anak-anak bermain
air sembari mengambil air bersih untuk pulang. Air mata air bisa langsung
diminum dan segar sekali. Tapi kian hari air semakin sedikit. Perusahaan air
semakin besar. Akses air untuk rakyat tinggal sedikit, lalu entah sejak kapan
warga Desa Aek Sipangolu lama kelamaan bergantung dengan air kemasan. Ayah
Pospos Ia menolak menandatangani dokumen lingkungan untuk perluasan Perusahaan
Air dan Tambang.
Beberapa hari kemudian,
ia dipecat tanpa alasan jelas.
Tak lama setelah itu,
saat pergi ke pasar, ayah dan ibu Pospos diserang orang tak dikenal. Tidak ada
barang yang diambil. Di rumah sakit, mereka dibiarkan menunggu sampai “biaya
awal” diberikan. Ibunya meninggal. Ayahnya selamat, tetapi ingatannya rusak.
Sebelum tenggelam dalam
kesadarannya, ia hanya berulang-ulang berbisik:
“Aek Sipangolu… jangan
jual…”
Bara curiga ini bukan
begal biasa. Kecurigaan itu terjawab saat seorang lelaki tua mengungkapkan
kebenaran: pemerintah sengaja membuat air langka untuk dijual mahal. Siapa yang
melawan dipecat, dibungkam, atau “dihilangkan”.
Dari situlah perjalanan
Pospos dan Barani dimulai.
Mereka berkeliling desa
membawa catatan ayah Pospos: peta air, hutan, data, bukti korupsi. Mereka
melihat sendiri penderitaan rakyat—sawah kering, air mahal, hutan rusak, harga
melambung.
Orang-orang mengeluh:
“Pupuk mahal.”
“Air mahal.”
“Jalan rusak.”
Namun saat diajak
melawan, mereka menunduk:
“Kami punya anak.”
“Kami takut.”
“Tiran masih satu marga
kami”
Pospos mulai goyah. Ia
membawa kebenaran, tetapi kebenaran itu tak menyelamatkan ibunya, tak
menyembuhkan ayahnya. Sementara Barani semakin marah dan ingin melawan dengan
kekerasan.
Suatu malam mereka
bertengkar.
Barani ingin membakar kantor perusahaan air.
Pospos menolak.
“Membakar itu putus
asa,” kata Pospos.
“Diam itu kelemahan,”
balas Barani.
Mereka berpisah.
Beberapa hari kemudian,
Barani ditangkap.
Pospos mencoba
membebaskannya dengan menunjukkan bukti, tetapi ditertawakan.
“Kebenaran?” kata
penjaga. “Di negeri ini, yang benar adalah yang berkuasa.”
Di rumah, ayahnya yang
sekarat memberikan sebuah kunci. Di loker perpustakaan desa, Pospos menemukan
bukti lengkap: rekaman, dokumen, nama pejabat, dan pesan terakhir:
Kejujuran tidak cukup
jika hanya diucapkan. Ia harus sampai ke telinga banyak orang. Carilah
keberanian yang bisa menular.
Saat itulah Pospos
mengerti: ia dan Barani tidak berbeda. Mereka hanya memegang dua sisi dari hal
yang sama.
Keesokan harinya,
Pospos berdiri di depan penjara dan mulai membacakan semua kebenaran dengan
suara keras.
Tentang air yang
dirampas.
Tentang harga yang
dimanipulasi.
Tentang rakyat yang
dibuat haus.
Tentang ibunya yang mati.
Awalnya orang hanya
melihat. Lalu satu orang berhenti. Lalu dua.
Dari dalam penjara,
Barani berteriak:
“Jangan berhenti!”
Satu per satu orang
mulai bicara. Seorang ibu, seorang petani, seorang perawat. Suara mereka saling
menyambung.
Gerakan itu menyebar.
Rakyat menolak membeli
air mahal. Mereka membongkar pipa-pipa sumber air yang dipagari. Jalan ditutup
untuk truk-truk Perusahaan pengangkut kayu hutan. Guru, perawat, dan warga
mulai bersuara.
Tiran marah.
Penangkapan terjadi. Kekerasan meningkat. Namun gerakan itu sudah berubah:
bukan satu ledakan besar, tetapi ribuan keberanian kecil.
Akhirnya penjara tempat
Barani ditahan dikepung warga. Tanpa senjata, hanya dengan suara dan
keberanian. Penjaga menyerah. Barani bebas.
Ia bertemu Pospos.
Mereka tersenyum.
“Kau akhirnya
berteriak,” kata Bara.
“Kau akhirnya menunggu
orang lain bicara,” jawab Pospos.
Perubahan tidak datang
dalam sehari. Tetapi sesuatu yang lebih penting runtuh lebih dulu: ketakutan.
Patung Tiran akhirnya
roboh. Penguasanya melarikan diri. Namun rakyat sadar, tiran tidak selalu hilang,
ia bisa kembali dengan wajah baru.
***
Ayah Pospos meninggal
sebulan kemudian, setelah sempat melihat air kembali mengalir. Kata
terakhirnya:
“Air harus kembali ke
rakyat. Kebenaran juga.”
Aek Sipangolu dan Negeri
Portibi perlahan berubah. Jalan belum sempurna, harga belum murah, tetapi
rakyat kini berbeda: mereka bertanya, mencatat, dan mengawasi.
Mereka belajar bahwa:
kejujuran tanpa
keberanian hanya menjadi bisikan, keberanian tanpa kejujuran hanya menjadi
amarah.
Di
bekas patung Tiran, dibiarkan jadi panggung kota. Sering anak-anak bermain
disitu, panggung itu setiap minggu tempat anak-anak latihan berorasi tentang
apa saja. Sengaja dibiarkan seperti itu, agar orang ingat: yang harus dijaga
bukan monumen, melainkan keberanian untuk bicara.
Karena tiran tidak
selalu datang sebagai raja.
Ia bisa datang sebagai
kebijakan, harga, atau kebiasaan untuk mengeluh tanpa bertindak.
***
Dan kisah Pospos dan
Barani tetap hidup, bukan karena mereka pahlawan besar, melainkan karena mereka
membuat orang percaya bahwa suara mereka sendiri layak didengar.
Di negeri yang rusak
oleh korupsi, mungkin itulah satu-satunya kekuatan yang dimiliki. Portibi, Aek
Sipangolu selamat, bagaimana dengan negerimu?
-o0o-
Catatan:
Dalam
Bahasa batak toba:
o Pospos
= Jujur
o Barani=
Berani
o Aek
Sipangolu=Air Kehidupan
o Portibi
= Dunia




