Sunday, September 27, 2026

Siapa calon ketua IAI di Musprov Sumut tahun 2027 nanti?

Periodesasi IAI Sumut akan berakhir di tahun 2027. Tidak lama, setahun lagi. 
IAI di periode kedua kepemimpinan Ahmad Ariyanto (Boy A)  ini cenderung bergerak stabil cenderung diam. Tidak banyak inovasi baru. Kinerja sekedar mengulang apa yang telah dilaksanakan di periode lalu. Tak ada perubahan baru. Ciri khas ketua ini memang lebih menyukai perbaikan internal, dan tidak populer di eksternal. Periode ke dua pun dijalankannya dengan tak jauh berbeda. 
Hal ini sangat disayangkan. Ketika Organisasi sudah cukup kuat, dengan tim kompak yang sudah teruji, harusnya mudah bergerak ekspansi ke luar IAI. 

Meskipun internal sudah cukup kuat, namun masih ada persoalan yang vital yang kemungkinan GAGAL diselesaikan oleh kepengurusan ini, yaitu mengoperasinalisasikan LSP SARSI di Sumut. Hingga saat ini belum ada, dan hal ini mengakibatkan banyaknya anggota IAI Sumut yang tidak memiliki SKK Arsitektur. Dampaknya proyek pengadaan pemerintah tidak mampu dipenuhi oleh mesin pembinaan anggota di IAI Sumut. Banyak proyek yang tidak bisa diambil, terganjal selembar kertas SKK Arsitektur.

Sesungguhnya banyak pe-er di eksternal yang perlu dikerjakan segera. Seperti pemahaman STRA dan lisensi yang tidak merata di Pemerintah Daerah. Ini memerlukan komunikasi yang intens dan gigih karena hal ini menggeser kenyamanan para calo-calo yang selama ini hidup dari sistem perizinan bangunan gedung. Sistem Pelayanan PBG dan SLF dengan standart yang berbeda. SOP PBG/SLF yang beragam. Retribusi SLF yang tidak jelas membuka celah biaya non teknis yang terindikasi Korupsi dan cepat lambat menjeremuskan anggota pada tindak pidana. 
Sebagai mitra Pemerintah harusnya IAI lebih agresif untuk memperkenalkan profesi ini sebagai profesi yang kompeten dalam perencanaan bangunan yang berkualitas. 

Permasalahan eksternal lainnya adalah HUBUNGAN ANTAR LEMBAGA. Kerjasama IAI tidak terbatas dengan dinas PU, Perkim dan sejenisnya terkait bangunan gedung, tapi ke Institusi penegakan Hukum, seperti Inspektorat, Ombudsman, Komunitas/ LSM Bangunan Gedung. Aku berkali-kali menawarkan program edukasi mengenai antikorupsi, dan tak pernah direspon oleh Ketua apalagi pengurusnya. 
Bidang Advokasi, harusnya lebih digerakkan membangun jaringan dengan institusi penegakan hukum. Ini penting untuk menjadi penyetabil benturan-benturan praktek profesi di lapangan, terutama dengan sistem pelayanan pemerintah yang lambat dan cenderung korup. Bagaimana sistem pengaduan anggota IAI agar berani dan mampu membuat pelaporan kecurangan yang dilakukan oknum-oknum nakal di lapangan. Bagaiman sistem perlindungan anggota yang bermasalah hukum, proses tindaklanjutnya dan kepastian keamanan anggota yang melapor.  Bagaimana pula kordinasinya dengan MKP di dalam IAI  sebagai mitra dalam pembinaan di etika profesi Arsiteknya. 

Terus terang dengan tidak bergeraknya IAI di sektor eksternal, aku memiliki prasangka, jika IAI ini hanya dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi pengurusnya saja, untuk mendapatkan proyek. Setelah kenyang, diam seperti ular. Dan ini seperti bom waktu saja. Tentu tidak akan meletup di periodesasi pengurus saat ini. Tapi pada saatnya nanti, kemalasan kita membangun jaringan eksternal ini mencekik IAI jadi semakin sulit untuk bergerak, karena kadung dianggap sebagai alas kaki proyek, alat mendesain bukan mitra  perubahan regulasi bangunan gedung yang lebih prima. 

Lalu, bagaimana IAI Sumut, jika kepengurusan ini selesai?. Tentu harusnya sudah ada calon penerus yang disiapkan pengurus sekarang atau khususnya yang disiapkan Bang Boy. Ini adalah tugas tak tertulis setiap Ketua sebagai pemimpin harus mampu beregenarasi. Harus mempersiapkan regenarasi yang lebih baik. 
Namun, aku belum melihat ada sosok yang muncul secara matang, entahlah. IAI  berikutnya butuh ketua yang agresif bergerak di eksternal IAI. Membuat asosiasi ini dikenal sebagai pencetak arsitek-arsitek kompeten berkualitas tinggi. Bukan arsitek yang kerja sambilan menjadi Calo. 

Thursday, September 03, 2026

Aek Sipangolu


Di negeri Portibi, jalan berlubang lebih setia daripada janji pemimpinnya. Pada musim hujan ia menjadi kubangan, pada kemarau berubah menjadi debu yang masuk ke paru-paru rakyat. Semua tahu jalan itu rusak, semua mengeluh, tapi tak ada yang benar-benar berharap diperbaiki.

Di alun-alun berdiri patung Tiran, penguasa negeri, dengan slogan kemakmuran yang terasa seperti lelucon. Harga kebutuhan naik perlahan, air bersih dijual mahal oleh pemerintah sendiri. Yang disebut pembangunan ternyata hanyalah pembangunan jarak antara perut kenyang dan perut lapar.

 

Di kampung kecil Aek Sipangolu hidup dua anak bersaudara: Pospos dan Barani.

 

Pospos dikenal sebagai Si Jujur, bukan karena ia sempurna, tetapi karena ia tak bisa menyembunyikan kesalahan. Barani adalah Si Berani, anak yang tak pernah takut pada orang yang seharusnya ditakuti. Mereka bersahabat—jujur dan berani, dua sifat yang berbeda tapi saling melengkapi.

 

Ayah Pospos adalah polisi hutan yang menjaga sumber air dan hutan. Belakangan ia gelisah karena menemukan sesuatu: sumber air Aek Sipangolu semakin mengecil. Banyak pipa-pipa air yang menyedotnya ke Perusahaan air minum dan vila-vila di bukit-bukit. Hutan disekitar juga semakin menyusut, kabarnya tanah-tanah hutan itu sudah dialihfungsi untuk rencana pembangunan tambang. Dulu sangat banyak mata air mengalir dari Pegunungan sekeliling Aek Sipangolu, anak-anak bermain air sembari mengambil air bersih untuk pulang. Air mata air bisa langsung diminum dan segar sekali. Tapi kian hari air semakin sedikit. Perusahaan air semakin besar. Akses air untuk rakyat tinggal sedikit, lalu entah sejak kapan warga Desa Aek Sipangolu lama kelamaan bergantung dengan air kemasan. Ayah Pospos Ia menolak menandatangani dokumen lingkungan untuk perluasan Perusahaan Air dan Tambang.

 

Beberapa hari kemudian, ia dipecat tanpa alasan jelas.

 

Tak lama setelah itu, saat pergi ke pasar, ayah dan ibu Pospos diserang orang tak dikenal. Tidak ada barang yang diambil. Di rumah sakit, mereka dibiarkan menunggu sampai “biaya awal” diberikan. Ibunya meninggal. Ayahnya selamat, tetapi ingatannya rusak.

Sebelum tenggelam dalam kesadarannya, ia hanya berulang-ulang berbisik:

“Aek Sipangolu… jangan jual…”

 

Bara curiga ini bukan begal biasa. Kecurigaan itu terjawab saat seorang lelaki tua mengungkapkan kebenaran: pemerintah sengaja membuat air langka untuk dijual mahal. Siapa yang melawan dipecat, dibungkam, atau “dihilangkan”.

 

Dari situlah perjalanan Pospos dan Barani dimulai.

 

Mereka berkeliling desa membawa catatan ayah Pospos: peta air, hutan, data, bukti korupsi. Mereka melihat sendiri penderitaan rakyat—sawah kering, air mahal, hutan rusak, harga melambung.

Orang-orang mengeluh:

“Pupuk mahal.”

“Air mahal.”

“Jalan rusak.”

Namun saat diajak melawan, mereka menunduk:

“Kami punya anak.”

“Kami takut.”

“Tiran masih satu marga kami”

 

Pospos mulai goyah. Ia membawa kebenaran, tetapi kebenaran itu tak menyelamatkan ibunya, tak menyembuhkan ayahnya. Sementara Barani semakin marah dan ingin melawan dengan kekerasan.

Suatu malam mereka bertengkar.

Barani  ingin membakar kantor perusahaan air.

Pospos menolak.

 

“Membakar itu putus asa,” kata Pospos.

“Diam itu kelemahan,” balas Barani.

 

Mereka berpisah.

Beberapa hari kemudian, Barani ditangkap.

 

Pospos mencoba membebaskannya dengan menunjukkan bukti, tetapi ditertawakan.

“Kebenaran?” kata penjaga. “Di negeri ini, yang benar adalah yang berkuasa.”

 

Di rumah, ayahnya yang sekarat memberikan sebuah kunci. Di loker perpustakaan desa, Pospos menemukan bukti lengkap: rekaman, dokumen, nama pejabat, dan pesan terakhir:

Kejujuran tidak cukup jika hanya diucapkan. Ia harus sampai ke telinga banyak orang. Carilah keberanian yang bisa menular.

 

Saat itulah Pospos mengerti: ia dan Barani tidak berbeda. Mereka hanya memegang dua sisi dari hal yang sama.

 

Keesokan harinya, Pospos berdiri di depan penjara dan mulai membacakan semua kebenaran dengan suara keras.

 

Tentang air yang dirampas.

Tentang harga yang dimanipulasi.

Tentang rakyat yang dibuat haus.

Tentang ibunya yang mati.

 

Awalnya orang hanya melihat. Lalu satu orang berhenti. Lalu dua.

 

Dari dalam penjara, Barani berteriak:

“Jangan berhenti!”

 

Satu per satu orang mulai bicara. Seorang ibu, seorang petani, seorang perawat. Suara mereka saling menyambung.

Gerakan itu menyebar.

 

Rakyat menolak membeli air mahal. Mereka membongkar pipa-pipa sumber air yang dipagari. Jalan ditutup untuk truk-truk Perusahaan pengangkut kayu hutan. Guru, perawat, dan warga mulai bersuara.

 

Tiran marah. Penangkapan terjadi. Kekerasan meningkat. Namun gerakan itu sudah berubah: bukan satu ledakan besar, tetapi ribuan keberanian kecil.

 

Akhirnya penjara tempat Barani ditahan dikepung warga. Tanpa senjata, hanya dengan suara dan keberanian. Penjaga menyerah. Barani bebas.

Ia bertemu Pospos. Mereka tersenyum.

“Kau akhirnya berteriak,” kata Bara.

“Kau akhirnya menunggu orang lain bicara,” jawab Pospos.

 

Perubahan tidak datang dalam sehari. Tetapi sesuatu yang lebih penting runtuh lebih dulu: ketakutan.

 

Patung Tiran akhirnya roboh. Penguasanya melarikan diri. Namun rakyat sadar, tiran tidak selalu hilang, ia bisa kembali dengan wajah baru.

***

 

Ayah Pospos meninggal sebulan kemudian, setelah sempat melihat air kembali mengalir. Kata terakhirnya:

“Air harus kembali ke rakyat. Kebenaran juga.”

 

Aek Sipangolu dan Negeri Portibi perlahan berubah. Jalan belum sempurna, harga belum murah, tetapi rakyat kini berbeda: mereka bertanya, mencatat, dan mengawasi.

Mereka belajar bahwa:

kejujuran tanpa keberanian hanya menjadi bisikan, keberanian tanpa kejujuran hanya menjadi amarah.

Di bekas patung Tiran, dibiarkan jadi panggung kota. Sering anak-anak bermain disitu, panggung itu setiap minggu tempat anak-anak latihan berorasi tentang apa saja. Sengaja dibiarkan seperti itu, agar orang ingat: yang harus dijaga bukan monumen, melainkan keberanian untuk bicara.

Karena tiran tidak selalu datang sebagai raja.

Ia bisa datang sebagai kebijakan, harga, atau kebiasaan untuk mengeluh tanpa bertindak.

***

 

Dan kisah Pospos dan Barani tetap hidup, bukan karena mereka pahlawan besar, melainkan karena mereka membuat orang percaya bahwa suara mereka sendiri layak didengar.

 

Di negeri yang rusak oleh korupsi, mungkin itulah satu-satunya kekuatan yang dimiliki. Portibi, Aek Sipangolu selamat, bagaimana dengan negerimu?

-o0o-

 

Catatan:

Dalam Bahasa batak toba:

o   Pospos = Jujur

o   Barani= Berani

o   Aek Sipangolu=Air Kehidupan

o   Portibi = Dunia

 


Kereta Api, tempat dimana budaya Anti Korupsi berhasil terwujud

Review cerpen: Kereta Api Tak Menunggu Senja, karya  Renny Andriany



Kereta Api. Sama dengan Teh Renny, aku juga sangat menyukai Kereta Api. Meski mungkin rasa suka kita  sedikit berbeda, karena Kereta Api di Sumatra tidak sebanyak Pulau Jawa. Kereta Api bagi sebagian kami disini justru transportasi rekreasi, mungkin sama seperti keluarga yang menikmati odong-odong, atau pun mobil caddy di TMII (Taman Mini Indonesia Indah). 
Untuk belajar menghargai waktu, mungkin kami perlu naik pesawat dulu, burung besi itu juga cukup kejam, tak beri toleransi waktu, dan mahal. Tapi itupun kalau tidak delay. Biasanya, delay oleh pesawat berlogo warna singa itu. 

Aku menyukai Kereta Api, karena ini adalah transportasi yang murah, tepat waktu, dan nyaman sekali jika sambil baca buku. Kereta api juga sangat berkuasa. Semua orang tak berani melawannya. Kalau pun ada, alamat dipastikan nyawa melayang. 

Di Sumut, transportasi yang paling murah dan efisien bagi kami juga Kereta, tapi BUKAN kereta Api.  Kereta adalah bahasa Medan untuk sepeda motor. Tentu saja kereta itu tidak aman, apalagi jika melintas di Jalinsum (Jalan lintas Sumatera). O..iya beberapa kawanku kelindes disitu, bukan karena dia tidak tepat waktu, keretanya tersandung, segera saja jalan bergelombang itu menariknya, dan roda mobil pengangkut sawit malah membantunya mencium aspal. 

Jalan Jalinsum kami yang bergelombang dan berlubang itu setiap berbilang tahun sekali pasti ada kasus Tipikor dari proyek pengadaannya. Berulang terus. Hal yang tidak dianggap menggenaskan lagi, "Cuma giliran dapat sial aja". Itu kata para ASN yg menjabat Kepala Dinas ataupun PPK. 

Kami yang di Sumatera Utara ini tetap tak punya banyak pilihan, melewati Jalinsum rusak, mempertaruhkan nyawa berebut jalan dengan truk pengangkut sawit dan BBM, setiap hari. 

Meskipun sudah  ada Tol, mereka (mobil angkutan berat itu) tetap saja memilih jalan umum, karena jauh lebih murah, tak apalah lebih lama dan bersaing dengan kereta (ingat ya kereta=sepeda motor). Kau tau kenapa jalinsum kami tidak serius diperbaiki?, kabarnya supaya kami terpaksa merogoh saku lebih dalam masuk jalan tol yang mahal itu. Biar segera lunas utang bikin jalan tol itu.

Kalau aku berkunjung ke Pulau Jawa, aku selalu memilih Kereta Api walaupun sejenak, karena dari Ular besi ini aku merasakan kemajuan pembangunan sekaligus melihat kenyataan betapa berbedanya pembangunan di Jawa dan luar Jawa. Kau tentu tau kenapa pembangunan kereta api begitu jomplang?. Ya..tentu saja karena Korupsi.

Tahun ini seharusnya Aceh sampai Riau sudah tersambung dengan rel kereta api. Aku tau, karena Aku pernah mengintip sedikit perencanannya ketika bergabung di konsultan Kereta Api. Tapi beberapa tahun terakhir, korupsi di Dirjen Kereta Api terungkap. Di pengadilan, dari terdakwa tersebut kalau dananya di korupsi untuk pemenangan pemilu. Tapi nama dalang yang tersebut itu tetap santai tak tersentuh. Mungkin dia akan maju. Mungkin keluarganya akan maju lagi di pemilu terdekat.
Andai jaringan kereta api itu terealisasi, mungkin tak banyak lagi teman-teman ku yang tergilas mati konyol di Jalinsum itu.

Oiya, Medan pun sempat ingin membangun RLT. Sejenis Kereta Api ringan yang rencananya dibangun berlapis di atas jalan. Seorang temanku yang mengusulkannya, dengan perhitungan yang jeli tak membebani uang rakyat. Tapi dia juga keburu meninggal, sepertinya stress. Terakhir sebelum meninggal usulan proyek yang digodok beberapa periode walikota dan hampir dibangun itu batal karena Walikota terpilih memilih Bus Tayo untuk jadi transportasi baru kota kami. Tak lama, belum 5 tahun, bus Tayo itu pun kena karma, digantikan dengan Bus Listrik. Medan sekarang lagi macet macet nya karena jalan protokol terpanjangnya sedang di bangun jalur Bus, dengan terminal Bus di TENGAH JALAN. Sekali lagi di TENGAH JALAN!!. 

Dan untuk itu, Pohon Mahoni berusia puluhan tahun sepanjang jalan harus di tebang. (Maaf ya..saya numpang curcol. Sakit hati sekali melihat pohon ditebang, sementara dua tahun belakangan Medan kena banjir akibat penebangan pohon yang brutal di pegunungan) 

Kembali ke cerpen Teh Renny, beruntung mendapatkan pembelajaran filsafat antikorupsi dari Kereta Api setiap hari. Dari aktifitas sehari-hari bisa menjadi cerita yang mencerahkan.  Hanya  orang yang berfikir makna dan kualitas hidup yang bisa menghubungkan kereta api dengan hikmah pembelajaran hidup, dan kami pembaca cerpen ini tinggal mengunyah menjadi gizi otak kami. 

Kepada kawan-kawan yang menikmati kemudahan hidup berkereta api, meskipun kadang  kalian berdesakan didalamnya, tetaplah bersyukur. Bersyukur dengan menghargai setiap waktu. Bersyukur dengan cara memanfaatkan waktu untuk menghancurkan korupsi mulai dari mendisiplinkan diri sendiri.

Tapi Teh Renny, Kereta Api tak seperkasa itu, jika tak ada tangan lihai perencana yang berhasil membangun budaya tepat waktu. Aku masih sempat melewati masa kereta api bau pesing, terlambat, kotor dan rawan copet. Sekarang sangat jauh berbeda, murah tapi tetap nyaman dan murah..

Itulah salah satu mengapa aku makin menyukai Kereta Api saat ini. Bagiku Transportasi ini simbol menangnya budaya Anti Korupsi. Budaya Anti Korupsi nyata telah membuat perjalanan antar kota kami terasa nyaman, aman dan ramah di Kantong.  

- Pera Sagala -
Medan, 02 September 2026



Thursday, December 11, 2025

Tidak ada perayaan HAKORDIA tahun ini



Apa yang dirayakan? 
Alam telah memberikan raport merah dengan banjir dan longsor gelondongan kayu dari hutan  kami yang terluka. Parah.
Kami Lapar dan haus berhari hari sambil melawan dingin lumpur di kaki dan debu tebal di tenggorokan.
Berminggu sudah terisolir, tiba-tiba peradaban mundur seperti sebelum ada listrik dan wifi


Apa yang dirayakan? 
Kau lihat, Para koruptor itu beramai ramai unjuk drama NIR empati.
Menari-nari mengejek kekalahan rakyat melawan kerakusan mereka. Segala mahluk paling hina pun tak sebanding disematkan untuk memaki mereka.

Apa itu perayaan HAKORDIA?. 
Hanya untuk membungkam satu dua hari, dengan musik tari dan harapan semu.
dan ketika kembali kami harus melihat hutan-hutan kami tetap di jarah. 
Dan MASIH terus akan dijarah.

Para penyintas mengais kayu sisanya untuk menggantikan rumah mereka yang rubuh.
Batang demi batang, lembar demi lembar 
Sembari dihantui kelaparan dan penyakit 

Tidak ada perayaan HAKORDIA tahun ini!.
Aku ingin mereset apapun tentang perlawanan Antikorupsi ini.
Aku ingin satu gerakan nyata. Bersama dan Konkrit.
Aku ingin cuma tertuju untuk satu sasaran:

Perusahaan perusahaan yg merusak hutan kami, perusahaan yang mengantongi segala jenis izin LEGAL yang nyatanya telah merusak HUTAN kami.

GANTI RUGI 7 TURUNAN!!
ANGKAT KAKI!!
HAMBUUUS!!

*
Pera Sagala
PAKSI 915.2.0009.2022
*
Aceh Tamiang, 
7 Desember 2025

Wednesday, September 10, 2025

Matinya Dewi Sri


Katanya kau sang Dewi Sri
pemberi harapan kemakmuran negeri 
sawah terhampar padi berjuntai 
gemilang emas berseri-seri

Katanya kau Dewi Sri
berkurun waktu merajut janji
membuai harap kami dalam mimpi
kelak sampai masa tujuan tercapai
Sebuah negeri makmur sejahtera, 
Katamu.

Lalu sampai pada satu masa mencekik
dimana musim demi musim hanyalah paceklik
Hutan menipis, sawah terdesak, udara sesak
Padi dipanen jadinya kerikil
kerja kerja kerja! 
tapi hutang semakin melilit

Kau kah sang Dewi Sri ? 
Kenapa begitu setia membelai tirani?
dengan buaian upeti dan angka-angka palsu

Stabil dan meningkat kau bilang
tapi mengapa kami semakin lapar?
aman terkendali kau bilang
kenapa semakin bekerja, semakin dipersulit

Gaji guru dan pensiunan kau anggap bagaikan beban 
Sementara politisi pembual rela kau hidupi

Haruskah kami jadi koruptor agar bisa hidup sejahtera di negeri ini?
Haruskah kami menjadi si pemalas dan bergantung hidup dari bansos?
Haruskah kami jadi si bodoh yang terus mengemis pada "orang dalam"?

Dewi 
kau peras asam keringat kami
terkuras habis dan kering
kau peras pula darah dan air mata kami
untuk hidangan gaya hidup para tirani

Berlagak anggun kau menginggalkan singgasanamu
Empat Belas tahun bekerja katamu?
Cih!
Perih tersayat melihatmu pergi 
Pilu tapi bukan karena kehilangan dirimu

Kala jejak yang kau tinggal hanyalah kekacauan
Sungguh tak pantas kau pergi dengan senyuman
sedikitpun tak pantas.

Hai Dewi Sri
matilah demi menjelma jadi padi
itu lebih baik bagi negeri ini

tapi kurasa kau memang bukan Dewi Sri
Kau cuma Sri...