Thursday, September 03, 2026

Kereta Api, tempat dimana budaya Anti Korupsi berhasil terwujud

Review cerpen: Kereta Api Tak Menunggu Senja, karya  Renny Andriany



Kereta Api. Sama dengan Teh Renny, aku juga sangat menyukai Kereta Api. Meski mungkin rasa suka kita  sedikit berbeda, karena Kereta Api di Sumatra tidak sebanyak Pulau Jawa. Kereta Api bagi sebagian kami disini justru transportasi rekreasi, mungkin sama seperti keluarga yang menikmati odong-odong, atau pun mobil caddy di TMII (Taman Mini Indonesia Indah). 
Untuk belajar menghargai waktu, mungkin kami perlu naik pesawat dulu, burung besi itu juga cukup kejam, tak beri toleransi waktu, dan mahal. Tapi itupun kalau tidak delay. Biasanya, delay oleh pesawat berlogo warna singa itu. 

Aku menyukai Kereta Api, karena ini adalah transportasi yang murah, tepat waktu, dan nyaman sekali jika sambil baca buku. Kereta api juga sangat berkuasa. Semua orang tak berani melawannya. Kalau pun ada, alamat dipastikan nyawa melayang. 

Di Sumut, transportasi yang paling murah dan efisien bagi kami juga Kereta, tapi BUKAN kereta Api.  Kereta adalah bahasa Medan untuk sepeda motor. Tentu saja kereta itu tidak aman, apalagi jika melintas di Jalinsum (Jalan lintas Sumatera). O..iya beberapa kawanku kelindes disitu, bukan karena dia tidak tepat waktu, keretanya tersandung, segera saja jalan bergelombang itu menariknya, dan roda mobil pengangkut sawit malah membantunya mencium aspal. 

Jalan Jalinsum kami yang bergelombang dan berlubang itu setiap berbilang tahun sekali pasti ada kasus Tipikor dari proyek pengadaannya. Berulang terus. Hal yang tidak dianggap menggenaskan lagi, "Cuma giliran dapat sial aja". Itu kata para ASN yg menjabat Kepala Dinas ataupun PPK. 

Kami yang di Sumatera Utara ini tetap tak punya banyak pilihan, melewati Jalinsum rusak, mempertaruhkan nyawa berebut jalan dengan truk pengangkut sawit dan BBM, setiap hari. 

Meskipun sudah  ada Tol, mereka (mobil angkutan berat itu) tetap saja memilih jalan umum, karena jauh lebih murah, tak apalah lebih lama dan bersaing dengan kereta (ingat ya kereta=sepeda motor). Kau tau kenapa jalinsum kami tidak serius diperbaiki?, kabarnya supaya kami terpaksa merogoh saku lebih dalam masuk jalan tol yang mahal itu. Biar segera lunas utang bikin jalan tol itu.

Kalau aku berkunjung ke Pulau Jawa, aku selalu memilih Kereta Api walaupun sejenak, karena dari Ular besi ini aku merasakan kemajuan pembangunan sekaligus melihat kenyataan betapa berbedanya pembangunan di Jawa dan luar Jawa. Kau tentu tau kenapa pembangunan kereta api begitu jomplang?. Ya..tentu saja karena Korupsi.

Tahun ini seharusnya Aceh sampai Riau sudah tersambung dengan rel kereta api. Aku tau, karena Aku pernah mengintip sedikit perencanannya ketika bergabung di konsultan Kereta Api. Tapi beberapa tahun terakhir, korupsi di Dirjen Kereta Api terungkap. Di pengadilan, dari terdakwa tersebut kalau dananya di korupsi untuk pemenangan pemilu. Tapi nama dalang yang tersebut itu tetap santai tak tersentuh. Mungkin dia akan maju. Mungkin keluarganya akan maju lagi di pemilu terdekat.
Andai jaringan kereta api itu terealisasi, mungkin tak banyak lagi teman-teman ku yang tergilas mati konyol di Jalinsum itu.

Oiya, Medan pun sempat ingin membangun RLT. Sejenis Kereta Api ringan yang rencananya dibangun berlapis di atas jalan. Seorang temanku yang mengusulkannya, dengan perhitungan yang jeli tak membebani uang rakyat. Tapi dia juga keburu meninggal, sepertinya stress. Terakhir sebelum meninggal usulan proyek yang digodok beberapa periode walikota dan hampir dibangun itu batal karena Walikota terpilih memilih Bus Tayo untuk jadi transportasi baru kota kami. Tak lama, belum 5 tahun, bus Tayo itu pun kena karma, digantikan dengan Bus Listrik. Medan sekarang lagi macet macet nya karena jalan protokol terpanjangnya sedang di bangun jalur Bus, dengan terminal Bus di TENGAH JALAN. Sekali lagi di TENGAH JALAN!!. 

Dan untuk itu, Pohon Mahoni berusia puluhan tahun sepanjang jalan harus di tebang. (Maaf ya..saya numpang curcol. Sakit hati sekali melihat pohon ditebang, sementara dua tahun belakangan Medan kena banjir akibat penebangan pohon yang brutal di pegunungan) 

Kembali ke cerpen Teh Renny, beruntung mendapatkan pembelajaran filsafat antikorupsi dari Kereta Api setiap hari. Dari aktifitas sehari-hari bisa menjadi cerita yang mencerahkan.  Hanya  orang yang berfikir makna dan kualitas hidup yang bisa menghubungkan kereta api dengan hikmah pembelajaran hidup, dan kami pembaca cerpen ini tinggal mengunyah menjadi gizi otak kami. 

Kepada kawan-kawan yang menikmati kemudahan hidup berkereta api, meskipun kadang  kalian berdesakan didalamnya, tetaplah bersyukur. Bersyukur dengan menghargai setiap waktu. Bersyukur dengan cara memanfaatkan waktu untuk menghancurkan korupsi mulai dari mendisiplinkan diri sendiri.

Tapi Teh Renny, Kereta Api tak seperkasa itu, jika tak ada tangan lihai perencana yang berhasil membangun budaya tepat waktu. Aku masih sempat melewati masa kereta api bau pesing, terlambat, kotor dan rawan copet. Sekarang sangat jauh berbeda, murah tapi tetap nyaman dan murah..

Itulah salah satu mengapa aku makin menyukai Kereta Api saat ini. Bagiku Transportasi ini simbol menangnya budaya Anti Korupsi. Budaya Anti Korupsi nyata telah membuat perjalanan antar kota kami terasa nyaman, aman dan ramah di Kantong.  

- Pera Sagala -
Medan, 02 September 2026



No comments: