Showing posts with label IVLP. Show all posts
Showing posts with label IVLP. Show all posts

Sunday, February 04, 2018

Bertemu karya Mies Van De Rohe

Dari semua perjalanan IVLP-USA 2014, tanpa sengaja menikmati rumah karya Arsitek terkenal dunia, rasanya excited banget.
Mies Van de Rohe, Salah satu Arsitek yang merubah Arsitektur Dunia menjadi serba kaca. 
Lebih Excited juga ketika menyimak kritik rumah terhadap desain si Arsitek. :D
"Dinding Kaca itu membuat kami kedinginan" 
Pemilik kaca menambahkan kaca sampai 3 lapis barulah mereka nyaman dari dinginnya musim dingin. 
 tentang rumah dapat dilihat disini...










Sunday, June 29, 2014

Mengintip sekolah dan sistem pendidikan di Amerika Serikat

Bagaimana tokoh-tokoh ilmuwan, politik, ekonomi dan berbagai teknologi canggih bisa terlahir dari Amerika Serikat?. 
Tentu bukan hal yang terjadi begitu saja. Ada sistem dan proses regenerasi yang tetap menjaganya hingga saat ini.
Kali ini mari kita lihat dari sudut dunia pendidikannya dulu.
Program IVLP mengajak kami mengunjungi berbagai jenis sekolah di 5 (lima) negara bagian Amerika Serikat (AS). Dari Sekolah negri tingkat SMP, SMA di Columbia, sekolah negeri tingkat PAUD dan SD di negara bagian Michigan, Sekolah individual_Randolph School yang super mewah di Alabama, sekolah berbasis Kristen (lupa alirannya) di negara bagian Alabama, Sekolah SMP SMA kelas ekonomi bawah di negara bagian Seattle-Washington. serta Universitas Utah di negara bagian Utah dan universitas Wasingthon di negara bagian Seattle-Washington. 

****

SISTEM PENDIDIKAN DAN POLITIK
Karena tulisan sebelumnya berkisah tentang politik dan kebebasan beragama, maka kita lihat dulu sejauh mana hubungannya dengan dunia pendidikan.
Sistem politik dan demokrasi AS sangat erat terkait dengan sistem pendidikannya. Tanpa pendidikan yang sistematis, maka negera ini akan hancur dengan sendirinya, dan karya-karya peradaban mereka tentang demokrasi yang mereka banggakan akan lenyap begitu saja.

Dalam kisah pertemuan dengan Mr. Akram di Washingthon DC, di tulisanku yang lalu, beliau juga menjelaskan eratnya kaitan pendidikan bagi langgengnya sistem demokrasi di AS. 
Kalau di tulisanku sebelumnya ada penekanan terhadap pentingnya pemisahan agama dan negara, dan adanya pelemahan peran partai politik pada sistem pemilihan anggota legislatif, Maka, ada satu hal lagi yang juga perlu dipahami dan menarik untuk dipelajari sebelum kuurai hasil intipanku tentang pendidikan di AS:
bahwa perundang-undangan di AS tidak dibuat untuk kelompok tetapi kepada individu*. 

Ini adalah resep, agar undang-undang mereka dapat diterima oleh rakyat Amerika Serikat. Pola perumusan undang-undang yang memihak kepada individu, dan bukan kepada kelompok, di buat untuk memastikan hak setiap individu dipenuhi oleh negara. Seperti kujelaskan pada tulisan sebelumnya, pemihakan kepada kepentingan kelompok akan mengakibatkan tarik menarik kepentingan yang rumit dan tidak akan selesai. Kelompok minoritas akan menjadi kelompok yang semakin termaginalkan. Tapi jika undang-undang dibuat untuk melindungi setiap individu, maka tarik menarik kepentingan kelompok dapat ditekan. 

*(Kalau di Indonesia, contoh sederhana adalah perda syariah. Peraturan negera tapi hanya berlaku kepada kelompok tertentu. Tapi tentu saja, karena label agama yang melekat dalam perda tersebut, di Indonesia menjadi komoditas politik untuk dibela. Kelompok Islam merasa terusik jika perda ini tidak disahkan. Kemudian, tentu saja agama lain dalam negera ini juga ikut-ikutan menginginkan yang sama. Perda Kristen di Papua, mungkin akan diikuti dengan perda Budha, perda Hindu...dengan dasar berfikir, mereka kelompok mayoritas di daerah tertentu di Indonesia. Walhasil menjadi perdebatan tak kunjung habis).

Menurut Mr. Akram, untuk mendukung sistem politik mereka, pendidikan di AS didesain dengan tahapan penting berikut:

1. Melawan pemikiran kelompok. 
Hal ini paling penting dan mendasar. Tidak boleh keroyokan dalam menyelesaikan masalah, apalagi tawuran. Sikap ini juga dibutuhkan dalam proses legislasi. Kepentingan kelompok harus benar-benar diminimalkan. Pendidikan tentang ini, sejak dini ditanamkan.

2. Mengembangkan individu sebagai pribadi yang berkarakter. 
    Berkarakter yang dimaksud adalah: seorang anak tau apa, siapa, mengapa dan untuk apa dirinya ada. Sikap ini mencetak anak-anak yang percaya diri, dan berani. Mandiri dan tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan yang tidak baik.

3. Mendorong kepemimpinan individu dahulu baru.. baru membangun: TEAMWORK.
    Nah...disinilah peran organisasi menjadi wadah pembelajaran teamwork. Menjadi relawan/volunter ataupun penggiat organisasi. Para relawan inilah yang membantu calon anggota legislatif berjuang mendapatkan kursi nantinya. Kemampuan mereka mengalang dana, mengorganisir berbagai kegiatan dan berkampanye menjadi sumber produksi kepemimpinan yang terus mengalir. Kegiatan ini ada yang didukung oleh pihak sekolah. Ada juga berupa kegiatan mandiri siswa. Sayangnya aku kurang begitu jelas mengetahui bagaimana sistem evaluasinya.
Uniknya, di AS partai politik, boleh punya organisasi dari tingkat kampus sampai sekolah dasar. Dan biasanya gak banyak peminatnya. Sepertinya masih lebih banyak peminat kegiatan sosial.

Di AS (katanya sih)...gak penting titel-titelan. Klo jadi pejabat ataupun melamar pekerjaan, yang dilihat adalah kemampuan teknis bukan deretan titel akademis. Gak laku. Beda sekali dengan Indonesia bukan?.

Ketika berkunjung ke Utah University, berhubung kuliah disana murah, dari 4 mahasiswa yang kami ajak berdikusi, ada 3 orang yang mengambil kuliah dengan jurusan yang berbeda. Rata-rata mengambil dua jurusan sekaligus. Seperti si cewek cantik bersepatu boat diatas, mengambil jurusan Ekonomi dan jurusan Politik sekaligus dan IP cumlaude, biasa aja bagi mereka. Yang luar biasa, dengan padatnya perkuliahanya, dia adalah ketua organisasi mahasiswa di Kampusnya. Kegiatannya cukup banyak mengundang tokoh-tokoh politik AS untuk berdiskusi di kampus.
Jadi kalau deretan gelar, tamatan universitas AS bisa panjang-panjang deretannya. Tapi sayangnya bukan itu yang dinilai di dunia kerja. Yang dilihat adalah kemampuan teknisnya yaitu: kepemimpinan dan kemampuan dalam teamwork. Maka mahasiswa memang senang dan butuh berorganisasi disana.
Anak-anak SMA di bawah ini, sangat percaya diri, mereka tau cita-cita mereka, kemana dan bagaimana langkah mereka selanjutnya setelah tamat sekolah. 
Satu hal yang mulai memprihatinkan di pendidikan politik AS adalah tingginya golput saat pemilu. Konon katanya karena mereka sudah merasa nyaman dengan sistem mereka, jadi kenapa harus berganti. Bagi para orang tua yang masih ingat bagaimana proses mendapatkan hak berpolitik yang penuh dengan perjuangan, hal ini tentu mengesalkan. Jika semakin banyak yang golput, demokrasi mereka bisa padam juga.

JENIS SEKOLAH
Dari tingkat universitas, mari kita lihat dunia pendidikannya di tingkat dasar.  Berdasarkan pihak pengelolanya, maka ada tiga jenis sekolah di AS. yaitu:
1. Sekolah Negeri
Sekolah Negri di AS, seperti juga sekolah negeri di Indonesia. Pengelolaanya oleh pihak pemerintah. Bedanya, sekolah Negri di AS tidak boleh mengajarkan pendidikan Agama di sekolah. Pendidikan Agama diserahkan kepada keluarga masing-masing, ataupun kelompok orang tua. Pada sekolah yang dominan ditinggali suku bangsa tertentu, bahasa bangsanya tetap diberikan sebagai kelas tambahan. Misalnya, bahasa arab di kota Detroit. 

Salah satu Gedung Sekolah dan suasana ruang kelas sekolah negeri  di Washington Dc

2. Sekolah berbasis Agama
Meski sekuler, pemerintah AS tetap mengijinkan adanya sekolah yang berbasis agama. Sekolah agama Kristen, Islam, dan lain-lain. Namun Negara tidak akan mengucurkan biaya bantuan apaun kepada sekolah tersebut. Mendirikan sekolah berbasis agama, harus menerima konsekuensi menjadi sekolah yang mandiri dalam pembiayaan. Dalam hal kurikulum, sekolah ini bebas mengatur kurikulum sendiri. 

3. Sekolah Individual
Ada juga istilah sekolah individual di AS. Ini konsepnya beda dengan sekolah swasta di Indonesia ya. Sekolah Individual, tidak dikelola oleh pemerintah maupun bukan sekolah berbasis agama. Tetap saja sekolah ini tidak boleh mengajarkan pendidikan Agama di sekolahnya. Sekolah individual, adalah sekolah yang didirikan oleh masyarakat, bisa juga mendapat bantuan pembiayaan dari pemerintah, namun yang membedakannya adalah Konsep pendidikannya tidak diharuskan mengikuti panduan(kurikulum) dari pemerintah. 
Seperti sekolah yang kami kunjungi di bawah ini, Randolph School di Huntsville Alabama, adalah sekolah yang memastikan siswanya dapat menjadi pemimpin yang handal. Salah satu program yang cukup menarik yaitu Civic Challenge yaitu anak tingkat SMA  praktek menjadi City Leader (pemimpin kota) di Gedung Walikota Huntsville. Mereka selama sebulan menjalankan aktifitas sebagaimana para pejabat publik tersebut bertugas sehari-hari. Orang dewasa harus menghormati mereka. Dari simulasi tersebut, mereka membuat paper penelitian, yang menjadi masukan kepada pihak pemerintah. Hebat juga kesan yang kutangkap ketika kami berkunjung ke kantor Walikota Huntsville dan mengecek sejauh mana anak-anak SMA tersebut berkarya. Mereka terkesan dengan ide anak-anak tersebut. Dan akan menerapkannya ditahun-tahun berikutnya. keren bukan?. 

Randolph School. Sekolah kelas mewah. Dibangun oleh individual oleh masyarakat, untuk memperkuat eksistensi Huntsville sebagai rocket city. Misinya mencetak orang-orang unggul secara kepemimpinan, olah raga dan sains. Fasilitasnya waaah, ada gedung atletik,gedung seni, auditourium, perpustakaan yang apik tentan, dan halaman yang luas.


DISTRIBUSI HAK UNTUK SEKOLAH
Sisi yang juga menarik dalam dunia pendidikan adalah, pembagian hak sekolah. 
Di AS, menurut penjelasan kedua penerjemah kami, sekolah dibagi untuk mencakup satu wilayah tertentu. Contoh: Sekolah X hanya boleh menerima siswa dari lingkungan radius 10 km saja. 
Jadi, seandainya seorang anak tinggal di kecamatan A, dia tidak boleh sekolah di kecamatan B.
Konsep ini bagus untuk akses sekolah yang terjangkau dan aman bagi anak. Pengaruh positif lainnya tentu saja, membagi beban transportasi, sehingga terhindar dari kemacetan.
Tentu saja ada sekolah yang kualitasnya bagus atau menjadi favorit dan sekolah yang kualitasnya biasa saja.
Bagaimana jika seorang keluarga tidak ingin anaknya sekolah di A, sementara dia tinggal di kecamatan yang sama dengan sekolah A?. Maka solusinya adalah dia harus pindah ke daerah dimana sekolah yang diinginkan tersebut berada. Jika ingin bersekolah antara negara bagian, bisa menjadii lebih sulit lagi. 

PERLINDUNGAN ANAK
Negara ini sudah cukup paham akan hak Anak. jangan sembarangan ambil foto anak di negera ini. Bisa langsung kena tegur. Beberapa sekolah yang kami kunjungi, dan boleh berfoto bersama anak, adalah dalam seijin orang tua dan pihak sekolah. Sekolah tingkat dasar dan PAUD sangat menjaga hal ini. Tak boleh memfoto, apalagi menyentuh si anak.
Dalam sebuah acara reality show di TV, kutonton sebuah adegan yang menguji kepekaan lingkungan AS terhadap perlindungan anak dari asap rokok. Ada dua orang pasangan muda seolah sedang menggendong anak, berdiri dipinggir jalan sembari menghisap sebatang rokok. Setiap orang yang melintasi mereka selalu ngedumel, mulai dari cara sopan dan kasar menasehati pasangan tersebut. 

UJIAN NASIONAL
Apakah di AS ada ujian nasional seperti di Indonesia?. Mereka juga punya, namun sepertinya pemerintah federal tetap memberikan wilayah kebebasan kepada pihak pemerintah negara bagian untuk merumuskan kurikulum dan ujian nasionalnya. Mungkin itu juga sebabnya, antara negara bagian sulit menerima siswa yang berpindah sekolah. 

POLA PENGAJARAN
Berikut pola pengajaran mereka tertuang secara sederhana di gambar bawah ini: Cafe (Comprehension, Accuracy, Fluency, Expand).
Semua mata pelajaran menerapkan pola pengajaran yang sama. 

konsep cafe dalam pelajaran bahasa Inggris

 
konsep cafe dalam pelajaran matematika

PENDIDIKAN SEJARAH
Amerika Serikat yang kulihat memang sangat menjaga sejarahnya. Di sekolah-sekolah selalu saja ada mading seperti gambar dibawah ini. Isinya tokoh-tokoh bersejarah di negeri ini, apa perannya dan apa kutipannya yang terkenal. Gambar dibawah ini ada di sekolah PAUD...bayangin deh...untuk anak usia 5 tahun kebawah sudah belajar sejarah. Pelajaran sejarah termasuk juga buku-buku pendukungnya. 
Gambar dibawah ini adalah buku untuk anak tingkat SD. Dikemas agar mudah di baca oleh anak. Pengenalan akan HAM, demokrasi dan perdamaian, sejak dini sekali sudah ada. 

FASILITAS SEKOLAH
Nah...ini juga menarik. Bagaimana fasilitas sekolah negara adidaya ini?
lihat gambarnya saja yaa..



Di SD di Michigan, setiap ruangan ada Toilet, sehingga guru tetap bisa mengawasi muridnya dikelas. Meja nya merupakan kotak peralatan tulis dan buku. Mudah di pindahkan, cukup kuat dan nyaman. 


Perhatikan huruf braile di tanda ruang. Ini di sekolah negeri lo..

Suasana Gang di sekolah tingkat SD. Penuh dengan tempelan karya. Dan ada tempat khusus yang disediakan, sehingga dinding tetap bersih dari sisa selotip. Dinding setinggi pinggang di lapis mozaik sehingga tidak mudah kotor

Tulisan Opini. Setiap dinding tak tersisa untuk karya anak2. 

Alat-alat tulis dan metaplan penuh warna. seperti fasilitas training yaa..

Ada ruang khus untuk kamar mandi dan tempat jaket di setiap ruang kelas.

Untuk ketelitian mereka terhadap anak berkebutuhan khusus, memang cukup mengagumkan. Selalu ada akses kursi roda, toilet yang bisa dimasuki oleh kursi roda, dan penanda ruangan yang membantu orang-orang tersebut. Sebagai arsitek...aku jadi belajar kembali. 
*****



Friday, May 23, 2014

Repotnya Toilet Di Amerika Serikat

Kali ini kisah perjananku selama program IVLP akan berkisah tentang toilet.
Ya..toilet, kamar mandi, WC, Water Closet
Di Amerika Serikat disebut rest room. 
Ruangan kecil ini, adalah ruangan yang paling sering dikunjungi dari seluruh program kami. :D


Selama perjalanan IVLP, toilet adalah tempat yang paling penting. Musim dingin membuat kami sering pipis. Hampir setiap tempat kunjungan/pertemuan, kami harus singgahi dulu toiletnya. Ketika mau berangkat pulang pun, toilet masih tetap dicari. 
Kisah tentang pengalaman dengan toilet di AS bersifat personal dan merepotkan. 
Pada satu momen, dengan sedikit malu-malu kami  curhat juga karena kekonyolan kami menggunakan fasilitasnya. 
Bisalah dibilang:  kampungan. hehee....

Di toilet kamar hotel, aku sering bermasalah dengan jenis kran untuk bath tube. Di kamar mandi, selalu tersedia air panas dan dingin. Ada yang tinggal geser satu kran, dan menyetel panas dinginnya. Ada juga yang terdiri dari 2 kran, terdiri dari panas dan dingin. Karena kami sering berpindah hotel, maka setiap pindah hotel akan beradaptasi dengan jenis kran nya. Kadang bingung harus pencet tombol apa.
Pada satu agenda, aku menginap di rumah penduduk. Kamar mandinya mewah sekali. Lantainya di lapisi karpet tebal, dan pernak-pernik antik, dan lengkap juga dengan majalah. Nyaman sekali. Bathtube nya dilengkapi jacuzzi. Banyak benar tombolnya. Karena sudah malam, segan bertanya sama yang empunya rumah yang sudah beristirahat, tak jadilah bereksperimen merasakan bathtube mahal itu. Sayang sekali, aku lupa merekam foto kamar mandi itu. 

 
Toilet di hotel kami yang paling nyaman, Kota Huntsville

Mandi di kamar mandi yang bersih memang paling menyenangkan. Kalau di toilet kamar hotel, gak kan bosan berlama-lama. Tapi di musim dingin tidak boleh sering-sering mandi. Karena ternyata air dapat merusak kelembaban tubuh. Jika suka mandi, maka harus segera pakai pelembab, agar kulit tetap sehat. Satu teman kami yang malas pakai pelembab, karena katanya malu sebagai laki-laki, kulitnya jadi gatal, memerah dan keluar darah. Gak enak banget. Aku pun sempat merasai sedikit. Cepat-cepat ku perbanyak pelembab ku. 

Toilet di Amerika Serikat, jenis kering, tak ada air di lantai. 
Dalam bangunan publik, dalam toilet umumnya akan ada satu WC yang dapat digunakan oleh diffabel.  Oya...fasilitas untuk diffabel (pengguna kursi roda) sangat diperhatikan di setiap bangunan publik di AS. Sayang hal ini kurang di eksplore dalam agenda kami. Mungkinkah karena perang yang mengakibatkan banyaknya difabel membuat mereka lebih peka dalam mendesain bangunan yang nyaman bagi difabel?. Kalau di Indonesia, perjuangan untuk bangunan yang ramah terhadap diffabel ini masih jauh dari harapan.

Di bangunan publik, juga mudah ditemui toilet untuk ukuran keluarga. Rupanya toilet jenis ini untuk keluarga yang punya bayi. Ruangannya cukup besar, ayah ibu dan anaknya bisa saling membantu mengurus bayi didalamnya. Ada fasilitas untuk mengganti popok bayi dan ruang yang nyaman untuk menyusui. Enak ya?. Bangunan publiknya memikirkan fasilitas keluarga. 

Didalam toilet selalu dilengkapi wastafel untuk membasuh tangan, dengan sabun pembersih dan tissu pengering, berhadapan dengan kaca yang besar untuk memantaskan diri. WC nya selalu WC duduk.

Dalam ruang WC, juga terdapat peralatan pendukung. Seperti gulungan tissu, penggantung tas.
Sebenarnya bagiku toilet duduk untuk fasilitas umum, amat menjijikan, karena bekas duduk berbagai jenis orang. Bayangkan jika pengguna sebelumnya menderita penyakit kulit atau kelamin dan melekat di mulut toilet itu. Yaicch...gak kebayang penyakitnya juga akan ikut menular bukan?. Maka kalau sudah begini, tissu yang tersedia akan jadi penyelamat yang baik. Jika tissu habis...alamat....naiklah keatas closet duduk. Jadi gak heran kan klo ketemu toilet duduk di Indonesia bergores-gores coklat bekas pijakan sepatu. 
Di banyak toilet yang kami singgahi di AS terkadang ada tissu yang berbentuk mulut WC. fungsinya sebagai alas duduk. Jenis kertanya mirip dengan kertas roti yang tipis dan berkualitas rendah. Tapi membuat jadi lebih nyaman dalam menggunakan kloset duduk. Nah..ini solusi cerdas untuk kondisi menjijikkan tadi. 

Selama di AS, kuperhatikan Orang AS sangat pembersih. Paling khawatir kalau kuman menyebar, terutama dari bersentuhan. Kesadaran cuci tangan terlihat sangat penting, sehingga di setiap toilet/restroom, sabun pencuci tangan pasti tersedia, dilengkapi dengan tisu pengering tangan. Untuk kebiasaan ini, bagiku terasa menyenangkan. Aku jadi tak khawatir jika bersalaman di AS. Klo di Indonesia, bersalaman (dengan lelaki terutama), kadang jadi curiga, ni cowok, setelah pipis, cuci tangan gak ya?. 

Sebegitu bersih dan banyaknya peralatan pembersih dalam toilet yang ku temui di AS. Ada satu aktifitas penting yang sepertinya tak jadi kebutuhan mereka. "Cebok". Bahasa elegannya: Istinjak.

Yup...di toilet yang amat bersih itu, tidak ada fasilitas untuk cebok dengan air bersih. Maaf, aku tak pernah ngintip bagaimana orang AS cebok. Apakah cukup dengan kertas toilet saja?. 
Melihat peralatannya sih...sepertinya begitu.

Untuk hal ini aku sering geli sendiri melihat budaya mereka. Begitu bersihnya mereka menjaga tangan dari kuman. Tapi kenapa untuk urusan bagian tubuh yang vital, rentan kotoran dan penyakit, justru tak melakukan pembersihan yang maksimal. 

Nah...urusan cebok inilah yang paling sering merepotkan. Cara mensiasatinya, sebelum masuk WC, aku pasti nyari tissu dulu untuk dibasahi. Sulitnya, biasanya sudah kebelet baru masuk WC, kebayang kan jumpalitannya menahan pipis, tapi mesti nyari tissu buat dibasahi dulu?. 
Kalau buang air besar lebih repot lagi. Tissunya tentu lebih banyak :D. 
Akhirnya, pertama kali ketemu supermaket di AS, yang paling dicari adalah tissu basah bayi. :D. 

***
Satu-satunya toilet yang kutemui memiliki jet pump untuk keperluan cebok adalah di Zaman Institute, yaitu lembaga sosial yang mayoritas dijalankan oleh perempuan Arab Muslim di kota Dearbon, Michigan. Langka beneeer. 

     Bersama Ibu-ibu Zaman yang ramah dan baik hati :)


Monday, May 19, 2014

Agama dan Negara

Indonesia mengakui 5 (lima) agama yang boleh dianut oleh warga negara Indonesia yaitu, Islam, Kristen (Katolik/Protestan), Budha, Hindu, Konghucu.
Saya yakin setiap pemeluk agama, akan mengatakan bahwa agamanya adalah agama yang benar. Setiap pemeluk agama memiliki ritual ibadahnya sendiri, dan membutuhkan ruang untuk melaksanakan ibadahnya. 




Setelah mengikuti program IVLP di Amerika Serikat, aku menemui agama lainnya. Ada Yahudi, ada Mormon. 
Ternyata ada agama lain selain agama yang ditemukan oleh pemerintah Indonesia ini. 
Dari seluruh jenis agama di dunia iani, lalu kenapa hanya 5 agama yang bisa dianut di Indonesia harus dibatasi oleh pemerintah?. 
Apakah karena hanya 5 agama ini yang dianggap benar?. 
Kenapa kebenaran harus ada 5?, 
kenapa tidak satu saja?. 
Atau kenapa tidak sepuluh, seratus dan seterusnya?

Saya yakin, satu-satunya alasan kenapa 5 agama tersebut yang direstui, karena kelima kelompok itulah yang ada ketika negara ini terbentuk. 
Ok...Konghucu memang termasuk paling akhir, diakui. Namun penganutnya telah banyak dan tak pernah dianggap beragama sebelum negara akhirnya menambah dari 4 agama menjadi 5 agama. 

Ketika Negara membatasi jumlah agama yang boleh dianut hanya 5, maka tentu saja, penganut agama selain yang 5 tersebut tidak boleh ada di negara tersebut, dan tidak difasilitasi oleh negera. 
Lalu apa konsekuensi, ketika negara menyatakan pembatasan jumlah agama menjadi 5?. Tentu aja negera harus merawat kelima agama tersebut tetap terjaga, tersedia fasilitasnya, terpenuhi hak-haknya. 

Bagaimana pihak penganut agama memastikan hak-haknya tetap terjaga dan terpenuhi?. maka penganut agama akan memasuki pemengang kebijakan dan mempengaruhinya sesuai dengan misi golongannya. Dan tentu saja akan terjadi tarik menarik kepentingan. 

Contoh, Kemetrian Agama selalu dipegang oleh orang Islam, dengan dalih, Islam adalah mayoritas. Kuantitas, akan mempengaruhi jumlah orang yang akan menduduki posisi penting dalam pengambilan kebijakan. Jika minoritas mendapatkan posisi penting tersebut, akan sangat mudah digembosi oleh isu sara, sepertinya akan sangat sulit, sesulit Ahok yang etnis tionghoa duduk di pemerintahan.

Lalu dimana posisi penganut kepercayaan?. Penganut kepercayaan adalah agama asli Indonesia. Banyak jenisnya dengan jumlah yang minoritas. Oleh karena itu, keberadaanya kian tersingkir, dianggap aneh dan kolot. Dikeluarga saya, penganut aliran kepercayaan ini, terpaksa berpindah keyakinan memilih salah satu agama karena ribetnya urusan administrasi negara, jika tidak memilih suatu agama. Maka terjadilah pencampuran ritual. Mereka secara administrasi negara, beragama, namun aktifitas ritualnya tetap saja menjalankan aliran kepercayaannya. Ketika meninggal, akan dimakamkan sesuai dengan agama yang dianutnya dalam administrasi negara. Aku tau betul, nenek ku yang beragama kristen di KTP itu, tak pernah baca al-kitab. 

Pembatasan agama ini, membuat peran negara sangat berpengaruh terhadap pemeluk agama. Seringkali juga agama ini dijadikan komoditas politik yang ditarik ulur sesuai kebutuhan politik negara. Seringkali yang dituduh adalah oknum, namun secara institusi negara, Negara juga tidak bersikap cepat dan tegas dalam kerusuhan antar agama yang sering memakan korban. Tak bersikap, adalah bentuk dari pemihakan. 

Ada upaya mengilangkan poin agama dalam KTP, dan banyak yang pro kontra. Yang kontra dengan klise seolah merasa dengan hilangnya data administratif itu akan menyebabkan hilangnya jumlah manusia yang beragama. Tapi begitulah Indonesia, begitu mudahnya di provokasi oleh isu agama. 

***

Sangat sulit memahami bidang kebebasan beragama dalam department state US saat diberi kesempatan berkunjung dan berdiskusi langsung dengan mereka di Washington DC. 
Amerika serikat di mata masyarakat Indonesia kadung di cap negara sekuler, dan aku sempat berfikir kalau negara sekuler tidak perlulah mengurusi agama. Tapi ternyata tidak. Amerika serikat memiliki bidang khusus yang memastikan kebebasan memeluk agama diterima oleh setiap warga negaranya. 
Jadi bedanya dengan Indonesia, Amerika tidak dengan saklek kaku membatasi 5 jenis agama yang boleh ada di negaranya. Tapi boleh agama apa saja...bahkan membuat agama sendiri. Tapi ada aturan undang-undang yang tidak boleh dilanggar oleh agama tersebut, seperti tidak boleh poligami. agama Mormon, dan agama Islam jika berpoligami, tidak boleh berada di negara ini. 

Pemerintah AS tidak mendanai dibangunnya fasilitas ibadah apapun, namun perizinan tetap disediakan, karena pemerintah AS juga dipermudah kerja-kerjanya dengan adanya kegiatan-kegiatan sosial oleh pihak lembaga agama. 
Jika membangun rumah ibadah, prosedurnya sama di setiap agama apapun, dan saat beribadah bangunan tersebut tidak boleh menganggu kenyamanan lingkungannya. Itulah sebabnya mesjid tidak boleh azan disini. Demikian gereja, tak terdengar loncengnya.

Nah...pekerjaan bidang kebebasan beragama ini adalah memastikan setiap warga negara bebas memeluk agamanya. Menarik penjelasan dari kedua penerjemah kami saat itu. Kata mereka, Amerika Serikat adalah daerah yang didatangi oleh berbagai jenis bangsa dan negera. Ada yang terusir dari daerah asalnya karena keyakinannya berbeda dengan mayoritas disana. Mereka datang berharap menciptakan dunia baru di Amerika, dunia baru yang bebas dalam menjalankan ibadah agamanya, bebas dalam berkarya, bebas dalam apapun. Dan ketika negara Amerika Serikat terbentuk, para pendirinya berharap tujuan utama mereka tetap terjaga. Karena itulah bidang Kebebasan Beragama ini menjadi penting, dan mereka promosikan ke dunia internasional. Maka tak heran, Amerika Serikat latah juga mengurusi Rohingya, konflik Syiria, dan lain-lain. Saat kunjungan kami disana, si Bapak menyatakan keprihatinannya yang lebih intens terhadap Rohingya, karena rohingya benar-benar sangat termarginalisasi, tak ada negara yang mau melindunginya. Soal Palestina...hmm..ada perdebatan cukup menarik disini, lain kali akan kuceritakan.

***

Aku jadi teringat buku Nucholis Majid dalam Islam Doktrin dan Peradaban. Disebutnya, bahwa komunis bisa disebut sebagai agama baru. Agama buatan manusia.Istilahnya saja yang berganti dengan ideologi, tapi sebenarnya pada prakteknya terdapat tipologi yang dengan agama-agama langit. Karena faktanya, ideologi tersebut punya buku (suci) yang jadi panduan, dan juga memiliki ritual-ritual dalam rangka menjaga doktrinnya tetap lestari. Komunis, sosialis, juga memiliki hal tersebut. 

Jika Komunis adalah agama, maka demokrasi pun sebenarnya agama baru bukan?. 

Di Amerika Serikat, sebagai negara yang sangat membanggakan demokrasinya, aku bisa lihat ritual-ritual yang kental tersebut. Seperti Capital building yang penuh dengan simbol rakyat. Dari ornamen hasil panen, lukisan para pejuang,  pilar-pilar, bentuk bangunan, tata kota ,semuanya demi menghayati peran rakyat. Setiap memulai pertandingan, adanya penghormatan terhadap bendera, pidato penghargaan terhadap tentara yang telah mengabdi, penghargaan klub olahraga terhadap fans clubnya. Semua adalah ritual, yang awalnya adalah bentuk penghargaan dan aktifitas untuk menghayati makna-makan sosial yang dijunjung tinggi kemudian diteruskan menjadi tradisi. 

Ya...'agama' besar Amerika Serikat adalah demokrasi, dan dibawahnya agama-agama lain diperbolehkan hidup berdampingan. Karena memang hanya 'agama' demokrasi itu lah yang mampu memberikan ruang bagi kebebasan agama. Tidak akan ditemukan, jika negeranya berdasar Kristen, Yahudi, atau bahkan Islam. 

Jangan coba-coba menghina agama lain, di negeri Amerika Serikat, jika ada yang tersinggung anda bisa dilaporkan dan segera diproses dalam hukum. Hal ini termasuk dengan membuat tindakan yang merusak simbol-simbol agama lain. FBI yang juga sempat kami temui, memiliki badan khusus yang segera membereskannya.

***

Kembali berbicara pada keberagama agama di Indonesia. Kita pura-pura tidak mau melihat ada masalah dengan keberagaman agama di negeri kita. Kian hari kian carut marut. Jika kita benar-benar mau merefleksi diri maka biang kerok dari konflik antar agama tersebut adalah kekuasaan, (bukan agama itu sendiri). Perhatikanlah konflik-konflik yang meletus seringkali terkait dengan pemilu, pilkada, pilkades, bahkan sampai ranah kompetisi ajang bakat di televisi.
Oleh karena itu, ada baiknya perubahan negeri ini ke depan adalah mencabut pengaruh agama terhadap negara. Biarlah agama dikembalikan pengaruhnya agar lebih memperkuat penganutnya masing-masing. Pencabutan pengaruh agama terhadap negara tidak akan merusak negara, jika agama benar-benar dipahami oleh setiap individu.

Pencabutan pengaruh agama terhadap negera tidak akan merusak agama. 
Toh agama tersebut memiliki Tuhan-nya masing-masing yang maha Kuasa tanpa harus dibantu oleh penguasa bernama Negara. 
Bagaimana?. Anda setuju?.
.






Thursday, February 27, 2014

Amerika Serikat dan Kebijakan Luar Negerinya

Aku sangat gusar karena Trevor R. Olson, wakil konsulat Amerika Serikat (AS) di Medan menyatakan tidak ada hubungannya rakyat AS (dirinya) dengan kebijakan luar negeri AS.
Saat itu kesal tak terucapku, tapi tentu saja aku sangat..sangat ..sangat....tidak percaya.

Tadinya aku menjawab pertanyaannya tentang bagaimana masyarakat Islam disekitarku menilai AS.
Jujur saja kujawab.
Ya, Lingkungan sekitarku sangat membenci AS.

Kenapa?

jawabnya karena kebijakan-kebijakan luar negeri AS yang bikin gregetan. Soal Palestina, soal perang Irak, dll.semua terkesan arogan dan tidak fair.
Dibelakangnya terendus motivasi bisnis, culas.

Kusampaikan pada Trevor saat perkenalanku masuk sebagai nominasi dalam program IVLP (International Visitor Leadership Program), siapapun warga Indonesia yang berhubungan dengan AS pasti di cap Liberal (negatif).
Misal seseorang disekolahkan di AS, kembali ke Indonesia, pasti mendapat stereotip liberal, alias antek Amerika. Dan sejujurnya aku saat itu  merasakan dan sedang mempersiapkan diri menerima stereotip tersebut juga jika lolos dan diterima dalam program IVLP.

Aku bisa melihat Trevor juga gusar karena generalisasi tersebut. Tapi yah...beginilah cewek batak bicara, apa adanya, dan tak perlu berbelok-belok walau pada saat tertentu aku juga bisa berbicara lebih diplomatis dan melunak.

Kesimpulan Trevor saat itu, dia harus lebih banyak membaca lagi.
Yap...itu cara yang baik, jawabku saat itu. 

****
Mungkinkah karena pembicaraan yang sedikit sengit itu, aku terpilih menjadi peserta IVLP?
Sampai sekarang, tetap misteri bagiku
tapi ya...kunikmati sajalah misteri ini, menjalani 5 negera bagian Amerika yang orang Amerika sendiri pun belum tentu pernah menikmatinya. Sungguh aku merasa sangat beruntung. 

Kegusaranku terjawab dalam pertemuan dengan Mr. Akram R. Elias, Presiden of Capital Communication Group, Inc. dengan sangat lugas dan mencengangkanku saat itu. Si Bapak ini sangat lihai menjelaskan sistem demokrasi AS dalam waktu pertemuan kami yang tak lebih dari 2 jam. Seluruh tubuhnya bergerak penuh semangat, sekali-kali dia berkata sambil menatap mata kami "are you with me". Hei..kalimat itu berhasil mengalahkan kelelahan kami yang masih terpengaruh jet lag. Hari itu, di Wasington DC, adalah hari ketiga kami melakukan meeting untuk program IVLP.

Akan kuuraikan bagaimana sistem demokrasi di AS dalam tulisan tersendiri.
Mengingat Akram adalah orang yang sangat paham dengan sistem pemerintahan AS, maka kukira tepatlah pertanyaan ini kusampaikan padanya tentang pembicaraanku dengan Trevor sebelum berangkat ke AS. 
Kukaitkan juga dengan penjelasannya tentang demokrasi AS yang sangat demokratis sehingga memungkinkan seorang Obama yang 20 tahun yang lalu bukan siapa-siapa bisa menjadi presiden AS saat itu.


Dan dijawabnya begini:

"YA dan TIDAK". 
Dia diam sejenak, dan saat itu aku bingung dan sebal juga. Huuh...jawaban yang aneh. 

"Tidak, artinya begini, Rakyat AS tidak ada hubungan dengan kebijakan luar negeri AS, karena 98% rakyat AS sesungguh tidak perduli terhadap apa yang terjadi di belahan negara lain selain AS, Ya...mereka sangat kritis terhadap jalannya pemerintah mereka dalam mengelola negaranya, tetapi tidak perduli terhadap kondisi negara lain. Hal ini, kemudian menyebabkan tidak ada kontrol terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat, 
Siapa yang mengendalikan kebijakan luar negeri Amerika Serikat tersebut?. ya warga negara yang tersisa yaitu 2%.
jadi YA, itu adalah suara dari 2% warga AS. 
dan TIDAK, adalah  jumlah 98% warga AS yang tidak perduli.
Maka hal itulah yang membentuk kebijakan luar negeri AS".

Aku terhenyak dengan jawaban itu, dan tak bertanya lebih detail, siapa saja 2% itu?. kenapa jumlahnya 2%?. data dari mana?.

Aku hanya teringat saat pidato Barack Obama pada kampanye-kampanye nya di saat pertama kali dia berusaha menjadi Presiden AS. Sampai-sampai pidato itu ku kipling dalam blog karena kagum terhadap cara pandang mereka terhadap dunia, bukan AS semata. ternyata, tak semua warga AS memikirkan dunia. 

Lalu pak Akram menambahi, 
"Rakyat AS akan berekasi terhadap kebijakan luar negeri AS, jika berkaitan dengan perang. Kenapa?
Karena perang berkaitan dengan anggota keluarga mereka yang akan dilibatkan dalam perang. Eh...tunggu dulu kalau perang, untuk apa, kenapa. disitulah baru kebijakan luar negri menjadi perhatian rakyat AS. 
Jadi selama tak mempengaruhi kehidupan mereka, rakyat AS, menyerahkan sepenuhnya kebijakan luar negri AS, kepada pihak pemerintah".

****
hmmm....egois bukan?.

Selesai diskusi dengan pak Akram, kami berkunjung melihat Capitol Building secara langsung. Pak Hengky, penerjemah kami yang gemar berdiskusi itu mencari umpan balik perubahan sudut pandang kami terhadap amerika. 
lalu, kujawab, pembicaraan inilah salah satu yang paling membuatku berbeda melihat amerika saat ini.
Pak Hengky menyimpulkan, nanti tanyalah kepada pihak federal, siapa yang 2% itu.

Aku terdiam.
Diantara pilar-pilar megah simbol demokrasi di gedung Capital hari itu, 
aku menemukan sendiri jawabannya
dan tak perlu kutanyakan lagi.
ada rasa mual dan sedih.

***
kau bisa jawab siapa mereka?
****

Mari berkaca dengan kebijakan luar negeri Indonesia yang sangat menyebalkan terhadap negara tetangganya. Seperti tercabutnya dua pulau sipadan dan ligitan dari Indonesia, ato masalah Reog Ponorogo dan Tari Pendet yang hendak dicaplok negara tetangga, ataupun perlindungan TKI yang disiksa oleh di negara lain.

Bisakah rakyat kita beri pengaruh terhadap kebijakan politik luar negri kita?.

Meski kita perduli, tapi kenyataannya tak bisa seperti yang kita harapkan.
orang-orang pemangku jabatan juga yang menentukan.

Aah...paling tidak, kita, Rakyat Indonesia, lebih perduli....terhadap kondisi dunia internasional.
**