Monday, August 30, 2021

Mengukur kesadaran Anti Korupsi Arsitek pada Penataran Kode Etik Profesi Arsitek

Penataran Kode Etik dan tata laku Arsitek menjadi kegiatan wajib yang harus diikuti sebelum mendapatkan Surat Tanda Registrasi Arsitek dari Dewan Arsitek. IAI menjadi penyelenggara satu-satunya. Kebijakan baru ini sebenarnya sudah dijalankan IAI sejak lama. Namun ketika aku mulai berkecimpung sebagai wakil ketua I baru menyadari bahwa sistem pendidikan di penataran ini masih perlu disempurnakan. Tentu saja jika dibandingkan dengan berbagai pelatihan yang kulakukan di HMI, banyak metode yang dilakukan untuk menguatkan afektif peserta. Penataran Kode Etik ini, memiliki output yang besar dalam perubahan etika arsitek dalam melakukan praktek profesi.

Tentu saja, sebagai profesi yang sangat lekat dengan pembangunan, profesi ini berada dalam lingakran korupsi. Dan dari 7 penataran yang ada diwajibkan di IAI selama ini, pendidikan anti korupsi tidak tersusun secara sistematis namun seharusnya sangat lekat. 
Setelah sukses di penataran kode etik yang pertama kukelola sebagai moderator, aku tak ingin melepas perubahan sistem yang dapat kulakukan selagi menjabat sebagai ketua. Aku tetap mensupervisi panitia dan melakukan beberapa perubahan. 
Salah satu perubahan yang kulakukan adalah membuat sistem evaluasi pre test dan post test. 

Di dalamnya kuberikan muatan anti korupsi. Kasusnya kuambil dari kartu bermain Majo milik SPAK yang telah teruji dengan kartu kasusnya. Kupilih 4 kasus yang lekat dengan dunia kerja arsitek.  Secara umum memang sulit membedakan suap, gratifikasi dan pemerasan. Namun setelah membandingkan hasil pre test dan post test peserta, dapat terlihat peningkatan wawasan mereka tentang anti korupsi. 
Senang rasanya.





Jadi, meskipun tidak memberikan materi khusus tentang suap, gratifikasi dan pemerasaran, peserta tampaknya belajar mandiri agar bisa menjawab test dengan lebih baik. Semoga ya...setelah ini mereka lebih kritis menyadari tindakan korupsi di sekitar mereka. Dan tentu saja berani mewalan korupsi adalah target utama dari etika dan tata laku arsitek di dunia profesinya. Alhamdulillah 

Dari gambar diatas bisa dilihat perubahan kemampuan peserta dalam menjawab seluruh soal, baik terkait Kode etik, maupun soal kasus anti korupsi. O iya...perlu diingat, bahwa soal pre test dan post test isinya sama. Hanya waktu yang berbeda. Pre test diberikan sebelum penataran. dengan waktu mengerjakan satu hari, sedangkan post test, diberikan setelah selesai penataran kode etik berbarengan dengan absen kehadiran terakhir yang juga evaluasi kegiatan. Pengerjaan post test ini diberi waktu 2 jam. Tadinya panitianya terlalu baik, memberi waktu sampai satu hari. Tapi kudesak saja dalam satu jam. Dan memang rata-rata peserta menjawab dalam rentang waktu satu jam setelah penataran selesai. Tak ada lelah mereka setelah seharian penataran. 

Rencananya hasil google form ini akan kuolah menjadi bahan penelitian untuk jurnal anti korupsi. Sekali mendayung, satu dua pulau terlampuai. 

Sebenarnya bukan cuma dua pulau yang kulewati, coba hitung yaa...dengan kegiatan ini aku bisa merubah sistem di IAI dengan menerapkan pre test dan post test IAI, meningkatkan kesadaran antikorupsi Arsitek, jika berhasil kupublikasikan di jurnal, dapat mendukung jumlah penelitian ku dan tentu saja keberlanjutan penyuluhan anti korupsi di bidang akademis. heheh. Semangat :)

Kalau kamu mau menerapkannya di asosiasi profesimu, silahkan duplikasi formnya disini: 

No comments: