Monday, July 26, 2010

Pesan untuk Anak Bangsa




Wahai Anak-anakku..
kaulah penerus bangsa
calon tulang punggung kehidupan bangsa
sang pewaris negeri masa depan

karena itu...
sekolahlah setinggi-tingginya nak...

setinggi-tinggi biaya sekolah
yang kujerat di leher para orangtuamu
sebagai anak yang berbakti....
agaknya kau pun harus bantu menanggung bebannya
tak perduli kau harus mengais di jalanan
atau menyerah dengan gantung diri karena malu

belajarlah banyak hal anak bangsaku
tapi jangan sampai pintar ya?!

telah kusediakan sekolah-sekolah agar kau jadi buruh selamanya
beberapa didesain agar kau dapat dijadikan budak

Oya...siapkanlah Ragamu
agar lebih teguh dari baja terbaik

meski kurang gizi akan selalu tertebar mengancammu
dan telah kubiarkan aroma narkoba di sekitarmu
Kurayu-rayu kau menghisap tembakau,
diteladankan oleh orang-orang yang kau hormati.
Bapakmu, ibumu, bahkan gurumu.

tak lupa kupajang iklan rokok tepat di depan sekolahmu
biar kau kembali teringat pada benda itu
sehingga memballah semua teori kesehatan
yang barusan kau hapal mati di gedong itu

Anakku..Jiwa mu pun harus kau pegang erat-erat
karena akan kumabukkan kau dengan permainan hawa nafsu
infotaintment gombal, sinetron cengeng, parno-parni
mengepung, menjelma bagai nafasmu
biar kau akan slalu mabuk bercinta-cintaan
dan bersegera beranak pinak

lalu kau sibuk mengurusi dirimu sendiri
dan lupa berbicara keadilan
tentang hak-hak kehidupanmu yang kutilap
lalu kujual kembali dengan mahal padamu

Nah...selamat bertarung hidup di negeri ini
berjuanglah..
Dan jadilah penerus bangsa yang tangguh
tahan uji terhadap cobaan-cobaan itu

jika kau mampu melewatinya
Kita akan jadi bangsa besar

jika kau gagal
Alamat kiamatlah negeri ini
bila saat itu tiba
semoga aku sudah menutup mata

Selamat hari anak nasional!.

Monday, July 12, 2010

Belajarlah ke negeri Ci......Korea


Ada pepatah yang kusuka, konon berasal dari bangsa Korea. Isinya ku kliping dalam blogku. Isinya:
"Ketika orang lain sedang tidur, kamu harus bangun. Ketika orang lain bangun, kamu harus berjalan. Ketika orang lain berjalan, kamu harus berlari. Dan ketika orang lain berlari, kamu harus terbang."

Pepatah ini, berarti selangkah lebih maju. Tak tergapai. visioner.

Tapi tulisan ini bukan ingin mengupas pepatah tersebut. Hanya saja belakangan ini, aku makin kagum saja dengan Korea. Bukan dari pepatahnya, tapi dari FILM.

Biasanya kalau ditawarkan nonton film Korea, banyak orang ngebayangi kisah romantisnya, atau sedih menyayat nyayat. Sampai ada iklan di Indonesia yang menggambarkan kemampuan film korea menguras air mata. (maaf aku lupa iklan apa..). Ah..ya...Indonesia juga di hebohkan dengan film korea juga. Sampai sinetron Indonesia pun meniru mentah-mentah cerita film Korea.

Korea memang menghanyutkan.

Awalnya sih cuek aja. Film apalagi sinetron, melodrama, telenovela, dan keluarganya itu, cuma penghibur. Kegiatan buang-buang waktu, sambil bermain-main dengan hayalan romantisme. Andai...andai..gitu deeh :D

Ada juga dulu temen kenalanku di Friendster sankin senangnya nonton film korea, sampai buat blog khusus resensi film korea yang sudah di tontonnya. Khusus Korea!. wuiii...ada-ada aja. Aneh. Gak penting banget..itulah pikiranku saat itu.

Well...
Harus diakui klo aku terkena virus dari adikku yang tergila-gila dengan Flower Four, QSD, de-el-el nya. Dari pada Sakit kepala nonton sinetron Indonesia yang selalu saja bertema harta, tahta, wanita. Lebih sakit kepala saat ganti chanel berita seputar Indonesia, yang ada sinetron KPK, pertarungan cicak dan buaya, buaya dan buaya-buayaan dan agaknya semakin sering menayangkan berita jenis sinetron versi analogi seluruh binatang.

Maka berterimakasih seisi rumah, atas kebaikan adikku menyisakan gaji tak seberapanya membeli CD murahan, khusus film korea. Kenapa Korea?. Mungkin karena dia pikir wajahnya mirip orang korea ya? entahlah. Tapi anehnya adikku ini, sampai suka bicara bahasa korea. Dengarkan musik pun berbahasa korea. padahal...ngerti pun tidak. klo pun tau cuma hana aseyoo...apa kabaar. gitu aja...
Pokoknya awalnya nyebelin ngeliat kecanduannya dengan film korea.

Nah karena pilihan hiburan malam, setelah penat bekerja hanya film korea. Apa boleh buat, nongkrong juga bengong di depan tv. Ups...pernah sampai bergadang tuh...nonton film bersambungnya....

Apa yang menarik dari film korea?
Ya...tema cinta memang jadi bahan cerita yang menarik di bagian dunia manapun.
Tapi...dalam film korea, cerita cinta kulihat cuma bumbu pemanis...eh tepatnya garamnya lah. Gizi film sebenarnya ada di latar belakang kehidupan tokohnya. Seperti misalnya film QSD, Quen of Suen Deok.
Cerita tentang Ratu pertama Korea. Bicara kisah cintanya, yang menonton sampai patah hati. Sedih. Malah ada temen sampai 2 minggu sedih serasa dia yang patah hati. Segitu nya ya?. Tapi tak berlebihan, alur ceritanya...seperti juga kebanyakan film korea lainnya, membuat penonton harus siapkan tissue lah. Dibalik kisah cinta menyayat itu...banyak pembelajaran sebenarnya. Penonton diajari apa sebenarnya politik, untuk apa politik, dan bagaimana strategi dan taktik mendapatkan kekuasaan.

Maaf aku jarang memperhatikan judulnya.
Di film korea lainnya, ada yang berkisah tentang jatuh bangun menjalankan usaha. Di mulai dengan karyawan yang tak punya cita-cita, tergerak mendirikan usaha untuk menolong teman, kemudian jatuh bangun sampai tak punya tempat tinggal. Film ini diakhir memberi pesan hemat, dan memberikan kepercayaan kepada orang yang teruji dapat dipercaya dan hemat.

Film lainnya ada pula bercerita tentang pengacara yang ingin merubah almamaternya jauh lebih baik. Dengan cara tak sengaja mendapat kesempatan memperbaiki, pengacara tersebut memilih 5 siswa untuk dijadikan percontohan. Guru pun di cari pilihan dari luar sekolah. Nah disini guru mengajar dengan cara yang unik. Berbeda dengan cara konvesional. Lucu. Tapi sebenarnya mengajarkan teknik mengajar. Mengkritik stereotip guru kepada muridnya. Membongkar isi hati murid, yang tentu saja tak berani di ungkap di dunia nyata. Takut nilai jelek atau apalah. Film ini juga mengajarkan cara menegakkan disiplin tanpa kekerasan.

Film lainnya ada pula yang bercerita tentang bursa saham. Nah disini, penonton diajari banyak istilah ekonomi makro mikro. Awalnya cerita tentang seorang anak muda pinter yang iseng bermain bursa saham dan menang. Ternyata dibalik bursa saham, ada permainan tingkat tinggi yang menyerempet hingga pada politik. Panaslah kepala dengan intrik-intriknya. Tapi kisa cinta selalu ada sebagai penyedap rasanya. Asyik. Pesan dari film ini, bermain bursa saham menuntungkan karena ada nya ikan kecil yang bisa dibodohi untuk membeli saham perusahaan tertentu. Jual beli saham tanpa mengecek perusahaannya, di satu pihak untuk pragmatis seseorang, tapi bisa berakibat fatal pada perusahaan yang sebenarnya dalam kondisi produksi yang baik baik saja. Perusahaan bangkrut karena saham jatuh, sebagian orang tersebut untung, tapi karyawan pabrik bangkrut tersebut harus kehilangan pekerjaan. Kejamnya dunia di tampilkan. Membuka kesadaran, betapa bursa saham, tanpa memastikan keadaan saham, sama saja dengan bermain judi.

Sisi lain dari film korea adalah, selipan kearifan budaya dan taat peraturan. Contohnya, adegan sedang membawa mobil, lalu dapat panggilan telepon. Kalau di Indonesia, biasanya nyerocos aja menjawab panggilan, tanpa peduli, sikap seperti itu bisa membahayakan pengedara dan pengguna jalan. Nah kalau film korea, selalu tuh pake headset, paling tidak berhenti, baru menganggkat telepon.

Juga adegan bersih-bersih diri. Seringkali di buat secara detail. Seolah-olah mengajari yang nonton untuk mandi, dan sikat gigi yang benar. Perhatikan aja film Full house. Sangat banyak adegan bersih-bersih disana. Konon sih...ingin menunjukkan kalau Korea itu bangsa yang cinta kebersihan. Jadi di film itu, juga ingin mendidik yang menonton juga....nah...sampai sedetail itu pun diperhatikan si produser film. Kalau seudah begini watak produser film, agaknya gak perlu iklan khusus untuk layanan sosial lah...irit kas negara. :D

Banyak hal yang bisa diulas dari film Korea, dan harus kuakui, dari sudut pandang penikmat film, hebat kemampuan orang korea dalam mengemas cerita. Terkesan film tak dibuat hanya untuk mengejar rating tapi memang memaparkan kehidupan nyata dan pesan kepada peradaban. Biasanya kisah kehidupan sering dianggap sendu. Kisah permainan politik, ekonomi, pastilah dihindari untuk ditonton, berat atau membosankan. Tapi film korea tidak. Malah meramunya, politik, cinta, komedi, menjadi santapan pemirsa. Politik adalah dunia nyata, ekonomi juga. Kenapa harus lari dari kondisi nyata. Dengan ramuan cinta, kejenuhan pada ide politik dan ekonomi justru nikmat di telan dan.....BERGIZI.

Terutama para pekerja film Indonesia....Yuk mari berajar dari film Korea.



*****************
~ditulis dan tersimpan sejak April 2010~

Friday, June 25, 2010

Saat Cinta




duhai saat diam renungkan kehidupan
resah menjelma dan lahirkan puisi
tertiup ruh dan bernyawa bagai rapalan sihir
kemudian abadi dalam rekam sejarah

duhai saat cinta
tiada rasa yang lebih indah
dari saat jatuh cinta
tiada cipta yang lebih menakjubkan
dari saat tercipta dalam cinta

Thursday, May 27, 2010

kabar duka: KEMBALINYA PERPLONCOAN DI ARSITEKTUR USU

Baiklah akan kujelaskan, dan memang harus kujelaskan mengapa aku menuliskan SMS ini kepada seseorang itu.

"Selamat ya kak, udah jd Kepala Preman kampus arsitek USU. Jangan tanggung2, jadikan adik2 tu saingan PP ma IPK sekalian, biar arsitek gak dicap teknik banci lg. Semoga puas td diperkaderan IMAnya".

Latar belakangnya adalah:
IMA mengadakan perkaderan untuk angkatan 08 pada tanggal 19 mei-20 mei 2010 di kampus arsitektur usu. Awalnya kegiatan itu sudah diformat dalam bentuk pelatihan yang jelas tujuan dan kegiatannya. Namun atas desakan oknum alumni tsb, kegiatan itu di isi Alumni, dengan kegiatan yang mengarah pada PLONCO!.
Kegiatan tersebut, diadakan tanpa seijin dari Fakultas. Namun, dengan cara yang licik, oknum tersebut mengkondisikan kegiatan tersebut seolah mendapat restu dari lembaga pendidikan Kampus. Terbukti tidak ada bukti tertulis menyatakan ijin pelaksanaan kegiatan dengan salah satu materi kegiatannya: PLONCO!.
Sejak 2003, tidak ada ospek yang bersifat plonco yang diadakan di Teknik USU. Dan siapapun mahasiswa yang mencoba mengembalikan budaya ini, akan mendapat sanksi dan terancam D.O.


Saya sangat kecewa dengan tindakan Oknum yang mengembalikan budaya yang telah dihapus di Teknik USU.

alasan utama nya adalah:
Saya tidak pernah bisa terima perploncoan/ospek dalam bentuk dan wajah baru apapun. Apalagi dalam hal ini, publik menganggap kehadiran beliau di perkaderan IMA atas nama organisasi Alumni, karena beliau kebetulan menjabat ketua umum organisasi alumni.
Ciri-ciri perploncoan dalam kegiatan itu adalah:
1. Dilakukan tanpa sepengetahuan dan ijin resmi kampus arsitek/Fakultas Teknik USU. Jika ada issue yang mengatakan ada ijin dari kampus dari via telepon atau pernah ketemu, hal ini tidak dapat dijadikan alasan dan bukti. Penyebaran informasi/issue tanpa fakta tertulis adalah tradisi preman, dan bukan budaya organisasi, apalagi organisasi mahasiswa yang identik dengan intelektual (ada data dan sumber hukum kenapa sebuah kegiatan harus dilakukan).
2. Didalam kegiatan PLONCO ada unsur kekerasan. Meski kegiatan perkaderan 08 diatas tidak sampai pada kekerasan fisik namun tetap ada kekerasan verbal (kekerasan oleh ucapan2 yang meremehkan, melecehkan, menganggap rendah). Meski satu bentuk kekerasan saja pun yang terjadi atau seringan apapun bentuk kekerasan yang dialami, sama sekali tidak pantas dibenarkan ada di lembaga pendidikan yang bertugas me"manusia"kan manusia.

Organisasi Alumni sama sekali tidak berhak mengurusi perkaderan Ikatan Mahasiswa USU. Tidak diatur di AD ART organisasi alumni maupun Aturan IMA. Kecuali, IMA yang mengundang. (tetap secara resmi, tertulis). Dan saya benar-benar kecewa karena IMA tidak bisa tegas dalam hal ini.

Tindakan beliau tersebut saya sebut premanisme, karena beliau melakukan pemaksaan kehendak, pada IMA, mengancam mahasiswa tanpa dasar (padahal jika ospek dilakukan tanpa ijin, jelas IMA dapat diancam sanksi pelanggaran kode etik di kampus). Dan melakukan kegiatan yang tidak jelas,tidak terstruktur, tidak terarah, TIDAK ada hubungannya dunia pendidikan. (tidak ada hubungan kekerasan yang tujuannya kompak dan menghormati senior dengan pendidikan. Interaksi senior dan alumni justru sering terjebak pada hubungan untuk mepermudah tugas2 kuliah senior). Dan tidak dilakukan melalui prosedur resmi yang ada di organisasi IAA, seperti rapat pengurus dan surat menyurat. Maka tindakan beliau, meski menjabat sebagai ketua umum, telah melenceng dari aturan organisasi, dengan telah TIDAK "Memelihara serta menjunjung tinggi citra dan kehormatan IAA -USU dan USU sebagai Almamater" (yaitu melanggar Tujuan berdirinya IAA).

Tindakan beliau, telah mengganggu kenyamanan perkuliahan, dan membuat beberapa mahasiswa meninggalkan perkuliahannya, yang ini tentu saja tidak sesuai dengan upaya membangun karakter bangsa (seperti yang tercantum pada Usaha IAA, Mendorong dan melakukan kerjasama peningkatan karakter dan kompetensi intelektual anggotanya dalam rangka pembelajaran sepanjang hayat agar kehadiran Alumni Arsitektur USU dapat membangun karakter bangsa.)

Karena tindakan tersebut sama sekali tidak sesuai dengan tujuan organisasi dan tanpa prosedur resmi organisasi, maka kehadiran beliau di perkaderan IMA adalah tindakan pribadi. Dan kekerasan yang ditimbulkannya hanya pantas dilakukan oleh Preman, sama sekali tidak bisa disebut tindakan seorang intelektual.
Karena beliau memobilisasi Alumni untuk mendukung tindakannya dan turut hadir melakukan hal yang sama, maka pantaslah beliau disebut "Kepala Preman".

Baik...
saya tahu akan banyak yang tidak setuju dengan apa yang saya sampaikan. Karena budaya kekerasan telah dianggap sesuatu yang" baik" oleh sekelompok alumni Arsitektur USU. Tapi saya tidak butuh persetujuan alumni yang berfikir kekerasan adalah hal yang baik.
Saya sampaikan pada adik-adik mahasiswa, tidak semua alumni setuju pada tindakan ospek/PERPLONCOAN dikampus. Perbuatan ketua alumni tersebut (setelah mendesak IMA yang penakut) telah mengembalikan sistem pembodohan ke dalam kampus. Sebuah tindakan yang sangat tidak bijaksana dan KERDIL.
Sebagai salah satu pengurus, saya mohon maaf kepada seluruh mahasiswa dan civitas akademika kampus USU, dan menyatakan bahwa tindakan beliau bukan atas nama Ikatan Alumni Arsitektur USU, dan tidak mencermin tujuan dan semangat didirikannya IAA USU.

Kepada para alumni yang setuju pada perploncoan, saya harap segera berhenti mewariskan perploncoan di perkaderah IMA. Karena:
1. Kepatuhan kepada senior adalah mental penjajahan. Membuat penganutnya tidak merdeka menyampaikan pendapat kebenaran. Lari dari semangat mahasiswa yang berjuang untuk merdeka setiap bentuk penjajahan. Mental Merdeka adalah kepatuhan terhadap kebenaran. (adalah tidak benar jika mahasiswa lebih memilih perkaderan/plonco padahal jam perkuliahannya berlangsung disaat yang sama).
2. Plonco/ospek adalah bentuk kekerasan. Didalam Rumah tangga saja tidak boleh ada bentuk2 kekerasan(fisik, psikis, verbal) yang telah jelas oleh UU PKDRT, apalagi di instusi pendidikan.
3. Jika mahasiswa tidak menyadari dia telah mengalami kekerasan bukan berarti tidak ada Kekerasan yang terjadi. Mengubah paradigma kekerasan adalah hal yang sering dilakukan oleh pelaku kekerasan, sehingga korban tidak merasa mengalami, namun secara fisik dan psikis korban telah terganggu. Korban kekerasan biasanya ketakutan atau merasa terancam untuk mengadukan kondisi yang dia alami. Efek jangka panjangnya adalah: korban kekerasan akan cenderung meneruskan kekerasan yang dialaminya kepada orang yang lebih lemah.
4. Plonco/ospek adalah pelanggaran HAM yang menyatakan bahwa "Tidak seorangpun yang boleh melakukan penindasan dan diskriminasi". Plonco jelas-jelas adalah bentuk diskriminasi kepada mahasiswa baru.
5. Jika ada kebutuhan perkenalan antara alumni dengan mahasiswa arsitektur, Alumni Arsitektur USU, selayaknya dikenal karena karyanya bukan pada kesempatannya untuk melakukan plonco pada adik-adik mahasiswa.

DAN BELIAU MEMBALAS SMS KU DIATAS, sebagai berikut:

Makasih lah. sdh berifikir yg tidk2. Walaupun bgitu dikaw hasil dari kepremanan itu kan. Yah sdh hebatlah dkaw. Emang udah buat apa sih utk IMA waktu mahasiswa dulu. Ini bkn cuma pemikiran aq aja. Tp sdh didiskusikan dgn alumni yg lain. Mereka setuju. Tp terserah lah apa katamu

maka jawabku melalui tulisan ini:

Makasih lah. sdh berifikir yg tidk2.
1. Saya tidak berfikir yang tidak2. tapi punya alasan yang jelas, dasar yang jelas, dan telah saya uraikan diatas.

Walaupun bgitu dikaw hasil dari kepremanan itu kan.
2. Meskipun saya adalah hasil kepremanan itu, bukan berarti saya harus meneruskan kepremanan itu kepada adik2 saya. Meski orangtua saya Preman, saya tidak harus jadi preman juga. Perubahan bagi saya, harus ada!. Maaf, Yang ingin saya wariskan kepada adik2 saya adalah tindakan intelektual, sebagaimana selayaknya tindakan seorang mahasiswa.

Yah sdh hebatlah dkaw. Emang udah buat apa sih utk IMA waktu mahasiswa dulu.

3.oohohoh...meski beliau lebih hebat mengabdi di IMA, bukan berarti berhak melakukan hal-hal diatas.
Saya akui beliau lebih hebat jika ukuran berbuat ke IMA adalah Perploncoan yang dilakukannya hampir kepada setiap angkatan mahasiswa arsitektur USU.

Ini bkn cuma pemikiran aq aja. Tp sdh didiskusikan dgn alumni yg lain. Mereka setuju.
4. Tindakan seorang ketua yang bukan didiskusian oleh sesama pengurus dulu, tanpa rapat, tapi memutuskan sendiri dan lebih mendengarkan alumni yang lain...ciri-ciri ini bukan organisasi yang dikelola orang-orang yang pernah duduk di perguruan tinggi..tapi tindakan yang wajar jika di organisasi preman.

Tp terserah lah apa katamu
5. Kataku: STOP IT OK!. Jangan jadikan IAA organisasi preman.

SAYA TANTANG:
Kepada Siapapun yang menganggap perploncoan adalah sesuatu yang harus diteruskan di Arsitektur USU untuk:
1. Menjelaskan, dan memberikan pernyataan kepada Pihak Fakultas/Mahasiswa/Masyarakat umum, alasan logis kenapa perploncoan adalah hal yang baik dan harus ada di kampus.
2. Minta ijin resmi kepada pihak FAKULTAS secara tertulis, jelas dan tegas menyatakan untuk mengadakan PERPLONCOAN di kampus.

Jika tidak, maka tindakan anda adalah tindakan PENGECUT yang bertujuan untuk menjerumuskan adik-adik mahasiswa agar terkena sanksi D.O. !.

” Perempuan-perempuan Perkasa”

Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta, dari manakah mereka. Ke
stasiun kereta mereka datang dari bukit-bukit desa
sebelum peluit kereta pagi terjaga
sebelum hari bermula dalam pesta kerja

Perempuan-perempuan yang membawa bakul dalam kereta, kemanakah mereka
di atas roda-roda baja mereka berkendara
mereka berlomba dengan surya menuju gerbang kota
merebut hidup di pasar-pasar kota

Perempuan-perempuan perkasa yang membawa bakul di pagi buta, siapakah mereka
mereka ialah ibu-ibu berhati baja, perempuan-perempuan perkasa
akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota
mereka : cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa

****

karya:Hartoyo Andangjaya

Saturday, May 22, 2010

Judul yang Menjebak : Gerwani bukan PKI

Gerwani Bukan PKI: Sebuah Gerakan Feminisme Terbesar di Indonesia Gerwani Bukan PKI: Sebuah Gerakan Feminisme Terbesar di Indonesia by Hikmah Diniah


My rating: 2 of 5 stars
Bisa jadi pembaca merasa tertipu dengan judul buku ini. Karena isinya memang tak menegaskan bahwa Gerwani bukan PKI.Atau mungkin, judul ini sengaja di pilih sebagai teknik pemasaran agar pembaca penasaran dengan judul yang kontra dengan pemahaman masyarakat umum.

Sampai bagian penutup, buku ini malah menjelaskan bahwa PKI dan Gerwani tak bisa dipisahkan. Kebijakan PKI sangat berpengaruh di tubuh Gerwani. Sejak dari idiologi, struktur kepengurusan, dan keberadaan tokoh-tokoh gerwani yang sebagian besar merupakan keluarga Komunis, penjelasan buku ini justru mengukuhkan keberadaan Gerwani sebagai organisasi sayap PKI untuk gerakan perempuan di Indonesia. Satu-satunya pembelaan terhadap Gerwani adalah ketidakterlibatan Gerwani pada pemberontakan G 30 S/PKI yang di uraikan melalui kutipan buku dan wawancara yang bersumber dari tokoh Gerwani.

Tak banyak memang buku yang mengungkap sejarah masa suram ini. Belum lagi kecurigaan terhadap pemutarbalikan fakta sejarah masa ini, maka sulit untuk berpatokan pada sejarah sebagai acuan kebenaran. Bagiku bagian judul buku ini: "Sebuah gerakan feminisme terbesar di Indonesia" adalah pernyataan yang masih perlu di pertanyakan. Apa alat ukur sebuah gerakan dikatakan besar?. Dari jumlah massa pendukungnya? kemampuannya dalam mengendalikan perubahan kebijakan di masa itu atau sumbangsihnya bagi perubahan yang masih dapat dinikmati bagi masyarakat di masa depan. Apa hal-hal baik yang masih tersisa dari Gerwani, hingga masa sekarang ini?.

Dari sepak terjang Gerwani yang dideskripsikan dalam buku ini memposisikan Gerwani sebagai organisasi perempuan yang progresif di masanya dan terdepan dalam persoalan politik. Sementara organisasi perempuan lainnya di masa itu cenderung membatasi peran politik dan lebih memilih pada kegiatan sosial, urusan perempuan, ataupun pendidikan. Namun dari perbedaan arah gerakan ini dapat disimpulkan bahwa, Perempuan Indonesia, sejak Indonesia belum terbentuk hingga berwujud, telah memiliki peran penting.

Salah satu ujung tombak perjuangan gerakan perempuan masa itu adalah: Pendidikan. Baik Gerwani maupun organisasi perempuan lainnya di masa itu, umumnya mendirikan sekolah/sarana pendidikan sebagai salah satu alat perjuangannya. Sebuah gerakan perubahan yang agaknya terlupa dalam gerakan perempuan progresif yang muncul kembali di masa refomasi ini.

Kenyataannya, Meski tak sempat menyatakan diri sebagai bagian dari PKI, Gerwani telah kadung hidup dalam bayang-bayang PKI.Tak mandiri dari keputusan politik PKI. Dan karena bayang-bayang itu pula lah Gerwani terkubur paksa dalam sejarah pahit. Sebuah pembelajaran bagi gerakan perempuan lainnya yang umumnya hidup dari bayang-bayang organisasi induknya.

View all my reviews >>

Monday, May 10, 2010

Why I'm not married?

Taukah kau hal terberat kenapa aku tak menikah?
Bukan karena tak ada yang mengagumiku
Sungguh bukannya aku bersombong hati
Pengagumku banyak!.

Bukan pula karena aku kelainan seksual
ataupun kegandrungan menjadi feminis
Hingga tak ada ruang hati untuk pernikahan

Bukan pula karena aku terlalu angkuh
Hingga terlalu memilih
mencari yang terbaik diantara terbaik

Aku hanya tak rela

Cinta yang selama ini berbagi
Pada keluargaku, teman-temanku, dan anak-anak peradaban yang kubangun
Harus ku tukar dengan seorang pendamping
Untuk sepanjang sisa hidupku.

Tapi jika kau adalah cinta
Yang membuat cintaku berbuah berlipat ganda pada kehidupan
Kumohon sangat
Ijinkan aku mendampingimu.


*****
Been Written When I met Butet Manurung
November 17, 2008

Saturday, May 08, 2010

Malam bersama Katon Bagaskara

Tadi, saat disela lagu-lagu diatas panggungnya, Katon Bagaskara bertanya:
"Ayo..datang ke sini sama Siapa???"
" Ada yang sama pasangannya gak"
" Banyak yang sama pasangannya kan??!"

***
"uhukkk...memang harus sama seseorang yaa???". hatiku membathin.

Resah ku lirik kiri kanan. Kalau gak berpasangan pasti bergerombol atau dengan keluarga.
Trus kulirik kekasih digenggaman tanganku...Berbaju orange berpadu hitam, kesannya wibawa. Eh..sebenarnya kelihatan berwibawa karena dia pendiam. Tapi...jangan salah kira, karena dia sangat menyenangkan dan tak pernah rewel. Itulah sebabnya dia kusayangi. Sanking sayangnya sering ku belai-belai, ku bolak balik, kulahap berulang kali.

Yup...pulang lah, biar kuhabiskan malam bersama kekasihku ini dulu. Bersama Katon Bagaskara dari MP3 ku...irit euy...heheheh

**
from my facebook : Pera Sagala
Saturday, November 14, 2009 at 11:22pm
Pak Wali...
kemarin garang menggaruk kota
yang gatal karena ulah kutu pedagang kaki lima

Pak Wali...
kemarin rajin mengais parit kota
yang doyan bikin sakit Medan


Pak Wali
kemarin mengangguk-angguk
membujuk rajuk bangunan tua kotanya
yang roboh kena senggol buldozer

Pak Wali
hari ini,
Mulai terlihat ada mu ternyata
Ingin berkarya atau bertahta, Pak?

hati-hati meniti buih ya pak Wali...

***

my facebook : Pera Sagala
Saturday, October 31, 2009 at 12:46am

sinetron rating tertinggi di negriku.

tak lewat setahun
inilah sinetron rating tertinggi

cicak vs buaya
nasrudin antasari
century
PLN

tiada habis-habisnya

pion-pion kalian ini
hanya bisa
mendengar,
melihat
merasakan...perih

kalian disana
berlomba mencuri
lari dari tanggung jawab
eh...
malah kemarin kulihat kalian beradu tangis?
tangis yang berbuah maniskah?
ataukah maha karya akting pecundang

duh..ibu pertiwi
apa yang pernah kau ajarkan pada mereka
hingga generasi ini begitu gelap?

ibu pertiwi...
mana anak-anakmu
yang pemberani itu?
yang hanya bercita pada negeri yang merdeka
yang tak pernah sudi bertopeng
apalagi melacur


****
my facebook : Pera Sagala
Wednesday, December 23, 2009