Sunday, July 05, 2009

Tau ko ("siapa yang perusak") Medan?

Walikotanya dipenjara, Pj walikota nya pun bermasalah hukum

Tapi lihatlah pesatnya "pembangunan" kota medan

hanya kurun 4 tahun...

Bangunan tinggi mencakar-cakar sombong.
Ruko sepanjang jalan merajai
Rumah kumuh diatas DAS berganti toko-toko megah
Sungai Deli berkelok direbonding menjadi lurus
Dulu Tanah Negara kini berganti menjadi super swalayan
Perumahan mewah tak terhuni dari ujung ke ujung kota

Ada apa ini?!!
Siapa yang melakukan "pembangunan" itu kawan?!!!

Selanjutnya>>

Wednesday, June 24, 2009

Soreku terbata-bata


Tadi sore, singgah sebentar ke Children Center Blang Beurandang. Meski sudah seminggu di Meulaboh, baru kali ini kusempatkan menjenguk karyaku ini. Bener saja, hasilnya sangat tak memuaskan. Oomar pengawas lapangannya cuma bisa pasang muka pasrah, capek dan angkat tangan mandorin tukang yang bebal minta ampun. Tapi bukan itu saja yang membuat sore ku ini mendung.

Bata-bata untuk pembuatan pagar Children Center itu, baru saja sampai. Diturunkan dan disusun ulang oleh 4 orang anak. EMPAT ORANG ANAK mengangkat tujuh ribu bata dari truk. Badannya kurus, tapi tetap riang menyusun bata-bata. Perhatian kami pun jadi beralih dari bangunan kepada anak-anak itu.

"Sekolah dik?"

" lagi libur kak".Anak itu tersenyum sambil tetap menangkap lemparan empat bata dari seorang anak sebayanya dari atas truk. Hufh..mahir sekali dia menangkapnya. Prak.. disusunnya di atas tumbukan bata yang telah tersusun setinggi dadanya. Abu lemparan bata meruap mengenai wajahnya dan menempel membedaki tubuhnya yang tak berbaju. Pastilah debu-debu itu sudah bolak balik keluar masuk ke paru-parunya. Tapi penasaranku memaksanya juga untuk berbicara sambil bekerja.

"Kelas berapa?"

"Dua SMP kak". Masih santun juga dia menjawab, meski tersirat wajahnya sedikit kewalahan menghalau debu lemparan bata menjawab pertanyaanku.

" Aduh..dik, pernahkah kamu sakit batuk gara-gara debu bata ini?

" Pernah kak". jawabnya singkat tapi tenggorokanku tercekat.

"Berapa upah untuk mengangkat bata ini dik?"

"Seribu...hehehe..." Temannya diatas pun mulai berkicau tertawa dan berkata entah apa. Tak mengerti aku bahasa mereka.
"Gak mungkin seribu perbata kan? satu bata aja harganya lima ratus rupiah". Sahutku protes.
Anak itu tertawa lagi. Anak yang diatas truk juga mengoceh kembali. entah apa. Tampaknya kedua anak itu asyik bercanda dan tampak tak ingin lagi melanjutkan percakapan dengan ku. Maka kupandangi saja mereka yang sedang berbata-bata. aih...kurusnya.

Temanku si Biar dapat informasi lebih banyak lagi, dari dua orang anak yang menurukan bata disisi truk lainnya. Mereka berasal dari suatu desa di kabupaten Nagan Raya. Sekira satu jam dari Meulaboh. Penduduk di desa itu seluruhnya memang pekerja bata. Anak-anak juga dijadikan pekerja bata. Anak perempuan mencetak bata, dan anak lelaki yang mengangkut dan menurunkannya di lokasi pemesannya. Oomar si pengawas lapangan juga mengiyakan. Hampir semua pengangkut bata di Meulaboh adalah anak-anak. Untuk jasa ini, empat orang anak lelaki itu hanya mendapat Dua puluh ribu rupiah setiap seorang.

Pernah ku dengar kisah yang sama di desa dampingan Mbak Puji di Deli Serdang, Sumatera Utara. Namanya desa Amal bakti. Anak-anak juga menjadi pekerja bata membantu menopang kebutuhan keluarga yang terjerat hutang oleh sistem yang dibangun pengusaha bata. Anak-anak itu tetap sekolah memang. Tapi debu-debu bata itu, merusak paru-paru anak.

"Pakai kain dik, ditutup hidungnya". Sapaku lagi dengan nada khawatir. Kedua anak itu masih senyum-senyum saja. Pastilah mereka menganggap angin lalu nasehatku ini. Kebiasaan buruk buruh Indonesia sudah terdidik sejak awal didiri mereka : tak perduli dengan kesehatan dan keselamatan diri.

Sore ini, empat orang buruh anak, bekerja dalam kondisi tak layak anak di bangunan untuk anak yang didirikan oleh penjuang hak anak.

ah...bisa berbuat apa pejuang hak anak ini, untuk buruh anak-anak yang didepan mata nya pun cuma bisa ngomong doank.
Ah..bisakah bangunan ini memberi harapan bagi anak ?, jika dalam proses pendiriannyapun oleh keringat anak-anak yang terampas haknya. Hak bermain, hak mendapatkan lingkungan yang sehat.
aih..aih...anak-anak bata. sampai kapan nasibmu terbata bata oleh bata-bata ini.

Karena ku tak tahu jawabnya, kusampaikanlah kisah padamu. Kisah anak-anak bata.

Selanjutnya>>

Friday, June 19, 2009

Memoar Firdaus Kecil 2

Aku bertemu dengannya pagi tadi. Tak begitu kuperdulikan awalnya. Mungkin karena aku lebih memikirkan orang-orang sekitarnya berlaku latah meski dalam kantor polisi yang konon berjuang untuk melindungi.

Dia Anak perempuan yang cantik. Matanya sipit, bibirnya mungil, hidung kecilnya indah. Sepertinya darah Jepang mengalir di darahnya. Aku harus mendampinginya melalui proses BAP di kepolisian. Anak kecil ini masih belasan tahun. Antara 11 sampai 13 tahun. Kudengar darinya, dia putus sekolah setahun lalu dari kelas satu SMP.

Gadis kecil itu salah satu dari puluhan para pelacur lainnya yang digelandang keluar dari daerah lokalisasi terselubung yang diamuk amarah warga. Hanya perempuan yang di naikkan ke pick-up Polisi. Hidung belang hilang satu persatu tanpa dipermalukan. Bagai pajangan para perempuan itu di arak keliling kampung menuju tahanan. Tertunduk layu kecuali gadis kecil ini. Hingga kini mata nyalang itu juga tertuju padaku. Tak ada rasa bersalah terpancar dari balik mata sipitnya. Sesekali bibir tipis itu tersenyum. Senyum yang berarti sama dengan kata-kata mengejek. Dia....Firdaus.

*****
bersambung lagi

Selanjutnya>>

Tuesday, June 16, 2009

Memoar Firdaus Kecil

Namaku Firdaus. Bagi lelaki kebanyakan aku memang firdausnya. Bagi para perempuan, mereka sebut aku pelacur kecil. Aku tak perduli. Yang kutahu saat ini menyenangkan. Aku di rayu, di puja dan dimanja. Aku bisa dapatkan yang ku mau dari mereka-mereka yang memujaku. Menyenangkan membuat mereka yang merasa hebat takluk pada semua permintaanku. Hanya dengan belaian saja. Mudah.

Aku punya Ibu dan Bapak. Bapakku suka memukulku dan adik-adikku. Ibuku terlalu sibuk dengan pekerjaannya demi biaya hidup kami. Maka jika ku pulang membawa bungkusan makanan, mereka akan sangat senang sekali. Aku dianggap pahlawan meski sesaat. Dan tentu saja Bapak akan lupa memukulku, dan lupa juga menanyakan dari mana aku hingga pulang selarut malam.

Aku punya kekasih. Dia yang mengajariku mendapatkan pekerjaan ini. Tapi lama kelamaan aku bosan padanya. Aku selalu ingin variasi baru. Mencicipi lelaki-lelaki baru. Bukan untuk menambah uang sakuku saja, tapi juga berpetualang dalam kenikmatan. Sekitarku mengatakan kenikmatan yang kurasakan ini harus diresmikan dalam hubungan yang tak kumengerti. Namanya pernikahan.

*****
bersambung yah...

Selanjutnya>>

Wednesday, June 10, 2009

Rapalan

bersiaplah

Akan kuhembus jampi-jampi
agar putus semua janji-janji
dan tiada lagi kau ku nanti-nanti
biar kau merana berhari-hari

Selanjutnya>>

Thursday, May 28, 2009

KOTAK


Bumi bulat dinamis
tapi manusia lebih suka hidup dalam kotak statis

Bangun dari dalam kotak, tidur pun dalam kotak
Alam tak pernah kotak, tapi manusia penuh dengan kotak

Lihat saja...

Bajuku kotak-kotak, tapi tubuhku tak satupun berbentuk kotak
Kamarku kotak, rahim ibuku...tentu saja bukan kotak

Sangking senangnya manusia dengan kotak
Dalam bergaulpun manusia suka berkotak-kotak
Bahkan ada manusia yang suka Mengkotak-kotakkan
Boleh kusebut mereka itu manusia tak ada otak?

Eits...
Tuh..kan, otakku pun ternyata berkotak.

Selanjutnya>>

Wednesday, May 27, 2009

Ekonomi Kerakyatan di sektor Perdagangan Retail = Bull Shit !

terkutip dari sebuah milist...


From: Pandji R. Hadinoto, PKPI

To: Nasional ListGroup

Cc: Garudamukha Jakarta

Sent: Sunday, May 24, 2009 11:32 PM

Subject: {Disarmed} [nasional-list] Ekonomi Kerakyatan di sektor Perdagangan Retail = Bull Shit !

AngkiHer, IA-ITB, EL79

Ekonomi Kerakyatan disektor perdagangan retail = Bull shit !

Mari kita lihat contoh berikut, khususnya perhatian kita berikan kepada
sektor perdagangan dengan rantai yang panjang dan melibatkan begitu
banyak tenaga kerja.

2500 gerai A..Mart dan 2000 gerai I..Mart tumbuh dalam waktu 10-15
tahun terakhir dan masih terus bertambah dengan pembukaan 2 outlet baru
setiap hari, merambah mulai dari daerah perkotaan hingga di pelosok
kampung. Di mulai dari Pulau Jawa dan sekarang merambah Sumatera.

Begitu banyak warung, toko kelontong, toko P&D, milik penduduk
setempat yang mati karena kalah bersaing. Yang pasti, setiap A..Mart
atau I..Mart buka dan hadir di tempat, maka warung, toko di sekitarnya
segera mati menyisakan sejumlah orang pemilik toko dan karyawannya
menjadi pengangguran dan menjadi miskin.

Kita bisa bayangkan titik akhirnya dari proses ini yaitu hampir seluruh
warung, toko P&D akan sirna digantikan oleh gerai-gerai Minimarket
Modern ini, yang hanya dimiliki oleh satu orang pengusaha besar,
sedikit saham publik (may be nanti kalau sudah IPO) dan suatu equity
venture fund asing.

Carrefour, Hypermart, Giant, raksasa hipermarket menyerbu daerah
perkotaan dan juga daerah pinggiran kota. Dengan menyajikan pelayanan
yang baik, kenyamanan, variasi produk yang beragam, harga yang murah
dan berkualitas, maka tentunya konsumen tertarik seperti laron melihat
lampu ditengah malam.

Pasar becek/tradisional di dekat hipermarket ini segera mulai sepi dan
akhirnya bisa menjadi mati. Sebelum benar-benar mati lalu muncul ide
cemerlang, dilakukanlah konversi pasar becek ini (terutama yang milik
Pemda, seperti PD Pasar Jaya misalnya) yang dipenuhi pedagang gurem
ini, menjadi pasar modern dengan gedung yang mewah dan diundanglah
anchor tenantnya: Carrefour, Hypermart, dsbnya.

Sementara para pedagang gurem, tukang sayur, los daging, los ikan,
dsbnya., untuk sedikit tujuan public relations, diberikan sedikit
tempat, dipojokkan lokasi yang tidak strategis, susah dijangkau
konsumen, dan jangan lupa hanya sebagian dari mereka yang sanggup masuk
karena harga kiosnya sudah sangat mahal dan melambung tinggi.

Begitulah caranya Pemerintah khususnya Pemda sebuah kota metropolitan
menangani ekonomi perdagangan rakyat dikotanya. Kejadian yang sama
terjadi juga dikota-kota besar lainnya, dimana pasar becek, pasar
tradisional, mati dan hancur karena kehadiran hipermarket ini.

Carrefour milik Perancis, Giant milik Dairy Farm Hongkong, Makro baru
saja diakuisisi Group Lotte dari Korea Selatan, yang lainnya yang masih
milik pengusaha lokal juga diketahui sedang mencoba untuk dijual ke
pihak asing karena sudah kekurangan modal untuk bersaing. Akhirnya,
semuanya milik asing, kita akan mempunyai apa ?

Bolehkan Modernisasi ?

Apakah tidak boleh terjadi perbaikan, modernisasi, atau berkembangnya
hipermarket disuatu tempat? Jawabannya sangat boleh, asalkan saja usaha
itu memberi social benefit yang lebih besar dari social costnya.
Misalnya, bila hipermarket itu bertumbuhkembang dari dan dimiliki oleh
orang lokal setempat, yang maju berkembang dari bawah mulai dari sebuah
warung menjadi toko, lalu dimodernisasi menjadi modern outlet yang
lebih besar. Persaingan yang adil akan memberikan pemenang yang alamiah
dan dapat diterima oleh semua pihak.

Bolehkah retail chain modern tumbuh? Tentu saja sangat boleh,
modernisasi tidak bisa dihindari, tetapi kita harus mengelola proses
transformasi modernisasi ini untuk kesejahteraan lebih banyak orang
lagi. Yang terjadi di Indonesia, proses modernisasi retail outlet ini
dilakukan dengan mengganti pemain lama lokal oleh pemain baru asing
atau lokal yang bermodal kuat dan tersentralisasi. Keduanya
bertentangan dengan konsep kerakyatan. Karena pemerataan kekayaan
terlepas dari tangan orang banyak sehingga menjadi terkonsolidasi
ditangan segelintir saja. Seharusnya, gerai-gerai A..Mart, In..Maret,
Cir..K, dsbnya ini dimiliki oleh franchisee, yang pengusaha lokal,
bekas pemilik warung setempat. Bukannya dimiliki oleh Induk
Perusahaannya seperti yang terjadi sekarang. Hanya sebagian kecil gerai
mereka sebenarnya ada dalam hubungan franchisor – franchisee.

Gerai MacDonald, Tim Horton, Burger King, Pizza Hut di Amerika Utara
sebagian terbesarnya dimiliki oleh individual penduduk lokal setempat,
sehingga kehadirannya mensejahterakan ekonomi lokal. MacDonald Corp,
induk perusahaan itu sendiri sangat profitable karena mereka memperoleh
komisi, bagian penjualan, keuntungan supply bahan baku dari usaha
franchiseenya. Nah kalau di Indonesia, pemegang Master Franchisornya
KFC, Pizza Hut, McDonalds, dsb. sangat pelit membagi franchise storenya
kepada individual pengusaha lokal, semuanya dikuasai dan dimiliki oleh
Master franchisornya, jadilah dia kaya sendiri. Orang lain, pengusaha
lokal tidak kebagian apa-apa. Pertanyaannya apakah kebijaksanaan
pemerintah dalam mengatur perdagangan ini bersifat kerakyatan ?.

Sistem ekonomi ini bekerja seperti vaccum cleaner, uang dari daerah
disedot ke Jakarta, lalu kalau Perusahaan itu milik asing, dana
keuntungan jadi disedot keluar negeri. Kita dapat apa ?

Akibatnya

1. Membunuh Industri kecil.

Kenaikan Buying Leverage dari pembeli besar (Chain Hipermarket, Chain
Minimarket) terhadap para produsen akan membunuh perkembangan industri
kecil. Akibat daya beli terkonsolidasi yang besar dari raksasa retail
ini, para pemasok barang terutama mereka dari industri kecil, yang
tidak memiliki daya tawar yang seimbang akan sangat dirugikan. Mereka
ditekan habis dalam hubungan dagangnya. Sudah sangat banyak bukti,
termasuk kasus-kasus yang saat ini sedang diselidiki oleh KPPU, yang
menunjukkan bahwa trading term (syarat perjanjian pemasokan barang)
merugikan hubungan usaha dagang dan dalam jangka panjang akan
mengakibatkan dampak lebih luas terhadap perkembangan industri
nasional.

2. Terbentuknya struktur ekonomi yang tidak sehat yang ditandai juga
oleh konsolidasi kekuatan pada sisi supply (produsen) yang akan jatuh
ketangan pengusaha besar, dikarenakan mereka mampu menandingi kekuatan
membeli (buying power) retail chain modern ini.

3. Terjadi pemiskinan akibat terlepasnya kekayaan (wealth) dari tangan
ratusan ribu pemilik toko, warung, kios, los di pasar, jatuh ke tangan
segelintir orang, terutama asing, yang bermodal kuat. Ini akan
mengakibatkan kenaikkan angka kemiskinan, terlepasnya kesempatan kerja,
dan permasalahan sosial lainnya. Adalah ilusi yang mengatakan bahwa
retail modern menciptakan lapangan kerja. Nyatanya, modernisasi itu
disertai oleh economic of scale dan kenaikkan efisiensi, yang dapat
dibuktikan dengan berkurangnya tenaga kerja yang dipekerjakan oleh
sektor retail modern dibandingkan dengan sektor retail tradisional
(non-modern) .

Saya jadi bingung, kita ini sudah kalah disektor manufakturing, eh perdagangannya juga diserahkan kepada asing.

Bukannya kita menerapkan Negative List dan menerapkan Barrier Bersyarat
terhadap masuknya kekuatan besar yang merugikan, kita malahan membuka
lebar-lebar pintu untuk masuknya predatory behaviour kedalam sistem
ekonomi kita. Indonesia takut oleh WTO ?, Kenapa kita mesti takut
dibilang tidak fair !

USA, biangnya perdagangan bebas dan Mbahnya Kapitalisme saja menerapkan
barrier yang tegas-tegas. Kita lihat bagaimana barrier sangat tinggi
dipasang oleh USDA untuk melindungi pengusaha lobster di Gloucester, MA
dari serbuan lobster dari Peru misalnya. State Government dengan strict
melarang penggunaan barang import dalam proyek-proyek yang menggunakan
dana stimulus US$ 700 Milyar, sampai-sampai Canada sewot dan marah
karena perjanjian NAFTA terang-terangan dilanggar USA. Belum lagi saat
CNOOC mencoba untuk membeli perusahaan minyak America UNOCAL, Congress
langsung membloknya.

Jelas sekali kita lihat bahwa wajah perekonomian Amerika sangat pro dan
melindungi ekonomi dalam negerinya. Mereka sangat menjaga harmonisasi
penyebaran pendapatan. Tidak ada persaingan “Super Liberal” dan “Hukum
Rimba” seperti di sektor perdagangan di Indonesia ini.

15 Tahun adalah masa pemerintahan Suharto, Habibie, Gus Dur, Megawati,
dan SBY-Kalla. Semuanya berkuasa dan memiliki andil sedikit banyak pada
terjadinya proses kerusakan ekonomi kerakyatan ini. Sekarang mereka
yang berkompetisi untuk jadi Presiden RI 2009-2014 semuanya berbicara
ekonomi kerakyatan. Mana bukti track record bahwa mereka pro ekonomi
kerakyatan ?.

Salam, Jakarta 23 Mei 2009.


Selanjutnya>>

Wednesday, May 20, 2009

Tanah tabu, Potret Tanah Air


Tentulah penuh tantangan menulis buku dari sudut pandang seorang anak. Keluguannya, kesederhanaan dan kejujurannya melihat tempat tumbuh kembangnya, seringkali mengingatkan orang dewasa pada hal yang telah dianggapnya sepele. Seting cerita di Papua juga membuatku terbayang eksotisme kehidupan yang jarang kutemukan terungkap dalam novel. Hal inilah yang membuatku tertarik membaca buku ini.

"Di ujung sabar ada perlawanan. di batas nafsu ada kehacuran, dan air mata hanyalah untuk yang lemah"

Sebenarnya cerita novel ini penuh dengan kesuraman. Sesuram warna kulit orang-orang di lembah baliem, papua/irian. Kisahnya pun ditutup dengan kesuraman pula. Namun dengan sudut pandang anak, dan 2 ekor binatang teman setia membuat cerita ini menarik hingga membiusku agar tak melepaskannya sampai usai membacanya dan segera meresensinya.

Novel ini memaparkan keadaan perempuan di ujung timur Indonesia sana. Dimana Perempuan sejak dini diberi mimpi menikah, dan mengabdi pada suami dan keluarga...hanya itu!.
Melalui Mabel, yang sempat berkelana keluar dari kampung halamannya, novel ini seolah menegaskan bahwa kondisi ini ada dimanapun. Tersirat saat Mabel menyatakan keinginannya untuk sekolah kepada orang tua angkatnya, Tuan Piet_ si orang Belanda. Mabel mendapati kenyataan bahwa posisi perempuan tetap saja di persiapkan untuk urusan sumur dapur dan kasur meski di ligkungan paha putih sekalipun.

Novel ini juga bercerita kejamnya kapitalis yang menjadikan papua buruh di tanahnya sendiri. Bercerita tentang militer dan politik yang (dalam novel ini) selalu menyengsarakan dan memiskinkan rakyat. Mabel, menantu dan cucunya yang hidup menyewa rumah di tanah nenek moyangnya sendiri. Untuk sekedar dapat makan ayam, roti atau keju pun bagai meraih cita-cita yang akhirnya tak juga kesampaian.

Kebencian Mabel pada Pertambangan Emas _ sampai disini aku jadi teringat kasus yang serupa di Dairi sana :(, yang merusak sungai, pohon sagu, dan memabukkan para lelaki mereka, serta Kebencian Mabel terhadap Politisi dari suku asli papua yang justru menjual tanah nenek moyangnya kemudian mengakhiri kisah Mabel dalam penyiksaan. Yang tersisa hanya harapan. Harapan pada sang cucu, si Kecil Leksi. Pesan Mabel, Sekolah lah..dan rubah lah nasib suram negerimu.

Yah..Anak adalah harapan. Hanya harapanlah yang menjadi nyala agar tetap bertahan dalam suramnya hidup.

Entah disengaja atau tidak oleh penulisnya_kebetulan perempuan, tapi nyaris tak ada tokoh lelaki yang baik di novel ini. Satu-satunya mungkin hanya Tuan Piet_ si orang Belanda, yang menjadikan Mabel anak piaraan dalam keluarganya. Selebihnya, lelaki disini hanya berperang, mabuk dan memukul istri.
Lelaki yang gagah menaklukkan alam, tapi tak sangup menopang beban keluarganya.

Iseng-iseng aku menghitung umur Pum dan Kwe, si Anjing dan Babi teman setia tokoh cerita ini. Pum menemani Mable sejak usia 11 tahun, sampai punya cucu yang sudah sekolah. Hmm... adakah anjing berusia sampai 20 tahun?.

Yap..Seutuju!. novel ini memang pantas jadi pemenang sayembara novel DKJ 2008.

Selanjutnya>>

Wednesday, April 22, 2009

Aku Kartini

"Aku ingin jadi Kartini"
Kuucapkan kalimat itu lantang ketika ku SD. Ketika itu ibu guru menyuruh kami menyebutkan tokoh pahlawan yang diidolakan. Saat itu sesungguhnya aku tak kenal siapa Kartini. Lantangku saat itu hanya untuk mengalahkan lantang nya kawan-kawanku menyebut tokoh pahlawannya.
Bagiku Kartini saat itu, hanya wanita anggun, berwajah bulat, berkebaya putih di pajang di deretan pahlawan di dinding kelas. Kupilih dia karena kami punya kesamaan, sama sama perempuan.


Ya..ya..memang ada gambar perempuan lain, ada Cut Nyak Dhien, Martha Cristhina Tiahahu terpajang juga di dinding kelas. Karakter keras tampak di wajah mereka. Mungkin karena itu, Aku tidak begitu suka mereka saat itu. Bagiku perempuan ideal itu ya..Kartini. Wajahnya lembut, seperti Ibuku.

Ya..ya..seingatku ada juga Pahlawan pemilik wajah keibuan. Namanya Dewi Sartika. Tapi ah..aku tak juga begitu suka. Masih lebih cantik Kartini.
Salahkah?. Ah.. saat itu aku tak perduli.

Lalu, perlahan aku kenal dia. Kartini itu, pejuang hak perempuan. Dengan caranya yang tak langsung aku bisa sekolah dengan bebasnya. Kartini anak Bupati Jepara, Suka menulis surat, Kumpulan suratnya kemudian menjadi buku, judulnya, habis gelap terbitlah terang. Tak pernah aku baca bukunya. Aku hanya simpulkan, buku itu lah yang mengabadikan namanya.

******

"Kenapa Kartini?" tanya seorang sahabat.
"Lha..apa yang salah dengan Kartini?" Sahutku bingung malah balik bertanya. Bukankah umumnya anak perempuan di Indonesia mengidolakan Kartini?. Bagiku malah pertanyaan temanku ini yang aneh.

"Sebenarnya yang lebih layak populer itu adalah Dewi Sartika. Dia mendirikan sekolah perempuan pertama. Bukan Kartini. Kartini hanya meniru saja, melanjutkan perjuangan Dewi Sartika saja.
Sedangkan Kartini..Perjuangannya pun tak segarang Cut Nyak Dhien yang membuat Belanda kehabisan akal menghabisi Aceh. Apa sih.. yang diperbuat Kartini bagi bangsanya?. Bukankah dia hanya menulis?, menjadi Istri yang di madu, lalu meninggal di usia muda. Aku ragu dengan kelayakannya sebagai Pahlawan Nasional".

Aku hanya terdiam. Di benakku mulai setuju dengan temanku. Ada benarnya juga dia. Ya..apa hebatnya Kartini??. Tak terbersit satu alasan kuat dan ampuh di otakku untuk aku membalas pemikiran sahabatku itu. Dan karena aku tak ingin terlihat bodoh...kujawab saja sekenanya.

"Tapi...apa pentingnya membandingkan kepopuleran pahlawan?. Bagaimanapun mereka telah berjasa bagi negeri. Untuk apalah dirirbut-ributkan siapa yang lebih populer, dan siapa yang benar benar pahlawan sejati. Yang penting aku suka aja". Jawabku seolah tak perduli dengan pemikirannya.
Tapi sahabat itu tak menyerah juga. katanya..

" Bagaimana bisa kamu meneladaninya, kalau kamu sendiri tidak tau apa yang dia lakukan bagi negeri ini, Harusnya yang kamu jadikan Idola adalah yang terbaik. Yang benar-benar layak mendapat gelar pahlawan nasional, bukan karena banyak orang-orang menyebutnya sebagai Pahwalan Nasional".

Saat itu aku masih SMP, dan tak ambil perduli dengan ucapan temanku yang aneh itu. Aneh karena dia sendiri perempuan yang kukenalyang tak suka Kartini. Semua suka Kartini. Sampai ada lagunya, bukan?

ibu kita Kartini
putri sejati
putri Indonesia
Harum namanya
....

******

Lalu ketika aku SMA, tak sengaja, tepat di hari Kartini kubaca artikel seputar Tokoh idolaku itu. Isinya menggugat kebenaran surat-surat Kartini. Alasannya, tak mungkinlah anak usia 16 tahun sudah bisa menulis dengan analisa sedalam itu. Mampu mengkritisi Agama, kondisi perempuan, pendidikan dan lain-lain.Saat itu aku berfikir sejenak..benarkah tak bisa?. Kubandingkan Kartini dengan diriku saat itu di usia yang sama. Yah..memang aku tak punya selembar tulisanpun kecuali tugas mengarang di sekolah. Mungkin benarlah pemikiran penulis artikel itu, karena dia sendiripun tak mampu menandingi tulisan Kartini meski usianya sudah melewati usia Kartini saat menulis surat-suratnya itu.

Namun saat itu,aku juga tak begitu perduli dengan pemikiran artikel tersebut. Aku lebih berasa Malu. Malu pada diri sendiri. Aku malu pada Kartini.
Begitu banyak fasilitas yang kuterima, begitu bebas aku mendapatkan apapun yang kuinginkan. Tapi aku tak secemerlang Kartini dengan segala keterbatasan perempuan di zamannya.
Ya.. aku tak perduli dengan pemikiran artikel koran itu.
Ah..tak perduli akan benar tidaknya keaslian tulisan Kartini. Aku ingin bisa seperti Kartini yang menulis kondisi bangsanya.
Sejak itu akupun mulai menulis. Semakin sering aku menulis, semakin butuh aku membaca. Pahamlah aku, kenapa Kartini lebih populer dari pahlawan perempuan lainnya.
Karena...Kartini menulis sejarahnya sendiri.
Kartini tak tunduk pada History, Tapi Kartini menulis Herstory.

*****
Dan pagi ini. Di depan cermin usai kusemat hiasan jilbabku.
Aku bergumam sendiri, meneguhkan hati.
Aku mungkin tak secemerlang Kartini.
Mungkin tinta pena ku tumpah hingga ke eropa sana.
Mungkin kelak Aku tak akan mengabadi seperti Abadinya Kartini di benak perempuan Indonesia.
Tapi wahai Kartini, Pahlawanku, Aku lebih berani dari dirimu.

***
Kukecup kening Ayah Ibukuku, kuciumi kedua tangannya, dan bersimpuh di Kakinya.
" Maafkan Kartini, karena telah bercerai dengan Mas Ario. Cukup sudah Kartini disakiti. Tak kan kubiarkan anak-anakku belajar menyakiti. Jangan Ayah Ibu ragukan masa depan anak-anakku. Kartini bisa menghidupi mereka. Relakan saja Kartini dengan jalan hidup yang Kartini pilih, karena aku..Kartini".

Wajah renta mereka perih melepasku. Perih itu semakin menusuk luka hatiku yang menganga. Sungguh Aku mencintai mereka berdua. Tapi aku harus bangkit. Ku gandeng kedua anakku. Sekolah Perempuan menanti untuk ku bangun.
***

Selanjutnya>>

Tuesday, April 07, 2009

Kalau Golput gak usah sombong deh..


Kamu bilang kamu kecewa dengan kinerja pemerintah
maka kamu golput?
gak nyambung deeh!!!

Kalau kecewa ya...benahi sistemnya
bukan merajuk ambil posisi sok suci dan sempurna
karena kamu tak lebih dari pengecut
yang takut akan perubahan

Kamu bilang kamu bingung memilih partai
karena semua tampak busuk.
bah...
apakah kamu tak juga busuk?
karena kita dalam satu kapal yang kau bilang busuk itu
aku, kau dan mereka yang kau bilang busuk
yang menentukan karamnya kapal dan membusuk dalam palung
atau melayarkannya secepat mau

Kamu bilang mereka yang merasa layak
tak pantas jadi wakil kau percaya?
majulah kau...menjadi wakil yang terpercaya
jangan hanya diam menonton apalagi mencaci maki
mempertontonkan ketidak percayaanmu pada dirimu sendiri

eh..kamu bilang yang menentukan perubahan negara ini
cuma presiden??
apakah kau hendak kembali memasung diri?
pasung yang bagai benalu menjalar
yang tanpa di tebas pun dia akan selalu datang
mengendap-endap perlahan
menjerat leher kemerdekaanmu
mati.

Selanjutnya>>