Sunday, October 25, 2009

Teman-teman Hujan di Kota Medan
















Kota Medan. Musim hujanmu datang kembali. Musim yang dulu selalu berjanji setia pada petani kini tak bisa bersahabat memberi kabar sapa. Mungkin karena sawah sepetak sudah meradang di Kota Medan ku. Mungkin juga karena hijau Taman Kota yang telah dianggap bagai kutil terus menerus di gusur oleh Bangunan dan jalan raya. Membuat Hujan dongkol, datang sesukanya, pergi tanpa pamit. Entahlah....

Akhir-akhir ini kuperhatikan Hujan bersahabat dengan petir. Seperti menggedor pintu masuk saat maghrib tiba. Aku takut, jantungku serasa copot seperti copotnya dahan-dahan pohon peneduh jalan. Lunglai terkaget, jatuh basah menghempas aspal atau seringkali menghentak kenderaan yang sedang melaju. Kalau sudah bersama temanmu yang garang itu, aku urung menikmati rinaimu berbasah-basah.

Ah…Hujan, kiasan rezeki dalam ayat-ayat sang Pencipta. Tapi juga petaka bagai air bah bagi Kaum Nabi Nuh. Lalu Hujan apakah yang diterima Medanku saat ini?.

Aku masih ingat ngilu hatiku saat hujan di suatu Malam.Saat itu sang Hujan bersama teman-temannya bermain di depan Pusat Perbelanjaan kotaku. Hujan sangat senang parkir di depan pelataran pusat perbelanjaan manamun di Kotaku. Bersama taxi dan becak bermotor yang menunggu para penikmat belanja yang enggan berbasah ria. Hujan dengan senang hati menggenang membantu menuang rezeki bagi para sopirnya. Sengaja parit-parit tersumbat membantu sang Hujan hingga menyatu bersama muntahan parit dan meluap bersama bau.

Tapi malam itu hujan tak hanya berteman dengan petir, parit sumbat dan para sopir. Hujan bersama temannya yang lain. Yang mengajak seorang ibu dan anaknya bergegas pulang ke haribaan Penciptanya. Ibu dan anak itu menerobos hujan yang sedang bercanda dengan teman-temannya. Salah satunya telah memutuskan kabel listrik tanpa sengaja.

Esok harinya Medan kotaku terdiam. Juga koran-koran tersumpal. Tak ada yang bisa dilakukan kecuali bersedih. Hujan terlalu sering bermain di jalanan Medan. Medan telah terbiasa basah kuyup oleh hujan. Kenderaannya telah pasrah mogok karena tersedak hujan.

Dan Aku hanya bisa berharap suatu hari masih terlindung dari dahan pepohonan yang patah. Berharap jangan sampai mendapati motor tua ku yang mogok tersedak hujan. Dengan amat sangat berdoa agar tak senaas nasib ibu dan anak itu.

Kupikir banyak orang juga sama seperti ku. Hanya bisa berdoa, karena protes pada penguuasa pun tak punya daya. Kami seolah terlilit oleh tali dosa yang tak kan bisa diuraikan. Bisakah doa kami mendirikan kapal yang akan menyelamatkan kami andai air Bah kaum nabi Nuh itu datang menyapa?. Ah...hujan...kapankah hujan kota Medan ku bisa bersahabat lebih hangat dengan kami, para penghuninya?.

Selanjutnya>>

Tipe Orang-orang (mengaku) Islam yang amat sangat tak kusuka:

Tipe Orang-orang (mengaku) Islam yang amat sangat tak kusuka:

1. Beragama karena rasa takut. Takut dosa, takut tak masuk Surga, takut neraka. Beraktifitas semua karena alasan untuk mengobati rasa takutnya.

2. Hidupnya adalah untuk kematian, sementara dia tak sadar klo dia sendiri belum juga hidup

3. Tidak konsisten memandang kaum perempuan, terkadang mulia, terkadang pendosa, suka-sukanya lah, seusai dengan kebutuhan kepentingannya. misalnya ingin nikah lagi, tinggal pakai ayat tentang poligami. Jika saingan politiknya perempuan, keluarlah ayat yang menyatakan perempuan tak boleh memimpin. Tapi giliran saat merayu, surga di telapak kaki ibu.

4. Amat sangat membenci Yahudi...ya..ini ada di Quran memang, tapi membenci AS...lha ini perkembangan baru. tak pernah ada dalam dasar hukum Islam yang memuat. Lucunya, semua yang berhubungan dengan AS di sebut Kafir. Suka-sukanya aja mengkafirkan yang tak tersurat.

5. Mengagung-agungkan zaman kegemilangan Islam, semua sumber pengetahuan saat ini sumbernya Islam. Sama saja dengan menyatakan kalau dia tak mampu mewarisinya kegemilangan tersebut. Menyedihkan.

6. Mengait-ngaitkan antara Quran dengan setiap kejadian yang baru saja muncul dengan logika yang tak logis. kalau sebaliknya, tak pernah bisa buat.
misalnya; saat gempa bumi di Sumbar ada yang menyebut kalau waktu kejadian sama dengan surat yang terdapat dalam quran berkenaan dengan gempa. Coba dibalik, Tak pernah tuh, keluar penyataan, sebelum kejadian alam bahwa akan ada gempa bumi yang terjadi pada menit sekian, karena tertulis di Quran demikian.

Selanjutnya>>

Tuesday, October 06, 2009

Apakah itu cinta sayang ku?


Masih sediakah malam-malam untuk ku sayang?
yang pernah ku tepis, juga pernah kau campakkan?

kita berpisah lalu bersatu kembali
menyakiti untuk saling merindu lagi

Apakah itu cinta sayang ku?



Selanjutnya>>

Monday, October 05, 2009

kenapalah kau datang lagi...

Selanjutnya>>

Wednesday, September 23, 2009

Ketika Cinta

"Ketika Cinta Kehilangan Bara"
ketika cinta telah kehilangan baranya
cari lagi apinya diantara sepi
siapa tahu ia hanya sejenak mengambil jeda
dari mimpi yang biasa berapi-api

"Ketika Cinta Masih Belum Berlabuh"
ketika cintamu belum menemukan pelabuhannya
biarkan layar itu memandu ke setiap cuaca
tapi kalau itu adalah cinta untukku
akan aku nyalakan suar di mercu
biar arahmu tak kandas di cinta palsu

"Ketika Cinta Meradang"
ketika cinta sedang meradang tak berketentuan
yang diperlukan hanyalah ramahnya asa
tangkaplah udara dengan kesadaran
sembari terus saja mengingatkan
bahwa cinta adalah nafas kehidupan

"Ketika Cinta Menghambar"
ketika cintaku hambar dalam ingatanmu
lalu mataku menjalar diam-diam
serta melupakanmu
jangan sampai beku api yang pernah nyala itu
tegurlah, dan selalu siapkan ruang hatimu
untukku

"Ketika Cinta Terjebak Kemacetan"
ketika cintamu terjebak di kemacetan
jangan memintas sembari melepas umpat
tata kembali hatimu yang selalu dalam keraguan
jalanpun akan bisa engkau lewati cepat
:tetap ingat rambu
selalu akan ada persimpangan
di hadapan

"Ketika Cinta Cuma di Garasi"
ketika cinta-Nya lama aku taruh di garasi
perlu saat untuk membuka lebar ruang tamu
menghidangkan buah dan minuman yang serasi
sambil bercengkerama dan membongkar ragu
tentang Mu

"Ketika Cinta Mengalir dalam Nadi"
ketika cinta-Nya mengalir dalam nadi
peliharalah; jangan engkau biarkan lena
makin seringlah merunduk; bersujud atas-Nya
atas teguran yang telah engkau cari
diantara titian sunyi
selama ini

"Ketika Cinta Tercabik Khianat"
ketika cinta tercabik khianat
hal biasa jika lantas kita hendak membalasnya
mencederainya dengan lebih dasyat
juga menghukumnya tanpa perlu lagi rasa
namun adakah semua langkah kita itu harus
padahal mungkin sesungguhnya kita yang alpa
akan timbang rasa atau hati yang tak serius

"Ketika Cinta Langsung ke Syahwat"
ketiks cinta langsung ke syahwat
omong kosong dengan kesetiaan
yang diumbar paling jauh adalah titian sesat
buat apa selalu memberi jalan ?

"Ketika Cinta Harus Dibuktikan"
ketika cinta harus juga dibuktikan
ungkapkan dengan sekeranjang perhatian
tapi tak perlu di atas ranjang
cukup dengan selaksa sayang
atau ajakan buat menatap hari
dengan hati, dengan arti

"Ketika Cinta Akhirnya Menyatu"
ketika cinta kita akhirnya menyatu
kita telah sangat mahfum bahwa banyak tanjakan berliku
atau persimpangan yang selalu memberi kegamangan
juga rambu-rambu yang seringkali hendak kita terjang
maupun hati kita yang seringkali bercabangan
ketika cinta kita akhirnya benar-benar menyatu
mari kita panjatkan do'a kepada-Nya
agar jalan di depan nanti tidak berbatu-batu
tetapi penuh petunjuk dan tuntunan dari-Nya

Selanjutnya>>

Monday, September 07, 2009

Duga














Melesat terbang menuju tuju
utara selatan barat dan timur
dugamu lantak dalam ragu
karena aku dan semauku...

aku angin akulah debu
aku air akulah badai
aku api akulah abu
akulah apapun yang kuinginkan jadi

Selanjutnya>>

Sunday, August 30, 2009

Ambil saja budaya kami.... :)

Pertama kali melihat iklan tari pendet yang di klaim oleh Malaysia aku tertawa terpingkal-pingkal. Benar-benar gak nyambung sama sekali dengan gaya tampilan busana mereka di publik. Kalau mengingat penampilan Mahathir Muhammad dengan Pecinya, kain selutut yang di ikatkan sepinggang itu, sungguh sejuk dan wibawa. Belum lagi pakaian Kaum hawanya yang longgar dan berpola senada, sering di sebut baju kurung itu. Meski modelnya tak banyak, tapi tetap saja kesan sejuk itu terpancar karena aurat yang tertutup. Sedari ku kecil, sejak antena parabola di rumah bisa mengakses TV 1,2 dan 3 Malaysia, aku sangat kagum dengan cara busana masyarakatnya. Dan kini semua itu sangat kontras dengan pakaian yang digunakan di tari pendet.

Lalu kenapa pula pendesain iklan tersebut seolah kehilangan karakter khas Malaysia. Jika mereka berharap dengan iklan itu bisa menjaring tourisme di Malaysia, kasihan sekali hijab yang selama ini menutup gadis-gadis Malaysia mulai digoda dengan jendulan tubuh sana sini. Mungkin logika bisnis membuat mereka menjual harga dirinya. Kasihan. Semakin gelap saja budaya di Malaysia. Berkiblat pada bisnis bukannya untuk kualitas manusia yang lebih baik.

Indonesia, seperti biasa. Kebakaran jenggot. Di hampir semua komunitas sosial, dengan bantuan kompor gas media massa, issu ini jadi perbincangan panas. Nasionalisme jadi tema utama. Entah mereka ingat atau tidak, saat menjelang pengesahan RUU Pornografi, Tari-tarian sejenis cara busana tari pendet terancam punah, dan cuma segelintir kelompok yang mempermasalahkannya dan nyaris terbungkam oleh Tragedi Monas 1 Juli 2008. Satu tarian busana sejenis yaitu tari Jaipong heboh ole para pencintanya karena merasa terancam akan di larang. Dan warga Indonesia umumnya...biasa aja tuh.

Pemerintah Indonesia juga seperti biasa. Dingin. Sama seperti dinginnya tanggapan menghadapi kenyataan dimana ribuan TKI yang di deportasi dari Malaysia terlantar di Nunukan Kalimantan Timur tahun 2002, dan menguak perbudakan TKI ilegal di dunia prostitusi Malaysia. Sama dinginnya ketika mantan pemenang Olimpiade Matematika yang pernah membawa harum nama Indonesia terbunuh di Singapura tahun 2009. Dari sekian ribu korban nyawa bangsa Indonesia yang di lecehkan kemanusiaannya di negeri Jiran, paling hanya Nirmala Bonat, dan Halimah yang bisa pulang dengan selamat, dengan luka permanent di tubuhnya. Artinya, tak sebanding. Sangat kecil kepedulian Pemerintah untuk menyelamatkan nyawa warga negaranya. Jika penghargaan terhadap nyawa manusia rendah, apalagi terhadap karya budaya. Tak heran di salah satu wawancara TV, terdengar sikap salah satu Pejabat negara, yang lebih berharap menyita keuntungan dari iklan tari pendet tersebut, dari pada memikirkan bagaimana agar tidak berulang lagi.

Yang merasa kebakaran jenggot adalah masyarakat Indonesia, bukan Pemerintah Indonesia. Hujatan dan makian terlontar dengan bentuknya masing-masing. Dari ucapan sampai bentuk kreativitas. Yang semua mencerminkan kemarahan bahkan sampai kebencian pada Malaysia. Nasionalisme mulai mengarah menjadi rasisme. Mengkhawatirkan.
Sama seperti Agama, Nasionalisme dalam sejarah dunia sering di jadikan dalih terbunuhnya umat manusia. Semoga tak sampai kesana, kedua Negara ini. Amien.

Tarian yang biasanya indah dan membuahkan kekaguman, ternyata bisa juga menjadi pemicu kemarahan antar bangsa. Aku yakin, tak pernah terpikir penciptanya tujuan itu kecuali untuk memberikan makna mendalam cermin terhadap kehidupan saat itu, untuk masyarakat saat itu, intinya untuk hal-hal yang baik.
Dari tari menjalar ke lagu. Ada-ada saja. Lagu-lagu yang di gunakan untuk membangkitkan semangat dalam lagu kebangsaan,Menjadi bahan tuduh-tuduh menuduh bangsa dengan tabiat penjiplak. Entah itu Malaysia, entah pula Indonesia.

Maaf jika aku dianggap tidak punya Nasionalisme. Tapi biarlah Malaysia merasa memiliki budaya Indonesia. Silahkan caplok semua, semoga lebih terpelihara. Semoga lebih membawa kebaikan bagi Malaysia. Semakin berbudaya bangsa Malaysia itu, semoga perlakuan mereka terhadap TKI kita pun lebih beradab.

Lalu Indonesia???
Lhaa..serahkan urusan antar negara kepada Pemerintah yang berhati beku itu. Buat yang bisa kita lakukan, tapi jangan kekanak-kanakan, seperti anak kecil pamer mainan yang dimilikinya. Kalau bisa boikot produk mereka silahkan. Kalau punya hubugan bisnis dengan mereka silah kan putuskan jika sanggup. Sesanggup kita lah.
Berhentilah memuaskan media massa yang senang menggiring kita dari permasalahan kita yang sesungguhnya. (Anak-anak kita akan menggantikan tari pendet dengan budaya ala sinetron)

Indonesia punya kreatifitas yang diminati. Mari kita jaga dan kembangkan. Mereka ambil tari pendet, kita buat ribuan pengganti tari pendet. Itulah budaya kita yang sulit untuk di curi dan di bajak. Budaya mencipta. Budaya berkreatifitas.
Jangan sampai lenyap, karena kita selalu di cekoki dengan sinetron murahan, narkoba dan pendidikan yang membodohi.

Sekali lagi Maaf jika aku dianggap tidak punya Nasionalisme. Kecintaanku pada Negeri ini bukan karena masa lalunya, tapi harapan untuk berbuat bagi masa depannya. Bagiku karya budaya bukanlah untuk di miliki satu suku atau satu bangsa saja, tapi untuk Peradaban Manusia yang lebih manusiawi.

Seperti penulis sejati yang hanya berharap tulisan mampu merubah paradigma sebanyak-banyaknya manusia. Seperti pengarang lagu yang ingin menginspirasi dan menyenangkan sebanyak-banyak orang. Seperti para penemu, yang ciptaannya di gunakan manusia berabad-abad seterusnya. Hak cipta hanya legitimasi. Tujuan termulianya adalah kehidupan manusia yang lebih baik.

Selanjutnya>>

Friday, August 28, 2009

Sikap keKanak-kanakan Menghadapi Malaysia

Farid Gaban
WARTAWAN, KINI SEDANG MELAKUKAN PERJALANAN KELILING INDONESIA DALAM EKSPEDISI ZAMRUD KHATULISTIWA (www.zamrud-khatulistiwa.or.id)


Amarah kepada Malaysia berkaitan dengan "pencurian" khazanah seni dan budaya Indonesia hanya mempertontonkan sikap kanak-kanak kita sebagai bangsa. Emosi menggelegak atas kasus Manohara dan sengketa Ambalat, misalnya, hanya menegaskan sikap rendah diri kita. Dan ini bukan sekali-dua berlangsung. Narsisisme berlebihan dibarengi kecintaan semu belaka pada hal-hal yang menyangkut identitas tradisional dan lokal negeri yang beragam ini tidak akan menolong.

Kita sendiri kurang peduli kepada khazanah kekayaan alam dan budaya. Menjelajahi Sumatera selama dua bulan lebih, sebagai bagian dari Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa, saya menyaksikan banyak pulau tak terurus, khazanah seni budaya tradisional punah perlahan-lahan dalam sunyi, serta sejarah yang hilang jejak tanpa bekas ditelan ketidakpedulian.

Pulau Enggano, pulau terluar di Samudra Hindia, hanya dijaga tiga serdadu rendahan tanpa pekerjaan jelas. Jejak Portugis, yang pertama kali menemukan pulau ini yang menyebutnya sebagai "pulau keliru" dalam bahasa mereka (enggano), tak lagi bisa ditemukan. Budaya lokal hampir punah dihantui kemiskinan kronis. Pertanian muram, nelayan tidak lagi menemukan ikan.

Saya hampir tidak bisa lagi menemukan jejak sejarah Barus, Sumatera Utara, kota pelabuhan tua yang namanya harum dalam catatan perjalanan pengelana legendaris Marcopolo dan Ibnu Battuta. Terkenal dengan kapur barusnya, dia juga merupakan salah satu pintu masuk agama Islam di Indonesia. Barus, atau fanzur dalam bahasa Arab, terabadikan dalam nama pujangga sufi terkenal Hamzah Fanzuri yang lahir di sini. Tapi, sekarang di dekat Lobo Tua (kota tua), Makam Mahligai di perbukitan, makam para bangsawan, saudagar dan ulama, hanya tersisa batu-batu berinskripsi Arab tak terurus. Hampir tidak ada informasi bermakna di kota kecamatan ini. Kota yang hilang dan tersesat.

Koto Tinggi, dekat Bukittinggi, seperti sebuah kota mati meski ini pernah menjadi ibu kota Pemerintahan Darurat Republik Indonesia. Hanya ada tugu besar dan sebuah bangunan kecil tempat terpampang susunan kabinet Syafruddin Prawiranegara. Bangunan kecil itu terlalu sederhana dan hanya bisa menjadi tempat pemungutan suara dalam pemilu 2009 tempo hari.

Rumah Tan Malaka, Bapak Republik Indonesia, di Pandan Gadang, Kabupaten Limapuluh Kota, lapuk dimakan rayap dan usia. Tidak ada biaya untuk renovasi. Sebagian ruang menjadi sarang satu-dua burung walet. Cicit Tan Malaka berharap penjualan sarang burung walet bisa membiayai salah satu situs sejarah ini.

Di Banda Aceh, saya bertemu dengan Tarmizi Ahmad, seorang pegawai negeri yang punya hobi mengoleksi naskah kuno atas inisiatif dan biaya sendiri. Sebagian koleksinya, yang berusia seabad-dua abad antara, lain buku karya Nurruddin Ar-Raniry, hilang waktu tsunami. Dia tak bisa ikut Pameran Kebudayaan Aceh yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Agustus lalu, karena tak bisa membayar stan, dan memutuskan memamerkan koleksinya di rumah pribadi. Dia merasa lebih dihargai oleh pemerintah Malaysia, Singapura, dan Brunei ketimbang pemerintah Indonesia maupun Aceh.

Benteng Inong Balee, benteng laskar janda yang dipimpin Panglima Malahayati pada abad ke-18, terbengkalai tak terurus meski menempati sebuah bukit menghadap teluk yang indah tak jauh dari Kota Banda Aceh. Omo Hada, rumah tradisional Nias di Hilinawalo Manzingo, kusam dan lusuh. Bangunan berusia 300 tahun ini merupakan adi-karya arsitektur tradisional dari kayu dan tahan gempa. Penghuninya tak punya biaya untuk merawatnya. Bangunan ini masuk daftar 100 situs kuno yang terancam punah versi World Museum Watch tahun 2000.

Tengku Mohammad Fuad, salah satu ahli waris Kesultanan Riau di Pulau Penyengat, mengeluhkan rendahnya kepedulian pemerintah kepada situs, sejarah, dan khazanah sastra Melayu yang pernah berjaya di sini. Penyengat merupakan mata air sastra dan bahasa Indonesia modern, salah satunya lewat ketekunan Raja Ali Haji (1808-1873). Fuad masih menyimpan koleksi pribadi surat-surat dagang kuno yang kini hanya dilapis plastik untuk mengurangi laju kelapukan, antara lain kuitansi dan surat saham kepemilikan penambangan timah di Johor, Malaysia, bertahun 1917. Meski makam, masjid, dan mushaf Al-Quran abad ke-19 masih terawat bagus, Pulau Penyengat sudah kehilangan sebagian besar jejak sebuah kesultanan Melayu terbesar. Ironi di tengah ambisi Malaysia untuk menjadi pusat peradaban Melayu dunia di alam modern.

Pengabaian terhadap khazanah budaya digenapi dengan ketidakpedulian kepada khazanah alam yang potensial menjadi daya tarik wisata lingkungan (ecotourism). Kepulauan Mentawai adalah salah satu paradoks. Kekayaan hayati yang hebat, namun kemiskinan yang menyengat. Ini pulau yang dikenal dengan banyak flora-fauna unik alias endemik, sering disebut sebagai Madagaskar-nya Indonesia, mengilhami para ilmuwan dunia mencari konfirmasi teori evolusi Charles Darwin. Taman nasional di Pulau Siberut, yang diproklamasikan oleh UNESCO sebagai cagar biosfer warisan dunia, terbengkalai. Museum dan kantornya rusak serta roboh tak diperbaiki setelah gempa besar 2007.

Resor dan jasa wisata alam, seperti selancar dan trekking, di Mentawai (Sumatera Barat), Nias (Sumatera Utara), dan Simeulue (Aceh), lebih banyak diminati oleh orang asing ketimbang investor lokal maupun pemerintah. Belasan anggota kru sebuah televisi Prancis sedang membuat film tentang alam dan budaya Siberut ketika saya sedang berkunjung ke sana, Juli lalu.

Dan itu semua baru sebagian kecil saja kekayaan serta keragaman khazanah alam, sejarah, seni dan budaya yang kita sia-siakan. Indonesia, negeri kepulauan terbesar di dunia, tampak bodoh dan kerdil. Dilihat dari luar, minimnya kepedulian, kurangnya informasi dan pengetahuan tentangnya, menjadikan negeri ini sama muram dan kusamnya dengan Museum Bahari di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta.

Rendahnya tingkat kepedulian dibarengi dengan miskinnya keterampilan mengelola informasi dan dokumentasi. Informasi, dalam bentuk museum, buku, dan produk multimedia, adalah tulang punggung bisnis wisata. Meski Internet sudah demikian maju, demikian pula saluran komunikasi dan teknologi media, kita masih keteteran mengurus hal ini. Dan Malaysia tahu benar kelemahan Indonesia itu.

Negeri-negeri kecil seperti Malaysia dan Singapura sadar persis tak memiliki kekayaan alam dan budaya sekaya dan seberagam Indonesia. Mereka tak perlu memiliki Indonesia, cukup menjadi beranda dan pintu gerbangnya. Mereka menjadikan Indonesia sebagai "halaman belakang", atau dapur dari bisnis wisata besar, sementara mereka menjadi koki dan pemilik restorannya.

Emosi yang meledak-ledak, perang kata yang menggelora, caci-maki kekanak-kanakan, tidak akan mengubah keadaan. Justru kita akan kelihatan makin konyol. Lebih bagus jika energi sia-sia itu diubah menjadi gairah untuk mengubah sikap kita dalam menghargai khazanah alam, budaya, dan sejarah sendiri serta kemampuan untuk mengemasnya.

Dikronik dari Harian Koran Tempo Edisi 28 Agustus 2009 (KODE KRONIK_Lok 2008 FMKT)

Selanjutnya>>

Monday, August 24, 2009

Perempuan Penghuni Neraka...


Tarawih tadi malam. Sebelum kultum (kuliah tujuh menit) yang jadi santapan wajib setiap menjelang tarawih, di masjid kami selalu ada pengantar dari Pengelola Masjid. Yang disampaikannya biasanya perkembangan masjid, seperti jumlah infaq dan saldo akhirnya dan juga mengingatkan aturan-aturan di dalam masjid. Tak bosan-bosan mengingatkan dia itu. Nah, malam ini adalah malam ke dua tarawih. Sebelum menyerahkan mikrophone kepada sang Imam untuk berkultum ria, dia menyatakan kekagumannya pada jumlah Shaf kaum ibu (perempuan) yang tetap penuh di hari kedua.
“ Kalau shaf bapak-bapak(laki-laki) kemarin 5 shaf, sekarang tinggal tiga. Ibu-ibu juga yang komitmentnya kuat, dari hari pertama dan hari ini masih penuh 5 shaf. Yang tadarus juga begitu, Mudah-mudahan kaum Ibu tetap bertahan ya..Untuk kaum bapak lebih ditingkatkan lagi esok hari”.

Agaknya kaum laki-laki di depan sana semakin tertunduk. Entah maklum entah ngantuk.
Dan aku latah untuk nyelutuk berbisik ke sebelahku.

” Di Mesjid, banyakan perempuan yang beribadah. Tapi yang banyak masuk neraka, konon katanya lebih banyak perempuan”.

Sebelahku ngangguk-ngangguk. Entah maklum entah ngantuk.

” Berarti banyak ibadah, banyak masuk neraka dunk?”.

Waaa... aku setengah kaget. Kirain sebelah ku ini ngantuk, ternyata nyaplak juga. Nyambung ibarat matematika sub mata pelajaran Jika x maka y.
Aku cuma tertawa geli aja. Ku tahu kalau dia menanggapi dengan kesal.

” Hmm... aneh juga ya, kok waktu masa sekolah dulu, atau di forum-forum pengajian, sering sekali di pahamkan seperti itu?. Penghuni neraka lebih banyak perempuan”. Kulanjutkan lagi diskusiku dan...
Nah dia nyelutuk lagi.

” Mungkin karena yang ngomong itu biasanya laki-laki”.
”Aaahhh..asal deeh”. Balasku dongkol. Tapi memang tak pernah terekam di ingatanku, sumber apa yang menjadi dasar pemahaman tersebut.
Kusimpan gelisaku itu, karena kultum telah di mulai.
Pulang terawih, gelisah itu muncul lagi. Saat membuka facebook terbaca status teman tentang ibunya.

Sugiat Santoso : “Perempuan tua ini berangkat melawan dinginnya subuh menuju pasar..Setelah selesai memasak berangkat memanggul daun pisang yg tersusun rapi dijual utk membungkus makanan..Utk biaya sekolah anaknya yg banyak..Selesai, bergegas pulang karena sawah jg su...dah menunggu.. Terik matahari,ia tak peduli..Kepada azan magriblah ia menurut utk kembali pulang..Semua hanya utk anaknya..Memang surga dibawah telapak kakimu Ibuku..”

Karena gelisahku pun kumat lagi. Kujawab statusnya dengan:
“begitupun..konon perempuan pula yang paling banyak mengisi neraka”.

Sesuai harapanku, tak lewat lima menit, muncul sanggahan. Isinya :
”Perbdgan pr&lk 4:1, adpun pr lbh byk msk neraka tapi pr jglah yg plg byk msk surga”.

Kupahami sanggahan ini bahwa si penulis(yang kebetulan perempuan) menerima konsep perempuan lebih banyak jadi penghuni neraka.

Tak lama berselang muncul lagi comment baru.
“Ibumu,,ibumu,,ibumu,,bapakmu,,,:-)”
Mengutip Hadist Rasulullah. Dan ini sangat umum di pahami masyarakat.

Kututup layar facebook ku. Kubuka Microsoft Word.

Sampai disini, aku masih tak bisa terima, kalau perempuan lebih banyak jadi penghuni neraka. Kenyataanya, jumlah laki-laki dan perempuan tak sampai 4: 1, selalu bergesekan 1:1. Entah data dari mana yang di lihat si penulis itu, tapi gaya yang sama juga sering dipakai untuk melegitimasi poligami.

Tapi, andai neraka itu adalah keadaan perempuan yang selalu termarginalkan. Kaum perempuan yang selalu dilemahkan oleh sistem, selalujadi korban yang lebih dulu menerima akibat dari peperangan dan rusaknya alam. Amat rentan dengan kekerasan, penelantaran, dan ekploitasi.
Aku setuju. Perempuan memang penghuni paling banyak untuk neraka dunia, saat ini. Entah sampai kapan. Dan Aku optimis keadaan itu akan berubah.

Kupegang teguh ayat al-Quran Surat Al~Hujurat (49): 13.

Hai sekalian manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang
laki-laki dan seorang perempuan, dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan
bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi AllaahS. W. T. ialah yang lebih bertaqwa (berserah diri kepada Allaah S. W. T.) diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Lagi Maha Mengenal.

Semoga Allah memegang teguh janjinya ini. 
Semoga kaum perempuan tetap berlomba-lomba dalam ketaqwaannya. Amien.

.......................

Selanjutnya>>

Wednesday, August 19, 2009

Tinta Pena ku yang kering

Aku gusar belakangan ini. Meski memang aku selalu gusar. Tapi Gusarku ini agaknya sudah sampai puncaknya. Pasalnya aku merasa tak bisa menulis lagi. Hal yang dulu membuatku mabuk akan akibat dari rangkaian huruf bagi diriku sendiri.

Kusalahkan,kusalahkan kesibukan kantorku, kusalahkan fasilitas ku yang tak memadai, kusalahkan facebook yang muncul memabukkan, kusalahkan tubuhku yang rapuh dilalap meriang. Tapi aku sadar sesadarnya. Aku menyalahkan DIRIKU sendiri.

Kuulang-ulang memori ku. mengingat-ingat dari mana saja kata-kata itu muncul. Bagaimana dia berbisik semangat, hingga jariku bagai ketinggalan kereta.

Ku baca-baca karya-karyaku. Dari perintis hingga kini.
ah..ah..ah. Aku ingin menulis dengan gaya seperti ini...seperti itu.
Begitu gilanya aku bereksperimen dengan alur cerita, sedih, konyol, lucu dan gembira. Kemana semua kegilaan itu ya?. Kenapa tinta pena di kepalaku terasa tak tertuang lagi?. Kemana harus ku cari refilnya?.

Tulislah apapun yang ingin kau tulis. Itulah kiat ku selalu. Maka tulisan malam ini(dini hari ding) kucoba. Bercumbu lagi dengan sahabat karibku, Sang Malam. Yang didalam kesenyapannya, aku bisa mendengar riuhnya ide kepalaku. Mungkin saja aku terlalu sibuk mendengar suara diluar, hingga suara diriku lupa ku ukir. Mungkin juga, aku lemah mengunyah peradaban untuk mengambil sari pati nya seperti biasa. Aku sudah jarang membacai cerpen-cerpen temanku. Maka malam ini kumulai lagi kebiasaanku mengomentari kemudian.com.

Melatih jemariku lebih cepat lagi mengejar cerecau kepalaku yang bagai kereta api. Mempertajam telingaku agar dapat kuurai sari pati kehidupan.

Doa kan aku ya....
Aku ingiiin menulis lagi.
Seperti dulu...
Seperti setiap malam-malam hingga dini hari karya-karya ku lahirkan. Amien.

Kutuliskan kegelisahanku ini. Karena ku tau, semua ini akan berulang. Aku hanya ingin lebih cepat bangun dari jatuhku. chayooooo!

Selanjutnya>>