Tuesday, April 15, 2014

JKW4P effect

Masih soal Pemilu 2014.
Membacai status teman-teman di facebook tentang Jokowi. Setelah kuhitung-hitung dominan sekali teman-temanku menghujat Jokowi. Tak hanya di dunia maya, pertemuan komunitas alumni pun demikian. Habis tuntas dikupas semua yang buruk dari Jokowi. Sama sekali tak ada yang pantas membuatnya duduk di RI 1. 


Kumaklumi saja karena mayoritas teman-temanku...terutama kaum pria memang terlibat di partai, kader mau pun hanya partisipan di partai-partai yang tak senang dengan naiknya Jokowi. 
NB: Tak senang, karena partainya pun punya jagoan sendiri untuk calon RI 1. 

Tapi lama-lama keterlaluan sekali memang. Bukannya aku mengagungkan sosok Jokowi, tapi ya...kalau menghujat seorang calon..ujungnya adalah memihak pada lawan yang di hujat. Begitulah politik. Maka ketika seorang menghujat Jokowi, maka yang ingin segera kutebak, adalah "Siapa" yang didukungnya?. sebaik apakah?. sepantas apakah?. 
Maka jika dilihat trek record capres jagoan teman-temanku itu umumnya adalah tokoh yang: bernoda pelanggaran HAM.
Ada yang pernah menculik, ada juga yang bangga menenggalamkan satu kecamatan.
Terlepas dari terbukti tidaknya pelanggaran HAM tersebut, tapi issu tersebut jauh ada sebelum mereka menyatakan diri jadi capres. 

Pelanggaran HAM vs Gubernur yang populer.
Nilainya sungguh tak setara.
Alat ukur seorang pemimpin negara yang seharusnya adalah kemampuan menghargai, melindungi setiap nyawa warga negara ini. Sekalipun orang tersebut pengemis paling kudisan dijalanan. 

Lebih baik si  Raja Dangdut Roma Irama daripada orang-orang yang jelas memiliki dosa sejarah membunuhi orang tak berdosa, langsung maupun tak langsung. 
Yang satu jelas menghibur, satu nya lagi menakutkan. 
Tak masuk akal kenapa mereka mendukungnya, kecuali.....mereka mendapat sesuatu dari dukungan ini. Well...dalam politik tak ada pendukung sejati kan?. yang ada cuma kepentingan. 

Kalau si "Siapa" itu pun memang tak ada, si teman ini benar-benar bodoh, termakan hasutan, dan biasanya hanya jadi korban. Ibarat perang, hanya prajurit yang tak dianggap ada oleh jendralnya sendiri. 

Terlepas bicara sistem negera yang carut-marut dan seolah demokrasi ini.

Pada pemahaman yang paling sederhana yang diajarkan dalam bertatanegara di Indonesia ini adalah:

" Calon Presiden adalah warga negara Indonesia...."

Tidak ada syarat tambahan: harus jawa, harus sumatera, bukan cina, bukan sedang menjabat,  harus muda, harus berpengalaman.
Tapi di masyarakat, syarat-syarat ini di tambahi panjang kali lebar, dan tak ada solusi. Semua kepentingan golongan yang ingin dijadikan syarat capres,dan menegasikan kemampuan dan karakter ideal seorang Pemimpin Bangsa. Catat..Pemimpin Bangsa..bukan Pemimpin golongan. .

Yang paling menyebalkan adalah ketika melihat patai-partai Islam itu bergerombol seolah sepakat menarik diri dan menghujat Jokowi. 
Dengan dalih kristenisasi, meninggalkan pemimpin kafir di jakarta (Ahok) dan ada saja dalih berlabel agama untuk menjatuhkan Jokowi. Siapa yang diusungnya?. Hadeuh...entahlah, tak ada yang berkualitas melebihi pakaiannya sendiri. 

(Kalau memang Jokowi bersebrangan dengan partai-partai ini, semoga dia mampu memberantas orang-orang yang berjualan agama dinegeri ini)

Lalu kenapa aku memilih Jokowi?

HARAPAN

itu saja.
Diantara semua yang muncul, hanya dia yang membuatku kembali berharap, bahwa Indonesia ini bisa menjadi Hebat. 


Diantara percakapan tak produktif komunitas teman-temanku, satu dua sepertiku, mengambil jarak dan diam. Ngapaian juga ikutan panas, atau balik menghujat.
Mendingan cari aktifitas yang lebih produktif.

Soal Jokowi, sikapku hanya: Berharap,
Berharap ada arus tak terbendung, semakin jelas semakin deras dan kuat. Sesuatu yang baru dan lebih baik akan muncul segera, dan menyumbat mulut-mulut bau yang kerjanya hanya buat fitnah. 

Thursday, April 10, 2014

Pemilu Indonesia: Suara Rakyat atau Suara Tetua Partai Politik?

Pesta Demokrasi. Itulah nama lain dari Pemilu. Disinilah muara suara-suara rakyat mengalir dan diperhitungkan untuk menentukan arah negara di masa depan. Wakil-wakil pilihan yang dianggap mewakili rakyat untuk membuat kebijakan-kebijakaan negera.

Hari ini, di Indonesia pesta itu berulang lagi, dan hasilnya adalah cermin kesadaran demokrasi bangsa Indonesia. Ada yang masih berharap sistem ini memberikan perubahan, dan mencelupkan jarinya di tempat pemilihan suara. Ada yang apatis, mungkin kecewa dengan keadaan, atau merasa sama sekali tak ada harapan, sehingga mengurungkan diri tak ikut memberikan hak suaranya. 

Yang membahagiakan adalah bahwa pihak yang apatis atau yang sering disebut Golongan Putih (Golput) itu semakin berkurang tahun ini. Biasanya 60% memilih Golput, kini yang terjadi sebaliknya. Sekitar 60% rakyat Indonesia hari ini memilih.

Hampir di semua negara, perjuangan mendapatkan Hak Politik ini mengorbankan darah dan jiwa. Sekarang pun tak semua negara yang memberikan hak ini kepada seluruh warga negaranya tanpa terkecuali. Indonesia, harus diakui, bisa menjadi contoh yang baik dibidang ini. 

Sebenarnya aku hampir memilih Golput di pemilu kali ini. Sangat putus asa. Meski aku tau, jika hak ini tak kumanfaatkan maka ada kerugian besar yang terjadi. Pemilu yang berdana besar, perjuangan demokrasi yang sekian lama akan jadi sia-sia. Meski aku hanya seorang dari ribuan warga negara ini, aku toh...bernilai.

Kenapa aku (sempat) memilih Golput?
Ya...lima tahun kepemimpinan yang berjalan ku evaluasi, banyak sungguh tokoh-tokoh yang tidak tahu malu, merasa pantas memimpin bangsa ini di masa depan. Dulu di masa kecil, aku diajarkan untuk menghormati, berkata santun, tidak mencuri, tidak menipu, peduli terhadap orang tertindas, berprestasi. Dan oleh mereka para politisi, melanggar semua itu, bangga, dan gilanya...dianggap lumrah dan biasa saja. Norma sosial di negeri ku sedang merengsek amblas, tak beradab.

Kenapa orang-orang tak tahu malu ini bisa duduk di sana dan bertingkah seenaknya?.
Perjalananku di Amerika Serikat (IVLP), membuat hal ini menjadi lebih masuk akal.

Kekuatan partai politik di Indonesia, terlalu besar. Dan dalam sistem partai kita, sebenarnya tak ada demokrasi, yang ada adalah sistem yang lebih tepat disebut: sistem feodal. Siapa yang kuat, siapa yang lebih senior, siapa yang lebih tua, dan siapa yang lebih kuat modal menjadi pemenangnya. Ketua-ketua partai seperti raja-raja dalam negara, yang menentukan kemana negara ini bergerak. Ketika ketua partai ini semakin tua, dia akan mempersiapkan keturunannya, dan membangun image trah warisan yang harus tetap diteruskan oleh partai tersebut. Prestasi jadi tak penting, yang penting adalah keturunan siapa?. 
Pilihan Golput ku adalah dalam kesadaran seperti ini, bahwa hak ku sebagai rakyat dicuri dan tipu oleh para tetua partai itu. Pemilu memang sistem demokrasi, tapi rakyat digiring untuk memilih partai yang kemudian menghianati sistem demokrasi tersebut dengan sistem feodal. 
Faktanya siapa yang dipilih rakyat, bukanlah orang-orang yang langsung di pilih rakyat. Mereka yang tertera di daftar yang di coblos itu, adalah orang-orang yang dipilih partai, bukan rakyat. Suara rakyat itu, di curi oleh para tetua partai, dan disetir dijual demi kepentingan kekuasaan mereka. 

Bagiku adalah wajar, jika kemudian rakyat yang apatis meminta bayaran pada saat serangan fajar. Suara dinilai dengan amplop 50ribu-200 ribu, atau berkedok barang, sabun cuci, jilbab dll. Berapalah biaya itu, daripada keuntungan yang didapat ketua partai itu dalam menjual suara-suara rakyat.
Lama kelamaan pada akhirnya menjadi jujur di negara ini, menjadi sebuah kenaifan. 
lalu...sampai kapan kita akan begini?.

Di Amerika Serikat, menurut pak Akram, dulu juga pernah mengalami fenomena demokrasi seperti ini. Tak sempat kutanya tepatnya kapan sistem ini dirubah, dan bagaimana berubahnya. Tapi kemudian para pengelola negara di Amerika Serikat kemudian sepakat merubah sistem ini dan mengkebiri kekuatan partai. 

Sistem itu kemudian memberikan kemungkinan bagi seorang Obama menjadi Presiden. Jika dilihat siapa Obama 20 tahun lalu, tentu saja di bukan siapa-siapa di politik AS. (Akh...kita juga tahu kalau Obama dulu besarnya di Indonesia).

Lalu bagaimana seorang yang biasa-biasa saja menjadi orang nomor satu di negara adidaya?

Dalam Pemilu, di Amerika Serikat, kekuatan partai dikebiri. Tak banyak yang tau siapa ketua partai Demokrat atau siapa ketua Partai Republik di AS. Karena memang tak penting untuk di ketahui. Para pengurus partai tak punya pengaruh dalam menentukan siapa wakil rakyatnya. 
Rakyat lah yang menentukan siapa wakilnya yang akan dipilih dalam pemilu. 

Jika ingin jadi Caleg dalam pemilu, maka seorang caleg harus mencari DUA dukungan penting yaitu:
1. Civil Society, yaitu berbagai organisasi masyarakat 
2. Pengusaha

Tanpa dukungan kedua kelompok ini, maka gak usah mimpi menjadi anggota legislatif. 

1. Civil Society/Organisasi Masyarakat
Dukungan organisasi masyarakat, tentu saja bukan sesuatu yang aneh bagi kita. Umumnya tokoh politik di negeri ini adalah pemimpin organisasi masyarakat, bahkan setiap menjelang pemilu ada saja organisasi yang didirikan. Kadang seorang politisi di Indonesia memiliki 2 atau 3 tampuk kepemipinan organisasi, dan entah bagaimana dia membagi waktu menjalankannya. Tentu saja banyak organisasi itu cuma sekedar nama diatas kertas tanpa basis massa. 
Di Amerika Serikat, civil society inilah yang menjadi volunter/relawan pemenangan sang caleg. Par relawan ini yang bergerak membantu mengkampanyekan sang caleg. Oleh karena itu, jika organisasi masyarakat sekedar nama diatas kertas, tentu saja tidak akan berpengaruh terhadap pemenangan seorang caleg. 
Untuk mendapatkan kepercayaan dari organisasi masyarakat, tentu saja dia adalah orang yang cukup dikenal prestasinya di organisasinya dan. 
Karena pentingnya peran Organisasi masyarakat dalam sistem demokrasi, negera memberikan ruang dan kemudahan agar organisasi masyarakat tetap tumbuh subur. termasuk membentuk karakter kepemimpinan sejak awal di sistem pendidikan AS.

2. Pengusaha
Jadi ketika banyak yang menghujat ketika Jokowi mendapat dukungan para pengusaha, maka itu adalah hal wajar di Amerika, dan harus didapatkan.
kenapa?
Negara mendapatkan dana dari pajak. Dan pajak-pajak tersebut bersumber dari kerja-kerja pengusaha yang membuka lapangan kerja, sampai pada keuntungan perusahaan yang dijalankannya.
Mana mungkin negara ini berjalan, tanpa ada pengusaha. Pajak terbesar ya..bersumber dari kerja-kerja pengusaha. (termasuk hutang2 :D)
Pengusaha juga memiliki ketergantungan yang sama terhadap negera. Perusahaan akan sulit berjalan dengan kebijakan-kebijakan yang sering berubah, apalagi tidak memihak terhadap keuntungan perusahaan. Para pengusaha tentu saja akan menguji kemampuan caleg terhadap pengelolaan bisnis. Kalau seorang caleg tidak paham bagaimana sebuah bisnis berjalan, bagaimana mungkin dia akan membuat kebijakan yang membantu bisnis berjalan dengan baik. Maka keterampilan bisnis, mutlak harus dimiliki oleh seorang caleg. Tak heran anggota legislatif di Amerika Serikat memiliki bisnis sendiri, dan tidak hidup dari gaji menjadi anggota legisatif semata. 

Nah, dukungan kedua kelompok ini lah yang harus dikumpulkan oleh seorang Caleg. 
Caleg lah yang kemudian menentukan partai mana yang akan menjadi perahunya dalam pesta demokrasi. Inilah yang sangat berbeda dengan Indonesia. Di Indonesia, partai lah yang memilih caleg-calegnya, sedangkan di Amerika, Caleg lah yang memilih partainya.

Jika dukungan dua kelompok diatas telah memenuhi syarat, maka suka atau tidak suka Partai Politik harus menerima Caleg tersebut di Partainya. 
Sistem ini, menurutku benar-benar menghargai suara rakyat sebagai penguasa sesungguhnya dalam sebuah negara. Kekuasaan bukan berada di para tetua partai, tetapi Rakyat.
Nah...seberapa baik caleg tersebut, adalah wakil langsung dari organisasi masyarakat dan pengusaha yang diwakilinya. 

Menurutmu, mungkinkah para tetua partai-partai itu mau merelakan kekuasaan demokrasi itu kembali kepada rakyat?. Hanya kebesaran jiwa mereka yang memungkinkan hal itu, dan melihat kebanggaan terhadap kekerdilan jiwa para politisi selama lima tahun terakhir, aku pesimis.
Maka siapakah yang bisa merebut kembali hak rakyat dari para tetua partai itu?. 
Rakyat itu sendiri.... tentu saja. 
Tidak sendiri-sendiri...tentu saja.
Organisasi Masyarakat yang harus tampil di depan.

 

Thursday, March 20, 2014

Tea for Two: Siapkan Seatbelt Cintamu :)


Kata-kata yang dirangkai novel ini memiliki sihir. Memikat.
Seperti rayuan Alan, mengasyikkan.

Perempuan banyak terjangkit cinderella syndrom. Penyakit psikologis yang berharap suatu saat kelak seorang pangeran tampan akan menyelamatkan hidupnya, menjadi pendamping hidupnya. Mungkin pengaruh dongeng-dongeng happily ever after biang kerok penyakit ini.

Sassy pun merasa bertemu sang pangeran, ketika Alan menawarkan cintanya. Manisnya rayuan Alan membuat Sassy lupa, bahwa dia tak perlu diselamatkan oleh seorang pangeran. Perlahan Sassy melepas dirinya sendiri, dan berubah menjadi diri yang tak dikenalnya lagi. Tak percaya diri, takut, menyerahkan seluruh ukuran baik dan benar kepada penilaian suaminya.
Pernikahan membuat Sassy kehilangan dirinya sendiri. Sassy terlambat menyadari, kalau sebenarnya si pangeran lah yang butuh diselamatkan olehnya.

Penulis sangat detail mengaduk-aduk perasaan tokoh Sassy yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Perlahan tanpa disadari, dari kekerasan verbal sampai kekerasan fisik, Sassy menjadi candu dan sulit melepaskan diri dari sebentuk cinta Alan yang mematikan. Membaca detail ceritanya. serasa pengen ikut melabrak Alan dan menghajarnya habis-habisan sebanyak makian dan pukulan yang pernah diberikannya pada istrinya, Sassy. Rasakan!.

Ugh..sayang, pembalasannya terlalu sederhana. Cerai!.
Kalau di cerita film Korea, masih bisa di kupas nih...sampai Alan bertekuk lutut jera, dan meminta maaf secara tulus pada Sassy. *Aku ingin cerita yang seperti itu*.

Sangat suka gombalan Alan tentang bilangan Prima, dan warna putih. Wew..pelajaran fisika dan matematika ternyata bisa jadi gombalan jitu :D

Aku ingin menjadi bilangan prima untuk mu, karena bilangan prima tidak bisa dibagi dengan bilangan lain. Hanya dengan bilangan itu sendiri, dan angka satu, dan angka satu itu adalah dirimu. :D

Alan lebih suka memberi bunga warna putih, dan bukannya mawar merah menggoda. Karena warna putih sebenarnya bukanlah warna, warna putih adalah gabungan semua spektrum warna...
...hahai..warna yang sempurna bukan?

baiklah...
Novel ini menjelaskan KDRT dengan cara yang tidak terlalu menggurui. Well...Sedikit menggurui ketika adegan support team. Tapi...lumayanlah. Pesan sosial tentang KDRT ini, membuat novel ini menjadi spesial buatku.
Terkadang manisnya cinta, membuat kita lupa menyiapkan safety belt. Dan novel ini mengingatkan itu.

kita tetap punya pilihan untuk bahagia.
menikah atau tidak menikah juga pilihan untuk bahagia.
jika kebahagiaan itu adalah cinta.
maka ambillah cinta yang menghidupkan.

Cinta yang membuat cita-cita menjadi lebih kuat dan nyata. Membuat diri menjadi diri yang lebih utuh.

dan bukannya cinta yang mematikan, yang membuat diri kehilangan cita-cita dan jati diri, apalagi kehilangan nyawa karena KDRT.

Thursday, February 27, 2014

Amerika Serikat dan Kebijakan Luar Negerinya

Aku sangat gusar karena Trevor R. Olson, wakil konsulat Amerika Serikat (AS) di Medan menyatakan tidak ada hubungannya rakyat AS (dirinya) dengan kebijakan luar negeri AS.
Saat itu kesal tak terucapku, tapi tentu saja aku sangat..sangat ..sangat....tidak percaya.

Tadinya aku menjawab pertanyaannya tentang bagaimana masyarakat Islam disekitarku menilai AS.
Jujur saja kujawab.
Ya, Lingkungan sekitarku sangat membenci AS.

Kenapa?

jawabnya karena kebijakan-kebijakan luar negeri AS yang bikin gregetan. Soal Palestina, soal perang Irak, dll.semua terkesan arogan dan tidak fair.
Dibelakangnya terendus motivasi bisnis, culas.

Kusampaikan pada Trevor saat perkenalanku masuk sebagai nominasi dalam program IVLP (International Visitor Leadership Program), siapapun warga Indonesia yang berhubungan dengan AS pasti di cap Liberal (negatif).
Misal seseorang disekolahkan di AS, kembali ke Indonesia, pasti mendapat stereotip liberal, alias antek Amerika. Dan sejujurnya aku saat itu  merasakan dan sedang mempersiapkan diri menerima stereotip tersebut juga jika lolos dan diterima dalam program IVLP.

Aku bisa melihat Trevor juga gusar karena generalisasi tersebut. Tapi yah...beginilah cewek batak bicara, apa adanya, dan tak perlu berbelok-belok walau pada saat tertentu aku juga bisa berbicara lebih diplomatis dan melunak.

Kesimpulan Trevor saat itu, dia harus lebih banyak membaca lagi.
Yap...itu cara yang baik, jawabku saat itu. 

****
Mungkinkah karena pembicaraan yang sedikit sengit itu, aku terpilih menjadi peserta IVLP?
Sampai sekarang, tetap misteri bagiku
tapi ya...kunikmati sajalah misteri ini, menjalani 5 negera bagian Amerika yang orang Amerika sendiri pun belum tentu pernah menikmatinya. Sungguh aku merasa sangat beruntung. 

Kegusaranku terjawab dalam pertemuan dengan Mr. Akram R. Elias, Presiden of Capital Communication Group, Inc. dengan sangat lugas dan mencengangkanku saat itu. Si Bapak ini sangat lihai menjelaskan sistem demokrasi AS dalam waktu pertemuan kami yang tak lebih dari 2 jam. Seluruh tubuhnya bergerak penuh semangat, sekali-kali dia berkata sambil menatap mata kami "are you with me". Hei..kalimat itu berhasil mengalahkan kelelahan kami yang masih terpengaruh jet lag. Hari itu, di Wasington DC, adalah hari ketiga kami melakukan meeting untuk program IVLP.

Akan kuuraikan bagaimana sistem demokrasi di AS dalam tulisan tersendiri.
Mengingat Akram adalah orang yang sangat paham dengan sistem pemerintahan AS, maka kukira tepatlah pertanyaan ini kusampaikan padanya tentang pembicaraanku dengan Trevor sebelum berangkat ke AS. 
Kukaitkan juga dengan penjelasannya tentang demokrasi AS yang sangat demokratis sehingga memungkinkan seorang Obama yang 20 tahun yang lalu bukan siapa-siapa bisa menjadi presiden AS saat itu.


Dan dijawabnya begini:

"YA dan TIDAK". 
Dia diam sejenak, dan saat itu aku bingung dan sebal juga. Huuh...jawaban yang aneh. 

"Tidak, artinya begini, Rakyat AS tidak ada hubungan dengan kebijakan luar negeri AS, karena 98% rakyat AS sesungguh tidak perduli terhadap apa yang terjadi di belahan negara lain selain AS, Ya...mereka sangat kritis terhadap jalannya pemerintah mereka dalam mengelola negaranya, tetapi tidak perduli terhadap kondisi negara lain. Hal ini, kemudian menyebabkan tidak ada kontrol terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat, 
Siapa yang mengendalikan kebijakan luar negeri Amerika Serikat tersebut?. ya warga negara yang tersisa yaitu 2%.
jadi YA, itu adalah suara dari 2% warga AS. 
dan TIDAK, adalah  jumlah 98% warga AS yang tidak perduli.
Maka hal itulah yang membentuk kebijakan luar negeri AS".

Aku terhenyak dengan jawaban itu, dan tak bertanya lebih detail, siapa saja 2% itu?. kenapa jumlahnya 2%?. data dari mana?.

Aku hanya teringat saat pidato Barack Obama pada kampanye-kampanye nya di saat pertama kali dia berusaha menjadi Presiden AS. Sampai-sampai pidato itu ku kipling dalam blog karena kagum terhadap cara pandang mereka terhadap dunia, bukan AS semata. ternyata, tak semua warga AS memikirkan dunia. 

Lalu pak Akram menambahi, 
"Rakyat AS akan berekasi terhadap kebijakan luar negeri AS, jika berkaitan dengan perang. Kenapa?
Karena perang berkaitan dengan anggota keluarga mereka yang akan dilibatkan dalam perang. Eh...tunggu dulu kalau perang, untuk apa, kenapa. disitulah baru kebijakan luar negri menjadi perhatian rakyat AS. 
Jadi selama tak mempengaruhi kehidupan mereka, rakyat AS, menyerahkan sepenuhnya kebijakan luar negri AS, kepada pihak pemerintah".

****
hmmm....egois bukan?.

Selesai diskusi dengan pak Akram, kami berkunjung melihat Capitol Building secara langsung. Pak Hengky, penerjemah kami yang gemar berdiskusi itu mencari umpan balik perubahan sudut pandang kami terhadap amerika. 
lalu, kujawab, pembicaraan inilah salah satu yang paling membuatku berbeda melihat amerika saat ini.
Pak Hengky menyimpulkan, nanti tanyalah kepada pihak federal, siapa yang 2% itu.

Aku terdiam.
Diantara pilar-pilar megah simbol demokrasi di gedung Capital hari itu, 
aku menemukan sendiri jawabannya
dan tak perlu kutanyakan lagi.
ada rasa mual dan sedih.

***
kau bisa jawab siapa mereka?
****

Mari berkaca dengan kebijakan luar negeri Indonesia yang sangat menyebalkan terhadap negara tetangganya. Seperti tercabutnya dua pulau sipadan dan ligitan dari Indonesia, ato masalah Reog Ponorogo dan Tari Pendet yang hendak dicaplok negara tetangga, ataupun perlindungan TKI yang disiksa oleh di negara lain.

Bisakah rakyat kita beri pengaruh terhadap kebijakan politik luar negri kita?.

Meski kita perduli, tapi kenyataannya tak bisa seperti yang kita harapkan.
orang-orang pemangku jabatan juga yang menentukan.

Aah...paling tidak, kita, Rakyat Indonesia, lebih perduli....terhadap kondisi dunia internasional.
**

Pulang...untuk apa?


kunyit dan tembakau adalah wangi Indonesia.
kurasa cuma itu yg berkesan dari novel ini

ceritanya mengalir asyik
nuansa orang yang terbuang
dan jiwa-jiwa yang memberontak
tapi kok ya..kurang begitu bergizi ya rasanya
seperti kunyit dan tembakau
hanya rempah
tak mengenyangkan

apalah arti pulang
jika pulang hanya untuk kandas di sepetak tanah air