Thursday, November 17, 2016

Imaginary Love

Negeri tercinta ini, saat ini terlihat berada di ujung tanduk
Si Ahok benar benar menyita energi setiap hari 
dimanapun wajah menghadap, tak ada tempat yang sepi tanpa membicarakannya

Tapi aku gak ingin bahas kehebohan dan keresahan itu sekarang
Hari-hari ini aku ingin cerita Cinta aja :)
why??
Lagi pengen aja
Apa lagi yang bisa meredakan semua luka....
jika tidak dengan Cinta. 
(Eaa...biar reda sedikit sakit kepala ini.)

Well...
Baru-baru seorang teman membangkitkan rinduku pada seseorang di masa lalu
huft....ternyata seseorang itu masih saja membuat pipi ku terasa hangat dan 
terasa melayang.Duh...Indahnya masa putih abu-abu :)

Salahnya sendiri, begitu good looking
sampai saat ini pun masih begitu, tak berubah. 

Andai aku sudah berkeluarga, apa mungkin ya...tetap terasa seperti ini?
ah...masa bodoh..biar kunikmati saja euforianya saat ini. 

Temanku ini memberikan nomor kontaknya
Angka-angka itu ku pandangi saja
akankah aku menghubunginya?
suara kecil dari masa lalu berkata: untuk apa?
Seacak apapun langkahku, selalu ada tujuan.
dan untuk yang satu ini, aku tak ingin melangkah
mendekat pun tidak...
biar kupandangi saja dari jauh
seperti dulu...
sama seperti dulu
mengamati dari jauh
mengumpulkan cerita satu persatu
dan merona sendirian. 

Kenapa?
Kata si kawan..
hmm.... jawabku..:
If I meet him, 
I can't trust my self not to hugh him. 
:).
Dengan tingkat kepe-dean ku yang melesat jauh dari masa imut dulu,
justru aku tak percaya diri dapat mengendalikan diri . 

.
Dulu...Rasa suka yang malah membuatku menghindarinya?
tak bisa bicara dengannya??
hufft....what kind of love is that???

Cinta memang tak harus memiliki bukan?
maksudku....
Ambisi juga tak harus tercapai
Namun energinya telah mengukir diri menjadi aku yang sekarang
kehadirannya membuat hidup lebih hidup.

Kurasa aktor-aktor yang memanfaatkan lidah ahok perlu merasakan seperti ku initapi kurasa mereka gak punya cinta yang menghidupkan di dadanyamereka hanya punya cinta  perut besarnya yang membuatnya rakus dan malas.


Do You think I really love him
I'm not sure too..
for me..
he is my imaginary love. 










Monday, November 07, 2016

Demonstrasi 411



Tiba-tiba angka 411 menjadi populer. Seolah tanggal yang tepat untuk membela sang pencipta yang dalam Islam di sebut dengan Allah. 
Entahlah itu suatu kebetulan, ataupun skenario "zionis" Islam..aku pun tak ingin cari tahu. Angka itu menarik dan mudah untuk diingat untuk sebuah momentum yang menurutku luar biasa yang terjadi di negeriku.
Andai Indonesia kembali ketika saat Sumpah Pemuda di sumpahkan...mungkin sama luar biasanya massa yang bergerak dari penjuru Indonesia yang disatukan air laut ini. Berpakaian putih putih demi membela Qurannya.

Meskipun terdapat perbedaan persepsi memahami penistaan Agama, tafsiran ayat Al Maidah : 51 dan segala hal yang terkait dengan pemicu demonstrasi 411 itu.....
Aku tetap berfikir bahwa amat perlu disadari secara nasional, sikap pejabat Publik haruslah menjaga lisannya dari hal-hal yang berbau SARA. 
ehm....sebenarnya tidak hanya pejabat publik..tapi setiap WARGA Negara Indonesia maupun Asing juga  Aseng yang berada di dalam batas Republik ini. WAJIB!!!. 

Wahai Ahok...amat jauh perbedaan TEGAS dengan merendahkan pemahaman orang lain. 
Untuk lidahmu yang begitu liar, Diam adalah Emas. Sayang sekali...kulihat kau begitu pongah dan tidak mencitai negeri penuh warna ini. Warna agama, warna kesadaran warganya. 

Bhinneka Tunggal Ika di kaki Garuda benar-benar di injak. Ketuhanan Maha Esa, cuma Jargon. Jadilah Demonstrasi 411 membara. 

Darah Muda, Darah Juang bangkit..
sayangnya...ternyata dicemari niat nya untuk tujuan menjatuhkan seorang Ahok. perkembangan terakhir malah menjatuhkan wibawa Presiden yang beragama Islam.

Kenapa Demostrasi dengan membawa bendera agama yang mulia ini, harus tegak demi seorang manusia serendah Ahok?
Terlalu kerdil tujuannya jika hanya untuk seorang Ahok.
sungguh, kerdil sekali kurasa :(

Meminta Polisi melakukan pemeriksaan kepada Ahok?
Hei....kenapa berpikir sempit untukseseorang dan untuk waktu sekarang saja?

Seharusnya demonstasi sebesar itu, meminta Nota Kesepakatan Mentri-mentri. Bahwa setiap pejabat publik/partai Politik yang terbukti membawa isu Sara (berbicara, bertindak, dan menggunakan simbol agama apapun tidak pada tempatnya) harus mendapatkan sanksi hukum. Saksinya  Dipecat dari jabatannya. Dan WAJIB BELAJAR agama yang dilecehkannya di sekolah agama tersebut dalam setahun ATAU sampai hafiz Quran (misal yang disinggung adalah Islam).

Kurasa dengan demikian, gesekan konflik antar agama yang sering dimanfaatkan di setiap moment politik bangsa ini bisa segera terkikis..kis

Siapa pun tau...di Negeri Indonesia tercinta ini, akan begitu rajin membahas agamanya menjelang ajang pergantian kekuasaan. Para calon pemimpin itu lah sebenarnya yang harus di BELAJAR AGAMA terlebih dalam.

Demonstrasi  411 yang begitu luar biasa ini, sama sekali tidak berdampak pada keutuhan bangsa Indonesia. Kecendurangannya malah mengancam stabilitas keamanan. Seandainya presiden benar-benar mundur...tidak kah mereka berfikir siapa yang akan maju memimpin? tidak kah mereka berfikir akan terjadi kerusuhan besar? sudah siap kah, hingga segelintir orang mendambakan tahun 98 kembali? Apa yang sudah kau siapkan? Pahala dan masuk surga?. Berhentilah hidup untuk Kematian. Kematian akan datang sendiri. Cobalah Hidup untuk memberi kehidupan pada bangsa ini....pada generasi penerusmu. 

Yang membuatku lebih sedih, perkembangan pemahaman disekitar ku meningkat, tidak cukup kafir mengkafirkan lagi tapi memunafikkan orang-orang yang berbeda pendapat. 
Tidakkah kau berpikir apa manfaatnya? 
daripada saling mencurigai, tidak kah lebih baik, kau buka sekolah tahfiz, kelas kajian keIslaman. dll. Cari jalan keluar, berhenti cari musuh.

Media...ah...lagi-lagi media sosial. Kau berpikir itu wadah mu untuk Jihad? . Berjihadlah di jalan Allah. Bukan di Dinding Facebook buatan Yahudi :(

Negeri ku yang tercinta....
begitu sedihnya aku melihat masa depan mu
begitu rentannya peperangan antar agama, 
kebencian pada etnis cina yang kian meruncing. 

Aku ingin sekali membuat tempat berbaur. Anak-anak dari etnis tionghoa yang belajar bersama tanpa ada diskriminasi. Pertukaran pelajar, dan merasakan perbedaan budayanya agar lebih paham sudut pandang antar etnis yang berbeda TIDAK akan pernah bisa disamakan, tapi harus dimengerti. 
yang harus sama di semua etnis, suku dan agama di negeri ini adalah aturan Negara.
Aturan Agama tidak boleh dipaksakan kepada orang lain. jika tidak, kita akan terjebak saling menistakan..agama ini, agama itu. 
Hukuman yang tepat untuk penista Agama, adalah mempelajari agama itu, sampai tuntas. Dan jangan pernah mengulangi perbuatannya lagi.


Hasil Demonstrasi 411, sama sekali tidak sebanding dengan Sumpah Pemuda ratusan tahun lalu di negeri ini. Sumpah pemuda cikal bakal berdirinya Indonesia, Demostrasi 411 cikal bakal bubarnya negeri ini.

Demosntrasi 411 seharusnya tidak hanya untuk menghukum seorang Ahok...tapi siapapun yang berbuat sama. Dan hukumannya haruslah yang memberikan perbaikan terhadap hubungan antar Agama, antar Etnis...
Karena 
hei.....
Bhinneka Tunggal Ika itu harusnya dikibarkan...bukan dipijak-pijak. 

Sekian Ahok...dan Ahok-ahok yang lain
Semoga kau mendengar. 



Sunday, October 23, 2016

Kecerdasan Media Sosial

Menulis bagi ku adalah terapi
dan ternyata sudah lama juga tak merawat blog ini.

tren menulis di wall facebook telah mematikan kreatifitas galau ku di blog ini yang ku olah dalam beberapa cerpen dan puisi. Sungguh keterampilan yang amat kusayangkan, perlahan hilang dari keseharianku. 
namun sekarang pun aku jenuh mengisi wall di fb karena disana sudah jadi ajang pengaruh politik. 

Jadi hari ini..ditengah padatnya pekerjaan. kusinggahi lagi pena pera ini
sekedar coretan sehari. 

Hmm...
cukup banyak kegelisahan sebenarnya
namun sayangnya tak perlu kita tampilkan dalam media yang menjadi konsumsi publik. 
ada hal yang memang harus kita telaah dulu, kunyah perlahan, analisa dan ketika sampai pada kesimpulan. Ternyata kesimpulannya, malah: publik juga tidak perlu tahu. :)

Perjalananku beberapa bulan ini adalah seputar kecerdasan dalam media sosial. 
Facebook, whats app, instagram, line dan lain-lain sebagainya. Pada faktanya terkadang menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh. Lalu bagaimana memaksimalkan semuanya menjadi dekat?. Tentunya tak semua orang akan menyukai kita bukan? di dunia nyata pun begitu. Tapi media sosial membutuhkan tingkat etika yang lebih rumit dibandingkan ketika kita bertemu muka di dunia nyata. 

Kenapa? 

1. Faktor utamanya adalah keterampilan berbahasa. Seringkali intonasi, dan tanda baca tidak terekam dengan baik. belum lagi profreader yang terkadang memperkeruh suasana. aku merasakan benar kacaunya saaat menggunakan media sosial melalui hp. Didunia nyata, komunikasi verbal, mimik wajah akan membantu kita mengerti apa yang maksud pembicaraan. Namun itu juga tergantung daya tangkap lawan bicara. Nah...di media sosial, sekat kesulitan seolah bertambah. Dan seringkali kita tak menyadari perbedaan itu. Bisa jadi karena kita terpesona dengan teknologi atau terburu-buru dalam menyampaikan ide . tapi dalam pengalamanku ber media sosial. terlalu banyak salah paham yang terjadi. Itu lah sebabnya....kita harus lebih berhatihati. Zaman sebelum teknologi kita kenal pribahasa lidah tak bertulang, namun jaman media sosial, tulang di jemari pun bisa setajam pisau. 

2. Lalu pada saat ini juga aku sampai pada kesadaran, bahwa media sosial adalah ajang kepentingan politik. Bahkan sangat dikuasai oleh kepentingan politik. Setidaknya Group atau pertemanan facebook ku. Untuk Instagram aku masih merasa sedikit lega. Tapi entah ke depannya. Aku jengah membaca facebook maupun whatsAp dengan segala tujuan politik sekelompok orang. Aku bisa melihat orang-orang yang mengambil posisi provokator, maupun terprovokasi. Diam kadang pilihan yang lebih baik. Didalam dunia gerakan sosial yang nyata, diam berarti bagian dari masalah. Aku belum menemukan sikap yang lebih tepat di media sosial selain dari pada diam. Tepatnya, diam ku adalah tidak menshare atau pun mengomentari status-status politik apapun. Diam ku adalah mengamati setiap pemikiran mereka. Apapun yang kusetujui dari hasil pengamatanku, Tak kubagi kecuali dalam forum ilmiah, di dunia nyata, dan terbatas kepada yang meminta dan membutuhkan saja. Berhenti merasa sok pahlawan, dan dapat menjawab persoalan kehidupan dengan begitu cepat dan tepat. Hidup tak senaif itu. Dan media sosial lebih banyak burung-burung merak yang ingin diperhatikan daripada orang-orang yang butuh jawaban serius dari sebuah persoalan. 

3. Penggalangan dana dengan media sosial. Ini sangat marak dan sulit terdata. tentu saja seringkali penggalangan dana adalah bersifat spontanitas dan walau bisa saja ada juga agenda yang direncanakan. namun penggalangan dana lewat media sosial menurutku sangat rentan dengan tindakan penyelewangan ataupun lari dari tanggung jawab. Tentu saja bukan berarti seburuk itu juga. Budaya Indonesia belum terbiasa memastikan apakah dana yang kita sumbangkan benar-benar bermanfaat dan bernilai terus mengalir. Lebih sering donasi dilakukan untuk membayar rasa iba. Apakah dana itu sampai kepada yang berhak dan digunakan untuk yang Hak, kita seringkali menyerahkan itu kepada yang Maha Kuasa. Bagi banyak orang itu adalah akhir cerita. Tapi sebenarnya itu adalah awal masalah baru. Mental malas, mental si Miskin yang merasa berhak mendapat receh. Itu terbangun begitu saja. Bantuan sosial menjadi tak pernah menyelesaikan persoalan sosial. tapi justru menyebar dan terus menerus. Kita tak pernah benar-benar berfikir dan mau bekerja keras untuk memutuskan tali kemiskinan itu. 

Ya...media sosial membuatku lebih berhati-hati dan amat berhati-hati. Lebih baik berbagi ide dan motivasi perubahan. Tapi lebih baik lagi berbagi apa yang telah kita perbuat di dunia nyata. Itulah sebabnya belakangan ini facebook ku memuat kegiatan sosial yang ku lakukan. 
Negara yang sakit, dunia yang mencemaskan ini, butuh orang yang lebih dari sekedar bicara saja di facebook. Tapi orang-orang yang berbagi dan menyebarkan kehidupan bagi kemanusiaan. 

Inilah yang kusebut, Kecerdasan Media Sosial. 
Aku mencari oorang-orang yang se ide dengan ku. Pada satu tahap menjadi etika sosial. Sehingga peradaban di dunia maya itu pun menjadi lebih manusiawi dan berkontribusi lebih besar bagi peradaban manusia yang manusiawi. 

Semoga. 


Dan Blogger?. Aku masih mencintaimu :)

Thursday, May 19, 2016

Oleh-oleh dariTurki_ (Cappadocia)

Perjalanan liburan ke turki dimulai 29 April dan sampai kembali di Kota Medan tanggal 10 Mei, tepat menjelang jam 12 malam. Masih belum lagi pulih penat perjalanan, kawan-kawan GMC harus berkumpul membahas beberapa hal penting. Stamina ku Drop, meskipun selama perjalanan juga dalam kondisi kesehatan yang menyebalkan. 
Baiklah, pengantar kisah perjalanan ini bukan untuk menceritakan kegalauan terhadap kondisi kesehatanku saat ini tapi sekedar pelipur sesal, karena tak segera menuangkan petualangan di Turki di Pena Pera.

Perjalananku di Turki menuju 2 daerah yang menakjubkan. 
Pertama kali menginjak kaki di Istambul, kami langsung terbang ke Cappadocia, sebuah daerah di Benua Asia, dengan 2 jam perjalanan pesawat. Sesampai disana, masih ditempuh dengan perjalanan mini bus selama 1 jam. Hampir tengah malam, akhirnya kami sampai di Royal Hotel kota Goreme. . Pemandangan menakjubkan menunggu besok paginya.
Dan tadaa...
lihatlah luarbiasanya ciptaan Ilahi


Siangnya kami baru bergerak keluar Hotel, karena lapar. Melupakan letih perjalanan menaiki 4 pesawat terbang, usai makan siang kami menapaki   bukit-bukit Goreme dengan  takjub. Bebatuan bersusun membentuk candi-candi secara alami. Ada yang di keruk di jadikan Rumah, Hotel maupun sarang burung Merpati.  Dibingkai dengan bunga-bunga rerumputan yang cerah. Musim semi baru saja tiba, dan rerumputan di sini seperti ikut merayakannya. Mengumpulkan gambar-gambar bunga rumput, menjadi keasyikan tersendiri. 
Ini masih belum seberapa...Esok paginya selesai subuh, ternyata inilah alasan utama daerah ini menjadi tempat wisata.
Balon Udara.... :)

Struktur alami bebatuan di Cappadocia, dinikmati dari atas dengan balon udara. Wiih...tentu saja menarik banget ya. Hanya bisa dinaiki 2 jam setelah subuh, karena angin tidak begitu liar. Sekalian melihat matahari terbit, dan balon-balon yang bersileweran di langit, pagi di Cappadocia begitu meriah dalam senyap. 

Pengen sih naik balon itu, tapi tentu saja utamanya masalah duit. Naik balon itu harus bersedia merogoh kocek 150 euro. Menikmati terbang selama 2 jam. Walaupun demikian, melihat cara terbang balon ini, rasanya juga tak sanggup. Naik dan turun secara tiba-tiba dan pemandu terkadang membawa balon ke tebing-tebing. Aduuh..melihatnya saja jantungku tak karuan takutnya. 

Beginilah setiap pagi kami habiskan di Cappadocia. Mengejar balon-balon udara. menangkap momen dengan kamera tak seberapa.

Ah...ada satu lagi tentang Cappadocia..yaitu Uderground City. Yap...Kota Bawah Tanah. Konon banyak di temukan di bawah tanah daerah Cappadocia. Bebatuan unik itu tak hanya menjulang ke atas, ternyata dibawah tanah pernah digunakan sebagai tempat peradaban. Paling besar ditemukan 11 lantai ke bawah tanah. Membuat corong udara ke atas, dan mengambil air bersih dari air tanah. Aku lupa memperhatikan bagaimana drainase dan sanitasi di underground city ini. Ada buku yang kubeli untuk mengenalnya.









Thursday, May 05, 2016