Sunday, July 13, 2014

Pilihanku adalah AKU

Seorang teman bertanya di Facebook, ketika aku dengan menampilkan fotoku usai mencoblos, berbaju kotak dan memamerkan 2 jari yang bertinta, tanda aku jelas memilih salah satu capres. 
Temanku bertanya kenapa sangat yakin dan sampai dipamer-pamerkan?.
Aku jawab singkat: " Karena ada Harapan"
sebenarnya aku malas komen secara detail disana. Tapi pertanyaan itu kemudian kurenungkan lebih dalam. Kenapa?.

Awalnya memang gak sengaja ya...
Tadinya untuk menghindari privat massage yang berkampanye membawa isu agama. Dan aku muak dengan issu itu.
Tapi sesungguh daya dorong yang lebih besar adalah 
Ada semangat yang berlebih yang ingin kutunjukkan ke semua orang
Sejak profile picture bersanding angka 2 dan bertuliskan: "I am on the right side".
Aku mulai latah penuh semangat.
Pemilu kali ini amat berbeda, dan penuh dengan harapan.
Diantara jenuhnya aku dengan berbagai berita korupsi di para pemegang keputusan negeri ini
Diantara mualnya aku dengan kebanggaan orang-orang yang hidup dari kolusi dan nepotisme.
Munculnya Jokowi seolah memberi tanda babak baru bagi Indonesia.
Tanda akan munculnya birokrasi yang  bekerja keras, perduli kepada rakyat, muda dan semangat. 
Maka pada pemilu kali ini, aku tegas menyatakan mendukung Jokowi JK.

Jauh sebelum Jokowi menyatakan diri maju menjadi capres, sebenarnya aku mengikuti beritanya. Baik dari media, media sosial maupun pertemanan sehari-hari yang terkadang berkumpul di ajang para aktifis. Jokowi memang beda. 
Ketika dia mencoba memenangkan pilgub jakarta, aku mengikuti setiap trend perkembangannya. Turut berdoa dengan penuh harap, dia memenangkan Jakarta. Dan benar...
Setelah itu ada yang mengajak untuk bergabung di JKW4p. Grup relawan untuk pemenangan Jokowi menjadi presiden. Dengan halus kutolak, karena menurutku saat itu, Jokowi harus konsen jadi gubernur dulu. Tapi dasar...sebuah semangat lagi...menggelontorkon sikapku, dan kemudian tetap mendukung penuh ketika Jokowi maju menjadi calon presiden. Ditambah pemilihan wakilnya Jusuf Kalla. Well...perfect menurutku. I like JK. 

Sementara grup lawan Jokowi, kian hari menjadi tempat berkumpul orang-orang yang sering membuat ku muak. Paling memuakkan adalah  ARB, diikuti oleh Hatta Rajasa. Prabowo sendiri sebuah anak emas orde baru yang masing berharap kekuatan trah masa lalunya masih mampu membius Indonesia. Lengkaplah sudah...Aku tidak akan...tidak akan pernah simpatik pada tim ini. 

Aku sangat yakin Jokowi menang dalam pilpres 2014, sampai ketika dalam suatu pengajian keluarga, isu Jokowi kristen dan cina begitu nyinyirnya disampaikan oleh kaum Ibu. Kutanya sumbernya, lalu para ibu itu bilang: ada SMS yang beredar.
gila...kan SMS!. cuma sekedar SMS dan para ibu yang sering ngumpul untuk pengajian-pengajian ini PERCAYA BEGITU SAJA!.


Dan memang tak kusangka...
Ternyata banyak disekitarku malah berada di pihak berbeda. 
Atasanku, rekan kerja, dosen pembimbing tesisku, teman-teman kuliahku, teman-teman HMI ku, dan kawan-kawan lamaku. Terutama yang beragama Islam. 
Aku jadi terlihat aneh sendiri. Kadang di bully. Kadang diajak diskusi menjurus oleh teman-teman yang berpura-pura netral, padahal setelah kubacai perkembangan statusnya di facebook, jelas dia adalah tim sukses kandidat satunya lagi. 

Aku sempat shock dengan teman-teman tertentu yang keterlaluan, berubah menjadi sangat kasar dalam memberikan komentar di facebook. Terlalu berlebihan. Seolah dia sangat mengenal segala keburukan tokoh yang kudukung, dan capres nya begitu mulia dan suci. 
Awalnya kukomentari, tapi setelah kulihat perkembangannya semakin meruncing, aku memilih bercanda saja. Jika keterlaluan sekali, kuhapus saja komennya di wall ku. Daripada seharian emosiku tidak stabil, lebih baik aku hapus saja. Mengabaikan adalah pembalasan yang paling telak dariku. Ada beberapa pertimbangan, kenapa aku tidak menghapus pertemanan facebook dengan mereka. Alasan terbesarnya adalah aku ingin membaca seluas apa dan seintens apa issu agama dan rasis mengakar dan dinyalakan di lingkungan sekitarku. Siapa orang-orang pembuat onar sesungguhnya. Nama-nama itu kusimpan dalam hati saja. 

Di dunia nyata, aku sendiri cukup dekat dan santai berbicara dengan seorang teman yang tim pemenangan inti Prabowo, sambil tertawa, tanpa melecehkan siapapun, dan apalagi berkata-kata kasar. 
Maksudku...itu temanku diatas bukan siapa-siapa, bukan mendapatkan apa-apa, tapi kok...jadi penebar fitnah begitu. Sedangkan tim suksesnya sendiri, tak perlu menjadi hina seperti itu untuk mendukung capresnya. 
Mengapa begitu mudahnya teman-teman yang kukira kritis dalam menelaah informasi, ternyata menerimanya bulat-bulat, meneruskan informasi yang belum pasti, dan bersuara lantang sampai kasar, seolah sesuatu yang amat jahat sedang terjadi terhadap dirinya dan negeri ini?.
Tak hanya di kelompok para ibu-ibu pengajian, tapi ternyata hasutan begitu mudah ditelan oleh orang-orang yang mengenyam pendidikan tinggi. 


Aku merasa tugas pembedayaan perempuan, muncul lagi untuk diperjuangkan. Tapi dalam waktu dekat aku juga menyadari, begitu mudahnya isu agama menjadi alat adu domba politik di Indonesia. Padahal  jelas-jelas isu ini hanya muncul pada saat pertarungan politik saja. Namun seolah-olah membuat orang yang termakan isu ini menjadi pahlawan agama dan sukunya. Preeet!

Jadi...kenapa aku memamerkan pilihanku adalah:
Karena aku ingin menunjukkan
Bahwa...
Seorang Pera adalah Pera seutuhnya, yang bebas memilih siapapun yang dianggapnya pantas.
Bahwa seorang Pera adalah Pera yang tidak takut terhadap kenyataan menjadi berbeda, aneh di lingkungannya. 
Bahwa keputusanku adalah prinsip dan tak kugadaikan dengan rasa takut berbeda, takut tak punya teman, takut kehilangan pekerjaan, takut ditinggalkan.

Aku juga ingin sangat menunjukkan bahwa...Isu agama adalah isu Sampah yang sesungguhnya. Isu yang dimainkan oleh pelacur-pelacur politik, yang hidup dari menjual permusuhan antar agama. Pada kenyataannya, Islam mereka berbeda dengan Islamku. Pada kenyataannya ketika mereka yang mengaku pejuang-penjuang Islam di partai-partai Islam itu HANYA memikirkan kepentingan kelompok Islam yang bergabung di partainya saja. Dan aku...dari kelompok Islam yang tidak berpartai ini...hanya jadi alas kaki, alat permainan, pion catur, yang pada masa kemenangan nanti...tak lebih dari debu yang hina. 

Maka, inilah aku dengan pilihanku.
Pilihan yang menyatakan inilah 
AKU, 
Harapanku, 
Keyakinanku, 
keIslamanku.

*****


"I am on the right side".
Aku yakin seyakin yakinnya jika aku telah bertindak Benar.

Sunday, July 06, 2014

Memilih karena HARAPAN

Untuk semua kegembiraan Politik
Pesta Demokrasi
Pemilu Presiden 2014

Karya-karya kreatif relawan
Massa masif dari segenap penjuru
Tanpa bendera partai 

Sudah lama tak kulihat semangat ber Indonesia yang seperti ini
Terakhir kali kurasa hanya saat jatuhnya rezim di 1998
Sekali lagi, sejarah seolah ditanganku
bergerak bersama tangan-tangan yang lain

Maka biarlah aku sekejap merekamnya
Sebagai saksi pilihanku pada
HARAPAN....

Indonesia lebih baik...
Indonesa Hebat.
*****

MAKLUMAT JOKOWI-JK

(Gelora Bung Karno, Jakarta, 5 Juli 2014)
Saudara- saudari sekalian, tidak ada yang lebih membanggakan dalam hidup saya selain berdiri di sini dihadapan Anda semua. Anda adalah orang-orang yang selalu bekerja keras, mengorbankan waktu dan tenaga, menyumbangkan pikiran dan gagasan serta semangat untuk mewujudkan jalan kebaikan dan perubahan bagi Indonesia
Anda semua adalah pembuat sejarah dan sejarah baru sedang kita buat. Itulah yang menjadi alasan mengapa saya dan pak JK berdiri di sini

Apresiasi kepada semua yang menjaga nilai-nilai keagamaan, di masjid, di gereja, di vihara, di pura, serta mereka yang konsisten melestarikan nilai-nilai adat nusantara
Saya dan Pak JK berdiri di sini bukan karena nafsu untuk berkuasa apalagi dengan menghalalkan segala cara.
Kami berdemokrasi untuk mendengar. Kami datang untuk ikut menyelesaikan masalah, bukan menambah masalah. Kami hadir untuk ikut memberi rasa damai, bukan jadi pemicu konflik.
Saudara-saudari, kita berkumpul untuk membulatkan tekad, menyatukan hati dan bekerja keras sebagai tanggung jawab untuk melakukan perubahan demi kebaikan Indonesia dengan cara-cara bermartabat.
Kita berkumpul di sini sebagai bagian dari demokrasi yang memastikan partisipasi seluruh rakyat untuk menentukan masa depan bangsa, penghormatan pada hak azasi manusia, berjuang untuk keadilan dan memelihara keberagaman serta perdamaian.
Kita menolak segala bentuk intimidasi, kebohongan dan kecurangan yang mencuri hak rakyat untuk menentukan masa depan Indonesia.
Sebarkan kebaikan…! Rakyat tidak perlu percaya pada fitnah dan kebohongan. Kita semua telah dihantam fitnah dan kebohongan, tapi kita tak pernah tumbang karena kita bekerja tulus untuk Republik tercinta.
Kita semua adalah penyala harapan untuk Indonesia. Kekuatan kita adalah pada kerelaan. Anda rela bersatu padu, berdiri tegak, bekerja keras menyuarakan pesan tegas bahwa tidak ada yang tidak mungkin untuk perubahan.
Saya dan Pak JK sekali lagi berterima kasih pada seluruh relawan, pemuka agama, tokoh masyarakat, aktifis, pekerja seni, petani, nelayan, buruh, guru, pegawai negeri , mahasiswa – pelajar, dan seluruh lapisan masyarakat untuk menyatukan tekad mengawal proses pemilu Presiden ini demi tercapainya cita-cita bersama.
Buat generasi muda, adik- adik saya… Kalian pemilik masa depan Indonesia. Ijinkan kakakmu ini mengajak kalian semua untuk ikut menentukan arah Indonesia
Jalan tinggal selangkah lagi. Jaga TPS Anda…!
Saya dan pak Jk berjanji jika Anda memberi kehormatan luar biasa pada kami untuk menjadi Presiden dan wakil Presiden, maka kami akan bekerja keras setiap hari untuk Anda, dan untuk anak-anak Anda.
Salam perdamaian, Salam 2 jari…!




*****
Kelak, jika JKW-JK menang...aku akan bisa berkata kepada generasi masa depanku:


Sunday, June 29, 2014

Mengintip sekolah dan sistem pendidikan di Amerika Serikat

Bagaimana tokoh-tokoh ilmuwan, politik, ekonomi dan berbagai teknologi canggih bisa terlahir dari Amerika Serikat?. 
Tentu bukan hal yang terjadi begitu saja. Ada sistem dan proses regenerasi yang tetap menjaganya hingga saat ini.
Kali ini mari kita lihat dari sudut dunia pendidikannya dulu.
Program IVLP mengajak kami mengunjungi berbagai jenis sekolah di 5 (lima) negara bagian Amerika Serikat (AS). Dari Sekolah negri tingkat SMP, SMA di Columbia, sekolah negeri tingkat PAUD dan SD di negara bagian Michigan, Sekolah individual_Randolph School yang super mewah di Alabama, sekolah berbasis Kristen (lupa alirannya) di negara bagian Alabama, Sekolah SMP SMA kelas ekonomi bawah di negara bagian Seattle-Washington. serta Universitas Utah di negara bagian Utah dan universitas Wasingthon di negara bagian Seattle-Washington. 

****

SISTEM PENDIDIKAN DAN POLITIK
Karena tulisan sebelumnya berkisah tentang politik dan kebebasan beragama, maka kita lihat dulu sejauh mana hubungannya dengan dunia pendidikan.
Sistem politik dan demokrasi AS sangat erat terkait dengan sistem pendidikannya. Tanpa pendidikan yang sistematis, maka negera ini akan hancur dengan sendirinya, dan karya-karya peradaban mereka tentang demokrasi yang mereka banggakan akan lenyap begitu saja.

Dalam kisah pertemuan dengan Mr. Akram di Washingthon DC, di tulisanku yang lalu, beliau juga menjelaskan eratnya kaitan pendidikan bagi langgengnya sistem demokrasi di AS. 
Kalau di tulisanku sebelumnya ada penekanan terhadap pentingnya pemisahan agama dan negara, dan adanya pelemahan peran partai politik pada sistem pemilihan anggota legislatif, Maka, ada satu hal lagi yang juga perlu dipahami dan menarik untuk dipelajari sebelum kuurai hasil intipanku tentang pendidikan di AS:
bahwa perundang-undangan di AS tidak dibuat untuk kelompok tetapi kepada individu*. 

Ini adalah resep, agar undang-undang mereka dapat diterima oleh rakyat Amerika Serikat. Pola perumusan undang-undang yang memihak kepada individu, dan bukan kepada kelompok, di buat untuk memastikan hak setiap individu dipenuhi oleh negara. Seperti kujelaskan pada tulisan sebelumnya, pemihakan kepada kepentingan kelompok akan mengakibatkan tarik menarik kepentingan yang rumit dan tidak akan selesai. Kelompok minoritas akan menjadi kelompok yang semakin termaginalkan. Tapi jika undang-undang dibuat untuk melindungi setiap individu, maka tarik menarik kepentingan kelompok dapat ditekan. 

*(Kalau di Indonesia, contoh sederhana adalah perda syariah. Peraturan negera tapi hanya berlaku kepada kelompok tertentu. Tapi tentu saja, karena label agama yang melekat dalam perda tersebut, di Indonesia menjadi komoditas politik untuk dibela. Kelompok Islam merasa terusik jika perda ini tidak disahkan. Kemudian, tentu saja agama lain dalam negera ini juga ikut-ikutan menginginkan yang sama. Perda Kristen di Papua, mungkin akan diikuti dengan perda Budha, perda Hindu...dengan dasar berfikir, mereka kelompok mayoritas di daerah tertentu di Indonesia. Walhasil menjadi perdebatan tak kunjung habis).

Menurut Mr. Akram, untuk mendukung sistem politik mereka, pendidikan di AS didesain dengan tahapan penting berikut:

1. Melawan pemikiran kelompok. 
Hal ini paling penting dan mendasar. Tidak boleh keroyokan dalam menyelesaikan masalah, apalagi tawuran. Sikap ini juga dibutuhkan dalam proses legislasi. Kepentingan kelompok harus benar-benar diminimalkan. Pendidikan tentang ini, sejak dini ditanamkan.

2. Mengembangkan individu sebagai pribadi yang berkarakter. 
    Berkarakter yang dimaksud adalah: seorang anak tau apa, siapa, mengapa dan untuk apa dirinya ada. Sikap ini mencetak anak-anak yang percaya diri, dan berani. Mandiri dan tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan yang tidak baik.

3. Mendorong kepemimpinan individu dahulu baru.. baru membangun: TEAMWORK.
    Nah...disinilah peran organisasi menjadi wadah pembelajaran teamwork. Menjadi relawan/volunter ataupun penggiat organisasi. Para relawan inilah yang membantu calon anggota legislatif berjuang mendapatkan kursi nantinya. Kemampuan mereka mengalang dana, mengorganisir berbagai kegiatan dan berkampanye menjadi sumber produksi kepemimpinan yang terus mengalir. Kegiatan ini ada yang didukung oleh pihak sekolah. Ada juga berupa kegiatan mandiri siswa. Sayangnya aku kurang begitu jelas mengetahui bagaimana sistem evaluasinya.
Uniknya, di AS partai politik, boleh punya organisasi dari tingkat kampus sampai sekolah dasar. Dan biasanya gak banyak peminatnya. Sepertinya masih lebih banyak peminat kegiatan sosial.

Di AS (katanya sih)...gak penting titel-titelan. Klo jadi pejabat ataupun melamar pekerjaan, yang dilihat adalah kemampuan teknis bukan deretan titel akademis. Gak laku. Beda sekali dengan Indonesia bukan?.

Ketika berkunjung ke Utah University, berhubung kuliah disana murah, dari 4 mahasiswa yang kami ajak berdikusi, ada 3 orang yang mengambil kuliah dengan jurusan yang berbeda. Rata-rata mengambil dua jurusan sekaligus. Seperti si cewek cantik bersepatu boat diatas, mengambil jurusan Ekonomi dan jurusan Politik sekaligus dan IP cumlaude, biasa aja bagi mereka. Yang luar biasa, dengan padatnya perkuliahanya, dia adalah ketua organisasi mahasiswa di Kampusnya. Kegiatannya cukup banyak mengundang tokoh-tokoh politik AS untuk berdiskusi di kampus.
Jadi kalau deretan gelar, tamatan universitas AS bisa panjang-panjang deretannya. Tapi sayangnya bukan itu yang dinilai di dunia kerja. Yang dilihat adalah kemampuan teknisnya yaitu: kepemimpinan dan kemampuan dalam teamwork. Maka mahasiswa memang senang dan butuh berorganisasi disana.
Anak-anak SMA di bawah ini, sangat percaya diri, mereka tau cita-cita mereka, kemana dan bagaimana langkah mereka selanjutnya setelah tamat sekolah. 
Satu hal yang mulai memprihatinkan di pendidikan politik AS adalah tingginya golput saat pemilu. Konon katanya karena mereka sudah merasa nyaman dengan sistem mereka, jadi kenapa harus berganti. Bagi para orang tua yang masih ingat bagaimana proses mendapatkan hak berpolitik yang penuh dengan perjuangan, hal ini tentu mengesalkan. Jika semakin banyak yang golput, demokrasi mereka bisa padam juga.

JENIS SEKOLAH
Dari tingkat universitas, mari kita lihat dunia pendidikannya di tingkat dasar.  Berdasarkan pihak pengelolanya, maka ada tiga jenis sekolah di AS. yaitu:
1. Sekolah Negeri
Sekolah Negri di AS, seperti juga sekolah negeri di Indonesia. Pengelolaanya oleh pihak pemerintah. Bedanya, sekolah Negri di AS tidak boleh mengajarkan pendidikan Agama di sekolah. Pendidikan Agama diserahkan kepada keluarga masing-masing, ataupun kelompok orang tua. Pada sekolah yang dominan ditinggali suku bangsa tertentu, bahasa bangsanya tetap diberikan sebagai kelas tambahan. Misalnya, bahasa arab di kota Detroit. 

Salah satu Gedung Sekolah dan suasana ruang kelas sekolah negeri  di Washington Dc

2. Sekolah berbasis Agama
Meski sekuler, pemerintah AS tetap mengijinkan adanya sekolah yang berbasis agama. Sekolah agama Kristen, Islam, dan lain-lain. Namun Negara tidak akan mengucurkan biaya bantuan apaun kepada sekolah tersebut. Mendirikan sekolah berbasis agama, harus menerima konsekuensi menjadi sekolah yang mandiri dalam pembiayaan. Dalam hal kurikulum, sekolah ini bebas mengatur kurikulum sendiri. 

3. Sekolah Individual
Ada juga istilah sekolah individual di AS. Ini konsepnya beda dengan sekolah swasta di Indonesia ya. Sekolah Individual, tidak dikelola oleh pemerintah maupun bukan sekolah berbasis agama. Tetap saja sekolah ini tidak boleh mengajarkan pendidikan Agama di sekolahnya. Sekolah individual, adalah sekolah yang didirikan oleh masyarakat, bisa juga mendapat bantuan pembiayaan dari pemerintah, namun yang membedakannya adalah Konsep pendidikannya tidak diharuskan mengikuti panduan(kurikulum) dari pemerintah. 
Seperti sekolah yang kami kunjungi di bawah ini, Randolph School di Huntsville Alabama, adalah sekolah yang memastikan siswanya dapat menjadi pemimpin yang handal. Salah satu program yang cukup menarik yaitu Civic Challenge yaitu anak tingkat SMA  praktek menjadi City Leader (pemimpin kota) di Gedung Walikota Huntsville. Mereka selama sebulan menjalankan aktifitas sebagaimana para pejabat publik tersebut bertugas sehari-hari. Orang dewasa harus menghormati mereka. Dari simulasi tersebut, mereka membuat paper penelitian, yang menjadi masukan kepada pihak pemerintah. Hebat juga kesan yang kutangkap ketika kami berkunjung ke kantor Walikota Huntsville dan mengecek sejauh mana anak-anak SMA tersebut berkarya. Mereka terkesan dengan ide anak-anak tersebut. Dan akan menerapkannya ditahun-tahun berikutnya. keren bukan?. 

Randolph School. Sekolah kelas mewah. Dibangun oleh individual oleh masyarakat, untuk memperkuat eksistensi Huntsville sebagai rocket city. Misinya mencetak orang-orang unggul secara kepemimpinan, olah raga dan sains. Fasilitasnya waaah, ada gedung atletik,gedung seni, auditourium, perpustakaan yang apik tentan, dan halaman yang luas.


DISTRIBUSI HAK UNTUK SEKOLAH
Sisi yang juga menarik dalam dunia pendidikan adalah, pembagian hak sekolah. 
Di AS, menurut penjelasan kedua penerjemah kami, sekolah dibagi untuk mencakup satu wilayah tertentu. Contoh: Sekolah X hanya boleh menerima siswa dari lingkungan radius 10 km saja. 
Jadi, seandainya seorang anak tinggal di kecamatan A, dia tidak boleh sekolah di kecamatan B.
Konsep ini bagus untuk akses sekolah yang terjangkau dan aman bagi anak. Pengaruh positif lainnya tentu saja, membagi beban transportasi, sehingga terhindar dari kemacetan.
Tentu saja ada sekolah yang kualitasnya bagus atau menjadi favorit dan sekolah yang kualitasnya biasa saja.
Bagaimana jika seorang keluarga tidak ingin anaknya sekolah di A, sementara dia tinggal di kecamatan yang sama dengan sekolah A?. Maka solusinya adalah dia harus pindah ke daerah dimana sekolah yang diinginkan tersebut berada. Jika ingin bersekolah antara negara bagian, bisa menjadii lebih sulit lagi. 

PERLINDUNGAN ANAK
Negara ini sudah cukup paham akan hak Anak. jangan sembarangan ambil foto anak di negera ini. Bisa langsung kena tegur. Beberapa sekolah yang kami kunjungi, dan boleh berfoto bersama anak, adalah dalam seijin orang tua dan pihak sekolah. Sekolah tingkat dasar dan PAUD sangat menjaga hal ini. Tak boleh memfoto, apalagi menyentuh si anak.
Dalam sebuah acara reality show di TV, kutonton sebuah adegan yang menguji kepekaan lingkungan AS terhadap perlindungan anak dari asap rokok. Ada dua orang pasangan muda seolah sedang menggendong anak, berdiri dipinggir jalan sembari menghisap sebatang rokok. Setiap orang yang melintasi mereka selalu ngedumel, mulai dari cara sopan dan kasar menasehati pasangan tersebut. 

UJIAN NASIONAL
Apakah di AS ada ujian nasional seperti di Indonesia?. Mereka juga punya, namun sepertinya pemerintah federal tetap memberikan wilayah kebebasan kepada pihak pemerintah negara bagian untuk merumuskan kurikulum dan ujian nasionalnya. Mungkin itu juga sebabnya, antara negara bagian sulit menerima siswa yang berpindah sekolah. 

POLA PENGAJARAN
Berikut pola pengajaran mereka tertuang secara sederhana di gambar bawah ini: Cafe (Comprehension, Accuracy, Fluency, Expand).
Semua mata pelajaran menerapkan pola pengajaran yang sama. 

konsep cafe dalam pelajaran bahasa Inggris

 
konsep cafe dalam pelajaran matematika

PENDIDIKAN SEJARAH
Amerika Serikat yang kulihat memang sangat menjaga sejarahnya. Di sekolah-sekolah selalu saja ada mading seperti gambar dibawah ini. Isinya tokoh-tokoh bersejarah di negeri ini, apa perannya dan apa kutipannya yang terkenal. Gambar dibawah ini ada di sekolah PAUD...bayangin deh...untuk anak usia 5 tahun kebawah sudah belajar sejarah. Pelajaran sejarah termasuk juga buku-buku pendukungnya. 
Gambar dibawah ini adalah buku untuk anak tingkat SD. Dikemas agar mudah di baca oleh anak. Pengenalan akan HAM, demokrasi dan perdamaian, sejak dini sekali sudah ada. 

FASILITAS SEKOLAH
Nah...ini juga menarik. Bagaimana fasilitas sekolah negara adidaya ini?
lihat gambarnya saja yaa..



Di SD di Michigan, setiap ruangan ada Toilet, sehingga guru tetap bisa mengawasi muridnya dikelas. Meja nya merupakan kotak peralatan tulis dan buku. Mudah di pindahkan, cukup kuat dan nyaman. 


Perhatikan huruf braile di tanda ruang. Ini di sekolah negeri lo..

Suasana Gang di sekolah tingkat SD. Penuh dengan tempelan karya. Dan ada tempat khusus yang disediakan, sehingga dinding tetap bersih dari sisa selotip. Dinding setinggi pinggang di lapis mozaik sehingga tidak mudah kotor

Tulisan Opini. Setiap dinding tak tersisa untuk karya anak2. 

Alat-alat tulis dan metaplan penuh warna. seperti fasilitas training yaa..

Ada ruang khus untuk kamar mandi dan tempat jaket di setiap ruang kelas.

Untuk ketelitian mereka terhadap anak berkebutuhan khusus, memang cukup mengagumkan. Selalu ada akses kursi roda, toilet yang bisa dimasuki oleh kursi roda, dan penanda ruangan yang membantu orang-orang tersebut. Sebagai arsitek...aku jadi belajar kembali. 
*****



Friday, May 23, 2014

Repotnya Toilet Di Amerika Serikat

Kali ini kisah perjananku selama program IVLP akan berkisah tentang toilet.
Ya..toilet, kamar mandi, WC, Water Closet
Di Amerika Serikat disebut rest room. 
Ruangan kecil ini, adalah ruangan yang paling sering dikunjungi dari seluruh program kami. :D


Selama perjalanan IVLP, toilet adalah tempat yang paling penting. Musim dingin membuat kami sering pipis. Hampir setiap tempat kunjungan/pertemuan, kami harus singgahi dulu toiletnya. Ketika mau berangkat pulang pun, toilet masih tetap dicari. 
Kisah tentang pengalaman dengan toilet di AS bersifat personal dan merepotkan. 
Pada satu momen, dengan sedikit malu-malu kami  curhat juga karena kekonyolan kami menggunakan fasilitasnya. 
Bisalah dibilang:  kampungan. hehee....

Di toilet kamar hotel, aku sering bermasalah dengan jenis kran untuk bath tube. Di kamar mandi, selalu tersedia air panas dan dingin. Ada yang tinggal geser satu kran, dan menyetel panas dinginnya. Ada juga yang terdiri dari 2 kran, terdiri dari panas dan dingin. Karena kami sering berpindah hotel, maka setiap pindah hotel akan beradaptasi dengan jenis kran nya. Kadang bingung harus pencet tombol apa.
Pada satu agenda, aku menginap di rumah penduduk. Kamar mandinya mewah sekali. Lantainya di lapisi karpet tebal, dan pernak-pernik antik, dan lengkap juga dengan majalah. Nyaman sekali. Bathtube nya dilengkapi jacuzzi. Banyak benar tombolnya. Karena sudah malam, segan bertanya sama yang empunya rumah yang sudah beristirahat, tak jadilah bereksperimen merasakan bathtube mahal itu. Sayang sekali, aku lupa merekam foto kamar mandi itu. 

 
Toilet di hotel kami yang paling nyaman, Kota Huntsville

Mandi di kamar mandi yang bersih memang paling menyenangkan. Kalau di toilet kamar hotel, gak kan bosan berlama-lama. Tapi di musim dingin tidak boleh sering-sering mandi. Karena ternyata air dapat merusak kelembaban tubuh. Jika suka mandi, maka harus segera pakai pelembab, agar kulit tetap sehat. Satu teman kami yang malas pakai pelembab, karena katanya malu sebagai laki-laki, kulitnya jadi gatal, memerah dan keluar darah. Gak enak banget. Aku pun sempat merasai sedikit. Cepat-cepat ku perbanyak pelembab ku. 

Toilet di Amerika Serikat, jenis kering, tak ada air di lantai. 
Dalam bangunan publik, dalam toilet umumnya akan ada satu WC yang dapat digunakan oleh diffabel.  Oya...fasilitas untuk diffabel (pengguna kursi roda) sangat diperhatikan di setiap bangunan publik di AS. Sayang hal ini kurang di eksplore dalam agenda kami. Mungkinkah karena perang yang mengakibatkan banyaknya difabel membuat mereka lebih peka dalam mendesain bangunan yang nyaman bagi difabel?. Kalau di Indonesia, perjuangan untuk bangunan yang ramah terhadap diffabel ini masih jauh dari harapan.

Di bangunan publik, juga mudah ditemui toilet untuk ukuran keluarga. Rupanya toilet jenis ini untuk keluarga yang punya bayi. Ruangannya cukup besar, ayah ibu dan anaknya bisa saling membantu mengurus bayi didalamnya. Ada fasilitas untuk mengganti popok bayi dan ruang yang nyaman untuk menyusui. Enak ya?. Bangunan publiknya memikirkan fasilitas keluarga. 

Didalam toilet selalu dilengkapi wastafel untuk membasuh tangan, dengan sabun pembersih dan tissu pengering, berhadapan dengan kaca yang besar untuk memantaskan diri. WC nya selalu WC duduk.

Dalam ruang WC, juga terdapat peralatan pendukung. Seperti gulungan tissu, penggantung tas.
Sebenarnya bagiku toilet duduk untuk fasilitas umum, amat menjijikan, karena bekas duduk berbagai jenis orang. Bayangkan jika pengguna sebelumnya menderita penyakit kulit atau kelamin dan melekat di mulut toilet itu. Yaicch...gak kebayang penyakitnya juga akan ikut menular bukan?. Maka kalau sudah begini, tissu yang tersedia akan jadi penyelamat yang baik. Jika tissu habis...alamat....naiklah keatas closet duduk. Jadi gak heran kan klo ketemu toilet duduk di Indonesia bergores-gores coklat bekas pijakan sepatu. 
Di banyak toilet yang kami singgahi di AS terkadang ada tissu yang berbentuk mulut WC. fungsinya sebagai alas duduk. Jenis kertanya mirip dengan kertas roti yang tipis dan berkualitas rendah. Tapi membuat jadi lebih nyaman dalam menggunakan kloset duduk. Nah..ini solusi cerdas untuk kondisi menjijikkan tadi. 

Selama di AS, kuperhatikan Orang AS sangat pembersih. Paling khawatir kalau kuman menyebar, terutama dari bersentuhan. Kesadaran cuci tangan terlihat sangat penting, sehingga di setiap toilet/restroom, sabun pencuci tangan pasti tersedia, dilengkapi dengan tisu pengering tangan. Untuk kebiasaan ini, bagiku terasa menyenangkan. Aku jadi tak khawatir jika bersalaman di AS. Klo di Indonesia, bersalaman (dengan lelaki terutama), kadang jadi curiga, ni cowok, setelah pipis, cuci tangan gak ya?. 

Sebegitu bersih dan banyaknya peralatan pembersih dalam toilet yang ku temui di AS. Ada satu aktifitas penting yang sepertinya tak jadi kebutuhan mereka. "Cebok". Bahasa elegannya: Istinjak.

Yup...di toilet yang amat bersih itu, tidak ada fasilitas untuk cebok dengan air bersih. Maaf, aku tak pernah ngintip bagaimana orang AS cebok. Apakah cukup dengan kertas toilet saja?. 
Melihat peralatannya sih...sepertinya begitu.

Untuk hal ini aku sering geli sendiri melihat budaya mereka. Begitu bersihnya mereka menjaga tangan dari kuman. Tapi kenapa untuk urusan bagian tubuh yang vital, rentan kotoran dan penyakit, justru tak melakukan pembersihan yang maksimal. 

Nah...urusan cebok inilah yang paling sering merepotkan. Cara mensiasatinya, sebelum masuk WC, aku pasti nyari tissu dulu untuk dibasahi. Sulitnya, biasanya sudah kebelet baru masuk WC, kebayang kan jumpalitannya menahan pipis, tapi mesti nyari tissu buat dibasahi dulu?. 
Kalau buang air besar lebih repot lagi. Tissunya tentu lebih banyak :D. 
Akhirnya, pertama kali ketemu supermaket di AS, yang paling dicari adalah tissu basah bayi. :D. 

***
Satu-satunya toilet yang kutemui memiliki jet pump untuk keperluan cebok adalah di Zaman Institute, yaitu lembaga sosial yang mayoritas dijalankan oleh perempuan Arab Muslim di kota Dearbon, Michigan. Langka beneeer. 

     Bersama Ibu-ibu Zaman yang ramah dan baik hati :)


Monday, May 19, 2014

Agama dan Negara

Indonesia mengakui 5 (lima) agama yang boleh dianut oleh warga negara Indonesia yaitu, Islam, Kristen (Katolik/Protestan), Budha, Hindu, Konghucu.
Saya yakin setiap pemeluk agama, akan mengatakan bahwa agamanya adalah agama yang benar. Setiap pemeluk agama memiliki ritual ibadahnya sendiri, dan membutuhkan ruang untuk melaksanakan ibadahnya. 




Setelah mengikuti program IVLP di Amerika Serikat, aku menemui agama lainnya. Ada Yahudi, ada Mormon. 
Ternyata ada agama lain selain agama yang ditemukan oleh pemerintah Indonesia ini. 
Dari seluruh jenis agama di dunia iani, lalu kenapa hanya 5 agama yang bisa dianut di Indonesia harus dibatasi oleh pemerintah?. 
Apakah karena hanya 5 agama ini yang dianggap benar?. 
Kenapa kebenaran harus ada 5?, 
kenapa tidak satu saja?. 
Atau kenapa tidak sepuluh, seratus dan seterusnya?

Saya yakin, satu-satunya alasan kenapa 5 agama tersebut yang direstui, karena kelima kelompok itulah yang ada ketika negara ini terbentuk. 
Ok...Konghucu memang termasuk paling akhir, diakui. Namun penganutnya telah banyak dan tak pernah dianggap beragama sebelum negara akhirnya menambah dari 4 agama menjadi 5 agama. 

Ketika Negara membatasi jumlah agama yang boleh dianut hanya 5, maka tentu saja, penganut agama selain yang 5 tersebut tidak boleh ada di negara tersebut, dan tidak difasilitasi oleh negera. 
Lalu apa konsekuensi, ketika negara menyatakan pembatasan jumlah agama menjadi 5?. Tentu aja negera harus merawat kelima agama tersebut tetap terjaga, tersedia fasilitasnya, terpenuhi hak-haknya. 

Bagaimana pihak penganut agama memastikan hak-haknya tetap terjaga dan terpenuhi?. maka penganut agama akan memasuki pemengang kebijakan dan mempengaruhinya sesuai dengan misi golongannya. Dan tentu saja akan terjadi tarik menarik kepentingan. 

Contoh, Kemetrian Agama selalu dipegang oleh orang Islam, dengan dalih, Islam adalah mayoritas. Kuantitas, akan mempengaruhi jumlah orang yang akan menduduki posisi penting dalam pengambilan kebijakan. Jika minoritas mendapatkan posisi penting tersebut, akan sangat mudah digembosi oleh isu sara, sepertinya akan sangat sulit, sesulit Ahok yang etnis tionghoa duduk di pemerintahan.

Lalu dimana posisi penganut kepercayaan?. Penganut kepercayaan adalah agama asli Indonesia. Banyak jenisnya dengan jumlah yang minoritas. Oleh karena itu, keberadaanya kian tersingkir, dianggap aneh dan kolot. Dikeluarga saya, penganut aliran kepercayaan ini, terpaksa berpindah keyakinan memilih salah satu agama karena ribetnya urusan administrasi negara, jika tidak memilih suatu agama. Maka terjadilah pencampuran ritual. Mereka secara administrasi negara, beragama, namun aktifitas ritualnya tetap saja menjalankan aliran kepercayaannya. Ketika meninggal, akan dimakamkan sesuai dengan agama yang dianutnya dalam administrasi negara. Aku tau betul, nenek ku yang beragama kristen di KTP itu, tak pernah baca al-kitab. 

Pembatasan agama ini, membuat peran negara sangat berpengaruh terhadap pemeluk agama. Seringkali juga agama ini dijadikan komoditas politik yang ditarik ulur sesuai kebutuhan politik negara. Seringkali yang dituduh adalah oknum, namun secara institusi negara, Negara juga tidak bersikap cepat dan tegas dalam kerusuhan antar agama yang sering memakan korban. Tak bersikap, adalah bentuk dari pemihakan. 

Ada upaya mengilangkan poin agama dalam KTP, dan banyak yang pro kontra. Yang kontra dengan klise seolah merasa dengan hilangnya data administratif itu akan menyebabkan hilangnya jumlah manusia yang beragama. Tapi begitulah Indonesia, begitu mudahnya di provokasi oleh isu agama. 

***

Sangat sulit memahami bidang kebebasan beragama dalam department state US saat diberi kesempatan berkunjung dan berdiskusi langsung dengan mereka di Washington DC. 
Amerika serikat di mata masyarakat Indonesia kadung di cap negara sekuler, dan aku sempat berfikir kalau negara sekuler tidak perlulah mengurusi agama. Tapi ternyata tidak. Amerika serikat memiliki bidang khusus yang memastikan kebebasan memeluk agama diterima oleh setiap warga negaranya. 
Jadi bedanya dengan Indonesia, Amerika tidak dengan saklek kaku membatasi 5 jenis agama yang boleh ada di negaranya. Tapi boleh agama apa saja...bahkan membuat agama sendiri. Tapi ada aturan undang-undang yang tidak boleh dilanggar oleh agama tersebut, seperti tidak boleh poligami. agama Mormon, dan agama Islam jika berpoligami, tidak boleh berada di negara ini. 

Pemerintah AS tidak mendanai dibangunnya fasilitas ibadah apapun, namun perizinan tetap disediakan, karena pemerintah AS juga dipermudah kerja-kerjanya dengan adanya kegiatan-kegiatan sosial oleh pihak lembaga agama. 
Jika membangun rumah ibadah, prosedurnya sama di setiap agama apapun, dan saat beribadah bangunan tersebut tidak boleh menganggu kenyamanan lingkungannya. Itulah sebabnya mesjid tidak boleh azan disini. Demikian gereja, tak terdengar loncengnya.

Nah...pekerjaan bidang kebebasan beragama ini adalah memastikan setiap warga negara bebas memeluk agamanya. Menarik penjelasan dari kedua penerjemah kami saat itu. Kata mereka, Amerika Serikat adalah daerah yang didatangi oleh berbagai jenis bangsa dan negera. Ada yang terusir dari daerah asalnya karena keyakinannya berbeda dengan mayoritas disana. Mereka datang berharap menciptakan dunia baru di Amerika, dunia baru yang bebas dalam menjalankan ibadah agamanya, bebas dalam berkarya, bebas dalam apapun. Dan ketika negara Amerika Serikat terbentuk, para pendirinya berharap tujuan utama mereka tetap terjaga. Karena itulah bidang Kebebasan Beragama ini menjadi penting, dan mereka promosikan ke dunia internasional. Maka tak heran, Amerika Serikat latah juga mengurusi Rohingya, konflik Syiria, dan lain-lain. Saat kunjungan kami disana, si Bapak menyatakan keprihatinannya yang lebih intens terhadap Rohingya, karena rohingya benar-benar sangat termarginalisasi, tak ada negara yang mau melindunginya. Soal Palestina...hmm..ada perdebatan cukup menarik disini, lain kali akan kuceritakan.

***

Aku jadi teringat buku Nucholis Majid dalam Islam Doktrin dan Peradaban. Disebutnya, bahwa komunis bisa disebut sebagai agama baru. Agama buatan manusia.Istilahnya saja yang berganti dengan ideologi, tapi sebenarnya pada prakteknya terdapat tipologi yang dengan agama-agama langit. Karena faktanya, ideologi tersebut punya buku (suci) yang jadi panduan, dan juga memiliki ritual-ritual dalam rangka menjaga doktrinnya tetap lestari. Komunis, sosialis, juga memiliki hal tersebut. 

Jika Komunis adalah agama, maka demokrasi pun sebenarnya agama baru bukan?. 

Di Amerika Serikat, sebagai negara yang sangat membanggakan demokrasinya, aku bisa lihat ritual-ritual yang kental tersebut. Seperti Capital building yang penuh dengan simbol rakyat. Dari ornamen hasil panen, lukisan para pejuang,  pilar-pilar, bentuk bangunan, tata kota ,semuanya demi menghayati peran rakyat. Setiap memulai pertandingan, adanya penghormatan terhadap bendera, pidato penghargaan terhadap tentara yang telah mengabdi, penghargaan klub olahraga terhadap fans clubnya. Semua adalah ritual, yang awalnya adalah bentuk penghargaan dan aktifitas untuk menghayati makna-makan sosial yang dijunjung tinggi kemudian diteruskan menjadi tradisi. 

Ya...'agama' besar Amerika Serikat adalah demokrasi, dan dibawahnya agama-agama lain diperbolehkan hidup berdampingan. Karena memang hanya 'agama' demokrasi itu lah yang mampu memberikan ruang bagi kebebasan agama. Tidak akan ditemukan, jika negeranya berdasar Kristen, Yahudi, atau bahkan Islam. 

Jangan coba-coba menghina agama lain, di negeri Amerika Serikat, jika ada yang tersinggung anda bisa dilaporkan dan segera diproses dalam hukum. Hal ini termasuk dengan membuat tindakan yang merusak simbol-simbol agama lain. FBI yang juga sempat kami temui, memiliki badan khusus yang segera membereskannya.

***

Kembali berbicara pada keberagama agama di Indonesia. Kita pura-pura tidak mau melihat ada masalah dengan keberagaman agama di negeri kita. Kian hari kian carut marut. Jika kita benar-benar mau merefleksi diri maka biang kerok dari konflik antar agama tersebut adalah kekuasaan, (bukan agama itu sendiri). Perhatikanlah konflik-konflik yang meletus seringkali terkait dengan pemilu, pilkada, pilkades, bahkan sampai ranah kompetisi ajang bakat di televisi.
Oleh karena itu, ada baiknya perubahan negeri ini ke depan adalah mencabut pengaruh agama terhadap negara. Biarlah agama dikembalikan pengaruhnya agar lebih memperkuat penganutnya masing-masing. Pencabutan pengaruh agama terhadap negara tidak akan merusak negara, jika agama benar-benar dipahami oleh setiap individu.

Pencabutan pengaruh agama terhadap negera tidak akan merusak agama. 
Toh agama tersebut memiliki Tuhan-nya masing-masing yang maha Kuasa tanpa harus dibantu oleh penguasa bernama Negara. 
Bagaimana?. Anda setuju?.
.